#30harimenulis


Day 1: Wina, 14 Desember 2012

Tara

Kota ini menyambutku. Dingin. Bandara sebeku foto-foto bidikanmu yang murung dan sendu. Semuanya abu-abu. Emosiku bergradasi dan langit terasa akan jatuh dengan bintik-bintik putih. Jangan katakan salju akan turun malam ini, indra perasaku bisa ikut mati. Jatuh ke tanah dan pecah berserakan. Meleleh meresap ke dalam tanah.

Di atas pesawat waktu terasa begitu pelan sedangkan dadaku begitu bengkak dan terasa menderu. Aku kehilangan pegangan waktuku. Aku seperti baru saja melewati kiamatku sendiri, yang kesekian, sedangkan kiamat yang diramalkan banyak orang kabarnya bakal terjadi dalam tujuh hari lagi.

Aku teringat perkataan sahabatku, dua tahun lalu, kau tidak bisa mengontrol jalannya nasib. Kukira tujuh hari menuju kiamat akan kuhabiskan di tempat lain, tidak disini, tidak di kota ini. Yang menyimpanmu dan menyimpan memori ibuku. Apa daya, karena seminar menyangkut pekerjaanku, mendaratkan selembar tiket pulang pergi ke tempat ini. Aku seharusnya pulang pada pagi hari setelah kiamat.

Aku tak menyangka akan melewati kiamat dunia bersamamu. Walau aku tak begitu percaya bahwa kiamat itu akan terjadi begitu saja. Menjadi sebuah kiamat yang begitu teramalkan. Bagiku ramalan bukanlah sesuatu yang absolut. Hidup tidak lagi menarik jika semua terjadi sesuai dengan yang diramalkan. Bagaimanapun ketika aku memutuskan untuk pergi ke kota ini, aku sedang berjudi dengan nasib. Kiamat tidak kiamat, aku ingin menyaksikan peristiwa besar itu, di kota yang sama denganmu. Bahkan jika aku gagal menemuimu dalam hitungan tujuh hari, setidaknya jika aku mati atau tetap hidup, aroma udara yang kita hirup adalah sama. Kita menghirupnya bersama. Juga mungkin ibuku, di suatu waktu.

Kematian adalah sebuah ritual yang harus kita rencanakan dengan baik. Dengan berada disini aku jadi mengerti satu hal yang pasti. Jika aku akan mati, aku ingin berada di sisimu, melebur dalam partikel ledakan debu yang senyawa. Namun jika aku tetap hidup, aku hanya tahu satu hal yang lainnya, merencanakan kematian di kesempatan berikutnya, tetap dengan dirimu sebagai faktor X dan aku sebagai faktor Y. Kamu tahu bagaimana Tuhanku adalah Matematika dan aku tidak percaya agama. Aku lebih percaya pada cerita-cerita yang terlindap oleh waktu dan disimpan Kala.

Benar saja, aku melihat salju jatuh untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku hanya dipisahkan jendela kaca. Secangkir kopi hangat mengepul di hadapanku bersama segelas air. Air mataku menetes ke dalam gelas air. Aku tak pernah melihat kesenduan begitu indah dalam lanskap kota yang serba abu-abu. Serba kamu. Ah, ingatanku terseret kembali padamu.

Aku tahu.

Kau adalah satu-satunya alasan aku sekarang berada di tempat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s