#30harimenulis

Day 26: Wina, 20 Desember 2012

Raka

Katrina, istrinya belum lagi pulang. Hari-hari lewat dengan rasa sepi yang menyengat. Ia seperti melewati krisis itu lagi. Rasa kehilangan diri. Rasa kehilangan pegangan. Ia tak lagi paham pemicunya. Apakah karena santernya berita-berita bahwa esok kemungkinan mengalami kiamat. Kiamat kecilnya adalah ketika ia tak lagi paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia tak peduli akan kiamat. Satu hal yang dimengertinya bahwa kematian akan selalu pasti.

Ia selalu merasa pada akhirnya ia dapat bersahabat dengan bayangan malaikat kematian yang menemaninya selalu. Bahkan terkadang ia merasa dapat berbicara dengan malaikat kematian melalui gambar-gambar yang diabadikannya. Rasa mengenai kematian selalu mengundang keheningan yang diam. Maka dari itu ia mengabadikan foto-foto kuburan dari berbagai tempat. Batu-batu nisan yang diam dan abu-abu.

Ketika vonis yang menyatakan dirinya positif datang, kematian entah mengapa terasa sedang menyentuh keningnya. Namun ia tak lagi cemas, tak lagi sedih. Hanya mengingat perempuan itu. Yang akan memberinya seorang anak. Yang menginginkan anaknya. Cuma keajaiban dalam semesta yang akan membiarkan segalanya terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s