Ketika Adam Memberikan Apelnya Pada Hawa

:c.n.

Kita menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk akhirnya bersitatap. Dan tatapanmu seperti seekor singa lapar yang seolah-olah akan melahapku dalam semalam. Laki-laki. Penjahat kelamin. Ah, lagi-lagi kombinasi yang sialan itu. Melemparkanku dari rel kereta yang sedang kunaiki dan dalam hitungan jam dirimu berhasil menculikku walaupun tanpa meminta uang tebusan ke pihak manapun. Kau menyeretku ke tempat persembunyianmu dan di sana kita bertemu dua perempuan yang sama-sama kita kenal. Kita menyapa mereka yang sedang cukup terkejut. Dirimu membuka lagi satu botol bir setelah sekian botol kau habiskan sebelumnya. Meminumnya sedikit lalu menyeretku serta ke dalam kamarmu.

Di kamarmu, aku terpaku pada sekian judul buku dan mengingat kita yang sering bertukar puisi-puisi Neruda serta obsesi kita dengan Amerika Latin. Kau memagutku sementara aku teringat satu baris puisi Neruda. Aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai. Teringat Marquez. Cinta itu seperti kolera. Sama-sama membuatmu demam tinggi. Hidupku sedang gelap dan juga demam. Mungkin aku mabuk kata. Terlalu banyak kata-kata di kepalaku, sehingga sejenak kau pun bertanya dahulu. Apakah aku baik-baik saja?

Sepertinya aku mulai baik ketika aku akhirnya menemukanmu. Setidaknya satu hal itu membuat hari kelabuku terasa mulai menyenangkan. Ada semacam suntikan adrenalin dalam keberadaanku. Ada sesuatu yang mengendap dan membuat diriku dalam titik nyaman. Dan aku jatuh dalam pelukanmu. Rajahmu di lengan kiri seolah menyelimutiku untuk tidak bergerak. Diam dan benar-benar beristirahat.

Kita meledak di sekian kata dan kau menyodorkanku sebuah apel untuk kita makan setelah bercinta. Aku bertanya. Sejak kapan Adam memberikan apelnya kepada Hawa? Seolah-olah aku dibawa ke sebuah masa yang purba. Aku teringat sebuah candi. Lingga dan yoni yang berjajar dari asal mula manusia. Kita pernah melihat wujudnya di ibukota. Monumen-monumen yang dibuat presiden seumur hidup kita pada abad yang baru saja lalu. Ada semacam ekstase yang jatuh mengaliri nadimu, oh, di gua garba itu. Bahasa-bahasa kuno keluar dari mulutmu. Aku teringat aksara-aksara di sebuah kolam serupa susu. Aku mengeja kalamakara. Diajari seorang bengawan tua dari Barat.

Kita sama-sama pernah berada disini, kita sama-sama tidak berada disini. Segalanya menjadi wagu dan pecah di jalan-jalan. Seperti tutup-tutup botol yang bertebaran di sebuah jalan di kota ini, yang tidak pernah selesai kuhitung sebagaimana aku tidak pernah selesai menghitung bintang di langit Yogya yang kelam. Aku tengah mencoba membaca bintang-bintang. Kutemukan banyak formasi segitiga, segiempat, segilima dan segidelapan. Aku tengah membaca arah. Seringkali aku ingin pergi begitu jauh. Jauh-jauh sekali bahkan rasanya seperti membuang diri ke lautan dan tenggelam.

Rajah di nadi tanganku semacam menjadi pertanda, merah marun merona, akan awal dari segalanya. Menatapmu aku seperti tergerak untuk diam dan mencari pojokan untuk menyendiri. Ah, kita orang-orang lelah yang sebenarnya telah mengerti jalan-jalan sunyi berujung kesendirian itu dan tetap memilih untuk mengambilnya. Sedang apa sebenarnya kita disini, malam ini, kawanku? Dimana kita telah tinggal pada sesuatu dan meninggalkan sesuatu.

Kau seperti sebuah pemantik api berwarna merah menyala yang menerangi jalan yang abu-abu nyaris telah gelap ini. Kau berada di sebuah titik yang terletak dalam semesta untuk memancing apa yang akan datang. Maka datanglah ambruk ke dunia. Aku tersiksa bahkan menangis di kamar mandi pagi-pagi sekali. Mendentingkan gelas-gelas berisi anggur merah murahan bersama kawan-kawan terdekat. Berpelukan. Kehujanan. Hingga tenang sendiri. Aku tengah melepaskan apa yang selama ini seharusnya dilepaskan.

Di sebuah bukit bekas candi berwarna merah, subuh-subuh sekali, aku mengenangmu. Mendaki dan menghilang di hutan-hutan yang sama sekali tidak terletak di peta Jawa kontemporer. Aku seperti pernah, aku seperti sering, menapaki jalan-jalan begini. Batu-batu besar dan aku menjejaknya sambil mengingatmu. Di atas bukit itu sambil menatap Merapi yang terlihat sejajar kurang ajar dari tempatku berdiri, dunia telah berputar tanpa bunyi-bunyian dan kabut menyelimuti seluruh Yogya. Aku terhenyak. Rajahku berdenyut. Serupa jantung. Serupa alam. Sedetik itu aku merasa lenyap dan bayanganmu menggelap.

Tatapanmu seperti malaikat pencabut nyawa yang mengingatkanku akan jalan-jalan soliter. Gereja-gereja yang kosong di bukit-bukit yang tak kalah kosong. Kematian-kematian yang dingin. Koakan gagak-gagak hitam menggema di langit-langit yang sendu dan biru. Bau kematian begitu dekat. Segalanya sudah dekat. Terlalu banyak pertanda dan yang kesekian dibawakan oleh sosokmu. Sudah terlalu lama aku mencarimu hingga aku seringkali mengingatmu dengan satu rasa sendu. Apakah ingatan selalu membuat segalanya menjadi sendu? Aku termenung hingga ingin berhenti menghembuskan rokok. Sepertinya aku sudah terlalu lama terbakar menjadi abu.

Aku melihat segalanya terbelah dan pecah. Aku ingin langit jatuh menimpaku sesekali.

Kemunculanmu seperti dalam dongeng-dongeng dan aku tersisa untuk mengolahnya sendirian. Ah, takdir laknat ini seperti candu dan aku tengah dihisapnya hidup-hidup. Tengah kurangkum kata untuk merekam segalanya yang telah lalu, segalanya yang akan. Mungkin pada sekian kata telah muncul bau kelopak bunga mawar dan anggur-anggur yang ranum. Aku mengingat gigitanku pada apel yang kesekian yang kau berikan malam-malam. Dan tidak ada yang mengusirku dari Eden, hingga aku sendiri yang angkat kaki.

Ini sudah malam yang kesekian dan aku ingin bercerita mengenai gurun-gurun. Gurun-gurun kering dimana aku pernah mati dengan sekian luka di tubuh karena perang dan perang dan perang. Obsesi kematianku bahkan masih sama, berakhir dalam kunyahan burung-burung nazar. Terbang kembali ke langit. Tiga ribu tiga ratus tahun dan masih saja sama.Waktu dan bilangan adalah hitungan-hitungan pasti. Jika sudah sampai disini manusia terdengar aneh dan sedikit menyedihkan.

Di masa yang demikian bentuk hatiku telah remuk redam dan aku menjalani hidup dalam helaan nafas yang panjang. Kau berkata seandainya hati kita semua terbuat dari kardus sehingga tidak terasa menyakitkan. Pada banyak seandainya, semua orang berharap demikian. Aku ingin mengenangmu dalam semalam saja namun tak bisa.

Aku melihat kapal Nuh berbalik arah. Melihat dirimu di buritan. Berlayar di laut lepas, sendirian. Kata-kata telah lengkang, hengkang dari tubuhku dan berhamburan dimana-mana. Mantra-mantra telah kutorehkan untuk abadi dan kupanggil dewa-dewa untuk membuat duniaku gonjang ganjing tak karuan. Ternyata aku masih ingin tenggelam lebih dalam. Pada ingatan yang abadi yang bukan hanya milik diriku sendiri.

Dan aku masih melihat segalanya terbelah dan pecah. Andai saja isi-isi kepala bisa dibedah dan semuanya semudah mengangeni seseorang.

Yogyakarta, April 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s