#30harimenulis

Day 27: Nairobi, 28 September 2010

Kenneth

Email balasan dari Tara sampai di inboxnya. Panjang sekali. Ia sambil tak kuasa mengutipnya. Tak kuasa membacanya. Tak kuasa mengingat. Tak kuasa membalas apa-apa.

Mungkin terimakasih akan menjadi sesederhana sebuah ungkapan. Perasaan menyayat yang menderanya, yang jika muncul akan diingatnya sepanjang waktu. Sampai pada hari ia mati.

Ia merasa aneh membaca email Tara. Bagaimana putri Vivian memaafkan dan mengerti semua perasaannya pada Vivian, bahkan ketika ia belum bercerita apa-apa. Sejenak ia merasa putri Vivian jugalah putrinya. Itu adalah sebuah perasaan yang aneh. Kesadaran yang membuat dirinya menghela nafas sejenak.

Kelegaan pada dirinya meruap. Ia tiba-tiba ingin berada di jalan-jalan kota Wina, hanya untuk mengingat dan mungkin tersenyum.

#30harimenulis

Day 26: Wina, 20 Desember 2012

Raka

Katrina, istrinya belum lagi pulang. Hari-hari lewat dengan rasa sepi yang menyengat. Ia seperti melewati krisis itu lagi. Rasa kehilangan diri. Rasa kehilangan pegangan. Ia tak lagi paham pemicunya. Apakah karena santernya berita-berita bahwa esok kemungkinan mengalami kiamat. Kiamat kecilnya adalah ketika ia tak lagi paham apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia tak peduli akan kiamat. Satu hal yang dimengertinya bahwa kematian akan selalu pasti.

Ia selalu merasa pada akhirnya ia dapat bersahabat dengan bayangan malaikat kematian yang menemaninya selalu. Bahkan terkadang ia merasa dapat berbicara dengan malaikat kematian melalui gambar-gambar yang diabadikannya. Rasa mengenai kematian selalu mengundang keheningan yang diam. Maka dari itu ia mengabadikan foto-foto kuburan dari berbagai tempat. Batu-batu nisan yang diam dan abu-abu.

Ketika vonis yang menyatakan dirinya positif datang, kematian entah mengapa terasa sedang menyentuh keningnya. Namun ia tak lagi cemas, tak lagi sedih. Hanya mengingat perempuan itu. Yang akan memberinya seorang anak. Yang menginginkan anaknya. Cuma keajaiban dalam semesta yang akan membiarkan segalanya terjadi.