Batara Kala di Teras Rumah

Bayangan itu datang dan teras rumahku terasa dingin dalam semalam. Konstelasi terbelah. Dunia yang pecah dan berjatuhan dimana-mana. Sementara orang-orang masih ramai melepas rindu yang belum tuntas. Memasrahkan diri dengan ketakutan demi ketakutan. Melemparkannya bagaikan bom waktu ke segala penjuru.

Aku menenggelamkan diriku di mata air di Utara. Hanya demi secercah pagi yang mulai jarang oleh terang yang benar-benar genap. Tidak ada yang benar-benar melaju di saat-saat yang penuh ketidakpastian. Nuansa Kala seolah dan seakan-akan telah menelan matahari, dan bumi hanya menawarkan hujan demi hujan.

Di teras rumah, ia melewati kami. Ketika anakku bermeditasi di pagi hari, aku tak melihat tanda-tandanya pada diri kami. Dalam lingkup ruang suci di tengah rumah, kami terlindung di tengah semua gempita. Batara Kala menyapu di teras kami. Melewati malam yang tanpa rembulan.

Dari dadaku, aku mengeluarkan mentari dan kekasihku memelukku memberikan api. Hingga Kala pergi dan hanya menyapu teras kami.

Nyepi, 3 Maret 2022

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s