Ada Bianca di Wonderland


:hadiah ulang tahun keduapuluh untuk Bianca Timmerman

Gadis kecil Cina itu seperti kelinci. Putih. Senang kawin dan tentu saja dia lucu sekali. Namanya Bianca dan dia bukan siapa-siapa di Wonderland. Tetapi dia muncul disana, mari kita bergeser dari Alice yang masih minum teh dengan cangkir porselen, adegan yang sama dan membosankan. Mari kita melihat apa yang sedang Bianca lakukan. Dengan baju yang sama dengan Alice, namun gaunnya berwarna ungu janda, celemeknya berwarna putih bersih, stokingnya berwarna hitam transparan dan sepatunya hitam mengkilat. Lalu tentu saja dengan bando telinga kelinci putih menghiasi rambutnya, bukan bando hitam membosankan seperti Alice. Ah, dia lucu bukan?

Bianca sedang berada di taman bunga Wonderland. Memetiki bunga-bunga aster berwarna kuning. Sambil bernyanyi-nyanyi riang gembira. Lirik-lirik lagu β€œGang Kelinci” oleh Lilis Suryani mengalir dari mulutnya. Dari bibirnya yang berwarna pink. Basah, lezat dan menggoda banyak orang. Laki-laki dan juga perempuan.

Bianca melirik pada para lelaki yang telah mengelilinginya. Memilih satu di antara mereka, memberikan mereka satu buket bunga aster kuning. Lalu melompat ke atas laki-laki itu. Scene berikutnya hanya dipenuhi dengan hujan bunga aster di udara. Di tempat dimana mereka berdua bergumul, rumput-rumput liar yang mengitarinya menundukkan kepala karena malu. Tanah dimana mereka terbaring membentuk kepala kelinci jika dilihat dari atas helikopter. Dasar, Bianca si Kelinci Cabul!

Setelah kenyang dengan lelaki itu, ia kabur melompat-lompat mengelilingi Wonderland. Sambil membawa boxer laki-laki berwarna pink najis itu untuk dibuangnya ke sungai terdekat. Lelaki yang malang itu hanya tercekat, pasrah akan nasibnya dan pulang ke rumah untuk menangis habis-habisan karena perlakuan Bianca, sambil memakai rok rumput ala Hawai yang bisa dirajutnya di taman bunga sebagai pengganti celananya yang telah hanyut. Bianca hanya tertawa nakal dan pergi melompat-lompat.

Dilompatinya meja dimana Alice sedang minum teh bersama mahkluk-mahkluk yang menganggap dirinya penting di Wonderland. Alice sampai tersedak cangkir karena kaget. Bianca tertawa nakal untuk kedua kalinya. β€œMakan tuh cangkir porselin Cina murahan!” katanya. Cangkir-cangkir porselin Cina milik ibunya jelas jauh mahal daripada yang mereka gunakan. Ratu Hati langsung berdiri, mencak-mencak memerintahkan semua pengawalnya untuk menangkap Bianca dan memenggalnya disitu. Bianca melompati kepala semua pengawal sampai mereka semua terpental terbawa angin. Dan terakhir tentu saja melompat di atas kepala Ratu sombong itu, mengacak-acak rambut sasaknya yang tidak berselera itu. Lalu kabur tidak terkejar. Bianca terbahak. Sukses berat merusak acara minum teh mereka yang membosankan.

Sebenarnya Bianca tidak nakal-nakal amat. Bianca β€˜kan hanya cabul saja dan tentu saja cita-cita Bianca cuma satu: mencari perempuan senakal Bianca dan secantik Tante Fiona Apple. Bianca sekarang kabur sambil nyanyi lagu-lagu Fiona Apple. Oh, Tante Fiona yang menggiurkan, teriak Bianca dalam hati. Tiada bisa saya melupakan Tante, katanya lagi.

Bianca terus melompat-lompat sampai jauh sehingga ditemukannya tiga pintu warna ungu janda di tengah-tengah hutan Wonderland. Bianca tidak memiliki kuncinya. Alice memiliki kuncinya. Tapi, aha, dikeluarkannya linggis dari kantong celemek ajaibnya. Dibongkarnya setiap pintu dengan paksa, hingga rusak semua engselnya. Bianca tidak menemukan apa-apa di ketiga pintu itu. Padahal sedikit banyak Bianca telah berharap minimal ia akan menemukan Tante Fiona di baliknya.

Seekor kucing berwarna oranye menegurnya dan menanyakan Bianca, ia hendak kemana. Bianca benci kucing, apalagi yang tersenyum tak henti-henti seperti kucing gendut dan jelek itu. Dikeluarkannya peralatan menjahit dari kantong celemek ajaibnya. Dijahitnya mulut kucing itu sehingga tidak pernah terbuka lagi. β€œKucing najis!” maki Bianca sebelum kembali pergi melompat. Tak lupa, digantungnya kucing najis itu di atas pohon dengan terbalik. Dibuatkannya simpul mati pada ekornya di atas sebuah dahan yang tinggi. Kucing itu ditinggalkannya dalam teror yang berkepanjangan.

Bianca ingin ganti baju. Digantinya baju ungu jandanya dengan warna kuning gonjreng dengan sabuk hitam dan kuping kelinci hitam. Stocking dan sepatunya masih hitam. Celemek ajaibnya ia lipat menjadi tas putih kecil nan lucu. Bianca melompat-lompat dengan menyilaukan seisi Wonderland. Seisi Wonderland jadi demam penyakit kuning gara-gara Bianca.

Sungai pun berubah warna menjadi segonjreng baju Bianca. Kaya di Cina, pikir Bianca. Seperti di Cina pun, sungai itu membelah Wonderland dan sering banjir kemana-mana. Bianca jadi pingin jalan-jalan ke Tembok Cina. Bukan untuk berwisata, tapi meruntuhkannya pake palu godam. Bianca tidak suka tembok-tembok. Apalagi tembok sepanjang itu. Bianca berpikir untuk menyewa pasukan untuk meruntuhkan tembok itu. Membiarkan suku-suku nomad menyerbu Cina. Pasti menyenangkan. Bianca tertawa jahat. Hahaha. Si Putri Cina berwujud kelinci cabul.

β€œSiapa suruh raja gila yang suka bata murahan itu menjual saya ke suku nomad seperti barang rampasan?” maki Bianca. Untung orang-orang nomad itu baik. Mereka memperlakukan Bianca selayaknya putri beneran, bukan seperti orang-orang di kekaisaran yang penuh polesan. Ah, ingin dia bakar itu kekaisaran Cina. Biar saja hancur. Biar saja lebur jadi abu. Karena Bianca sudah lari dari sana. Dari neraka yang penuh kebohongan dan kemewahan semu yang serba tanggung.

Di Wonderland, Bianca hanya numpang, menendang Alice dari peran utama dan mengobrak-abrik alur cerita. Boro-boro minta ijin sama yang bikin cerita. Si penulis Alice dari Wonderland sudah ia bius pake klorofom dan diikatnya di pojokan kamarnya di Jakarta. Dijejalkan dalam peti rotan yang penuh guntingan baju-bajunya yang belum selesai. Bianca lupa memberinya makan dan minum. Ups. Ya, sudahlah penulis malang itu akan bertahan. Toh, Bianca cuma main-main di Wonderland sehari saja.

Bianca telah sampai ke lingkungan istana Ratu Hati. Dikeluarkannya gunting rumput dari kantung putihnya. Dikelilinginya kebun Ratu Hati. Diguntinginya setiap pohon kesayangan di kebun itu hingga berbentuk kelinci. Lalu dicatnya semua dedaunan dengan warna-warna paling gonjreng sedunia. Bianca serasa berada di tahun 60an. Tahun yang penuh warna-warna. Kebun Ratu Hati yang segonjreng perasaan di hatinya. Ia memulai sesi pemotretan paling narsis yang pernah dilakukannya di kebun gonjreng itu. Setelah selesai, Bianca tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan membuat Ratu Hati depresi hingga nyaris ingin bunuh diri ketika ia jalan-jalan sore di kebunnya sore itu.

Bianca kembali ke taman bunga. Dikeluarkannya meja taman berwarna putih dan satu set porselin Cina milik ibunya dari kantung putihnya. Bianca mengatur pesta minum tehnya sendiri. Bianca bingung mencari teh rasa apa di kantung putihnya. Ngga ada yah teh beralkohol? Dengan putus asa dikeluarkannya teh melati. Dijerangkannya air panas. Oh, iya Bianca punya akal. Dibelinya satu botol anggur merah cap Orang Tua di warung terdekat. Dibuatnya teh melati super kental. Lalu dengan ciamik, ditakarnya satu sloki anggur merah dan tiga perempat teh melati kental. Tiada usah pakai gula, ntar diabetes lho. Disruputnya pelan-pelan. Aduh nikmat sekali!

Bianca memetik bunga lily dari dekat danau Wonderland. Ditaruhnya di atas vas bunga kaca yang agak tinggi di tengah-tengah meja taman itu. Disiapkannya sepasang kursi. Ya, Bianca menunggu seseorang datang. Siapa itu ya?

Dari kejauhan ada sosok yang muncul diterangi warna senja yang mulai oranye. Disruputnya teh melati anggur itu sedikit lebih cepat sehingga habis setengah cangkir. Sosok perempuan itu memakai baju merah menyala. Wajahnya belum terlihat karena Bianca merasa silau sehingga diambilnya kacamata hitam capung dari kantung putihnya. Masih tidak kelihatan. Sialan, kata Bianca. Siapa sih?

Perempuan itu menyanyikan lagu yang sangat dikenalnya. Omigod! Haleluya! Puji Tuhan! Ternyata itu Tante Fiona. Aduh, aduh, cantiknya. Bianca langsung ingin menelanjanginya. Air liurnya sampai menetes di atas cangkir, sampai cangkir itu jadi penuh lagi. Ih, dasar Bianca cabul!

Bianca taruh cangkirnya itu di atas meja taman. Bianca segera berlari ke arah Tante Fiona. Berlari dan berlari sekencang-kencangnya. Tante Fiona masih nyanyi-nyanyi. Seluruh taman bunga mekar dengan bunga mawar merah merona. Semerona pipi Bianca. Semerona baju Tante Fiona.

Ah, Bianca melompat ke arah Tante Fiona. Bianca loncat-loncat tak karuan. Tante Fiona tetap tenang,walau sampai jatuh terduduk. Di bawah senja. Bianca dan Tante Fiona bercinta. Selama. Lamanya.

Wonderland sudah tamat ceritanya gara-gara Bianca dan Tante Fiona. Ah, sutralah. Secara Bianca dan Tante Fiona hidup bahagia selamanya di Wonderland.

Hidup Kelinci Cabul! Hidup Fiona Apple!

~Fin~

Yogyakarta, 16 Desember 2006, 8.36 AM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s