#30harimenulis

Day 20: Wina, 14 Desember 2012

Kenneth


I’m still alive, Vivian.

Ya, aku masih hidup dan waktu mendaratkan aku kembali ke kota ini. Ke dalam ingatan-ingatan akan dirimu yang telah tiada. Aku masih merasa sendirian. Begitu sendirian semenjak kau lenyap dari pintu keberangkatan di Flughafen Wien. Segala cara sudah kucoba untuk mengusir rasa sepi yang menderaku.

Aku pun menikah dan punya anak. Tapi memori begitu kejam untuk tidak mengijinkan ingatan akanmu menghilang dan terhapus. Tidak pernah ada yang mengajarkanku untuk menghapus sesuatu dari kepala, selalu ada sesuatu yang membuat segalanya tidak terjadi secara sukarela.

Kau akan menghilang dariku pada momen di mana aku akan mati. Tiba di kota ini, segalanya menjadi lebih hidup. Vivid. Seolah-olah aku dapat menyentuhmu. Salju pertama jatuh dan aku melihatnya di kaca jendela bandara. Kaca yang memisahkanku dengan memori kota dimana jarak dan waktu tak ada lagi denganmu.

Aku melihatmu, duduk di kafe, meminum segelas kopi dan aku ingin menghampirimu. Jika segalanya sebegitu nyata. Aku ingin menangis. Entah karena sosokmu atau salju pertama yang jatuh ke tanah. Pecah berserakan serupa hatiku yang kehilanganmu. Selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s