Kematian Seorang Diktator

Saya membayangkan bulan Mei 1998. Pekat hitam di jalanan. Asap hitam. Kekerasan. Perkosaan. Pembakaran. Penjarahan. Teriakan-teriakan. Suara-suara tembakan. Semua dan segala jenis kekacauan.

Saya membayangkan bulan ini, Oktober 2011. Diktator yang tertangkap di gorong-gorong. Diseret paksa. Ditangkap massa. Dipukuli. Ditembaki. Disodomi. Tangisannya tak didengar. Pembunuhannya disiarkan dengan gempita kepada dunia melalui layar ponsel. Mayatnya menjadi latar belakang foto bersama. Dipertontonkan di kulkas pendingin bersama bekunya daging dan bau pasar. Membiru, busuk dan gelap.

Pandangan saya menggelap. Mungkin inilah yang dinamakan karma. Semuanya mendadak terlalu sureal.

Saya membayangkan lagi, seandainya tiga belas tahun yang lalu, kita semua menggantung Suharto. Memburu semua anak-anaknya dan memberondong semua yang membelanya. Mempertontonkan mayatnya dan berfoto bersama di depan mayat-mayat mereka.

Saya tidak tahu apakah kebencian yang mendalam membutuhkan piala kemenangan. Apakah kebencian yang teramat sangat menjadikan kita kumpulan binatang yang perlu memamerkan semua piala mayat-mayat para musuh kita. Memperlakukan mereka bagai sampah dan menyorakinya dengan girang.

Saya teringat lagi 1965, kita pernah menjejerkan kepala-kepala orang-orang yang dianggap komunis di jalan-jalan. Memacung dan membiarkannya sebagai peringatan. Menghilangkan dan membuang paksa mereka semua ke dalam ingatan kelam sejarah bangsa ini. Sungguh celaka ketika saya tidak meragukan kapabilitas kita sebagai manusia untuk melakukan kekejaman yang sama.

Saya bertanya-tanya apakah kejahatan kemanusiaan yang dilakukan seseorang menjadi begitu besar dan kejahatan yang sama layak diperlakukan kepadanya? Apakah keadilan ketika seorang diktator mati tua tanpa diadili ataukah lebih adil ketika kita merayah dirinya bersama-sama? Apakah dendam selalu menjadi pembenaran dalam sejarah kemanusiaan kita? Bahwa kekerasan adalah jalan. Bahwa kekerasan adalah penyelesaian. Saya mencoba mengerti, apakah daya seseorang ketika pilihan atasnya adalah hanya membunuh atau dibunuh? Apakah ribuan tahun peradaban kita tidak pernah menghasilkan pilihan-pilihan yang lebih bijak? Saya mendengar Darwin tertawa di benak saya.

Tiba-tiba saya tidak tahu lagi harus menaruh rasa sesak yang membuncah di dada saya. Tidak. Saya tidak menangisi Qaddafi. Saya juga tidak menangisi Suharto. Saya menangisi pertanyaan-pertanyaan yang menusuk mengenai keadilan ketika kekerasan menjadi jalan. Dan saya lebih menangisi dunia yang membiarkan itu semua terjadi.

Ditulis 9 tahun yang lalu. Didokumentasikan hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s