Sekian Doa dan Rajah di Pantai Selatan

Satu tahun setengah yang lalu, berupa cita-cita ketika dirimu mengatakan pada sebuah purnama bahwa peralatan ritualmu tertinggal di altarku. Maka hanya bunyi bel berdentang untuk kepulanganmu yang pertama.

Pada laut, kita semua berpulang. Aku selalu melihat sosok-sosok yang tua dan lama bermunculan pada malam-malam gelap di tepi Pantai Selatan. Dimana kita semua menjadi sederhana dan bersaudara mesra di bawah semesta.

Sekian mantra dan rajah bergema di malam yang tak berbulan dan senyap. Deru ombak seolah melahap doa-doa dan berkah seolah mengalir sepanjang samudra. Begitu kuatnya malam yang itu ketika segalanya kembali pada perjalanan jiwa yang kesekian.

Namun beginilah, di pantai itu kau memasuki ruang tapa mingguan. Menghentikan segala. Gunung dan serakan gundukan batu-batu tanah leluhurku terserak dan terjelajahi di minggu sebelumnya.Β 

Aku hanya mengerti bahwa waktu adalah yang paling berharga untuk saat ini. Bahwa keberadaanmu adalah dimana sujudku berada dalam banyak peristiwa.

Pada nafasmu, aku berdoa, untuk banyak waktu, pada yang lampau dan untuk kesekian kesementaraan yang ke depan.

Di sekian malam, bodhisatva-bodhisatva menyala di pinggiran laut, agar yang suci kembali pada yang suci. Agar yang sakral kembali menyala dan terjaga.

Air laut kembali mengenai garis lututku. Dan pada ibu yang maha, semuanya tersucikan bagai rahimnya yang paling Agung.

Parangkusumo, 22 January 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s