#30harimenulis

Day 10: Yogyakarta, 27 November 2006

Raka

Ia seorang laki-laki yang irit kata. Bicara hanya dengan mata. Juga kamera. Hidup untuk merekam dan terbang seperti angin. Kadang datang dan kadang hilang. Singkatnya hidup. Abadinya memori.

Keindahan baginya terletak pada rasa-rasa soliter yang tak lagi menyiksa namun tenang. Rasa diam yang nikmat. Rasa tegak dengan bumi.

Ketika suara perempuan itu nyaris pecah di ujung telpon. Ia hanya menjawab dengan pendek. Ingatan yang panjang. Pertemuan yang singkat. Hanya makna bicara. Seperti bagaimana kekosongan selalu bicara pada foto-foto yang diambilnya.

Ia yang juga mengingat dengan rajah. Sebagaimana perempuan itu mengingat kematian ibunya dengan rajah. Ia merajah kedua orangtuanya di dada. Membawa segalanya kemanapun ia pergi. Rasa kemiripan itu. Rasa nomaden yang abadi. Memaknai hidup dalam perjalanan. Hidup adalah jalan itu sendiri. Kematian adalah titik transit ke pemaknaan yang lain.

Belantara. Gurun Pasir. Padang Rumput. Tebing. Sungai. Pantai.

Juga gunung-gunung. Tinggi. Tinggi sekali. Salju abadi. Kebekuan sekaligus ketenangan yang dicari semua mahkluk. Untuk tidak lahir kembali.

Apakah ini hidupnya yang terakhir? Apakah akan sebegitu pendek? Atau sebegitu lama? Dia tak begitu peduli. Ia memaknainya dengan mata. Untuk lebih bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s