Ia yang Dapat Memanggil Ikan

Anda akan segera dapat mengenali Eliza Kissya, dengan baju hitam-hitamnya dan aksen warna merah yang selalu dipakainya sehari-hari. Anda juga dapat langsung mengenali tas ukulele yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi. Ia selalu memakai topi untuk menutupi kepalanya yang sudah tak berambut. Semua orang memanggilnya Om Eli.

Ia menjadi malu ketika ditanya untuk menuliskan namanya karena pengejaan yang seharusnya Elia menjadi Eliza.

β€œOrang-orang selalu berpikir saya ini perempuan sebelum bertemu saya.”

Eliza Kissya adalah Kewang (polisi adat) Haruku di Maluku Tengah. Ia adalah generasi keenam dari Kewang Haruku. Ia juga dikenal sebagai sang pemanggil ikan.

Tradisi Haruku dibagi menjadi Sasi Laut, Sasi Kali, Sasi Hutan, Sasi Dalam Negeri. Ada Sasi khusus yang bernama Sasi Lompa (ikan sejenis sarden kecil yang hanya ditemukan di Haruku). Sasi adalah larangan untuk mengambil sumber daya alam agar terjaga kualitas dan populasinya (binatang atau tanaman) bagi orang-orang Haruku. Sasi juga mengatur relasi manusia dengan alam dan di antara manusia di wilayah dimana Sasi dipraktikkan. Sasi adalah sebuah usaha untuk membagi dengan adil sumber daya kepada semua orang.

Sasi Lompa adalah larangan tradisional untuk mengatur keberlangsungan ikan Lompa. Hanya seorang Kewang seperti Om Eli yang dapat memanggil ikan Lompa dari laut untuk memasuki sungai mereka, Sungai Learisa Kayeli. Biasanya mereka panen satu atau dua kali dalam setahun, melalui ritual dan berbagai larangan untuk menjaga populasi ikan Lompa. Panen terakhir mereka dilakukan di tahun 2009. Saat ini dikarenakan oleh perubahan iklim dan pemboman ikan, muara menjadi tertutup. Terlalu tinggi untuk ikan Lompa dapat masuk ke sungai.

Selama bertahun-tahun, Om Eli telah berjuang melawan pengrusakan alam di wilayahnya. Ia telah menjaga dan menjadi penjaga lingkungan hidup di Haruku. Berdasarkan kerja-kerja yang dilakukannya Haruku meraih penghargaan Kalpataru untuk Lingkungan Hidup di tahun 1985, desanya meraih Satya Lencana untuk Pembangunan Berkelanjutan di tahun 1999 dan dedikasi personalnya meraih Coastal Award 2010.

Eliza Kissya dilahirkan di Haruku pada tanggal 12 Maret 1949, ayahnya adalah pegawai negeri sipil di Sukabumi, Jawa Barat. Ketika ayahnya meninggal, ibunya berjanji untuk membawa anak-anaknya kembali ke Haruku. Seharusnya kakaknyalah yang menjadi kewang, namun karena kakaknya telah menjadi sekretaris desa maka warga desanya memilihnya untuk melanjutkan tradisi menjadi kewang. Ia menjadi kewang di usia dua puluh satu tahun.

Adalah masa-masa yang sulit baginya untuk mempelajari segalanya dari para tetua adat, namun hal ini tidak menghentikannya untuk terus belajar dan mengembangkan metodenya sendiri dalam menjaga lingkungan Haruku. Hal terberat dalam tugasnya menjadi kewang adalah bahwa tidak adanya pengakuan dari negara mengenai hukum adat di wilayahnya. Ketika UU Desa No. 5 – 1979 diperkenalkan oleh Orde Baru, norma dari sistem masyarakat adat diabaikan dan mulai lenyap. Generasi muda tidak peduli lagi mengenai hukum adat. Sulit baginya untuk membayangkan siapa yang akan meneruskan tradisi Haruku jika ia tidak lagi ada.

Om Eli tidak menyerah, ia mendirikan β€œKewang Cilik” di desanya. Mengumpulkan anak-anak kampung termasuk cucu-cucunya sendiri. Membuat sebuah pusat pembelajaran kecil-kecilan dimana mereka dapat bermain sambil belajar bagaimana menjaga lingkungan dan mengapa adalah penting bagi mereka untuk mengerti kearifan lokal mereka sendiri.

Di tahun 2006 ketika penambangan emas mengancam daerah mereka untuk kesekian kalinya dan ketika para pejabat datang untuk menegosiasikan perihal ini, anak-anak SD menulis di poster mereka sendiri berkata:

Kami Ingin Mati Di Tanah Kami. Tolak Tambang Emas!

β€œSaya mencintai anak-anak dan cucu-cucu saya. Saya rela untuk mati demi mereka. Ini adalah mengapa saya tetap terus memperjuangkan kelestarian tanah dan adat kami,” tegas Om Eli.

β€œAnak-anak kita dan generasi ke depan adalah harapan dan masa depan, adalah penting bagi mereka untuk memiliki kesadaran akan alam dan sejarah mereka sendiri,” ia menambahkan.

Alasan inilah yang menjadi motivasinya pada waktu-waktu tergenting ketika ia berjuang di pengadilan atau menghadapi kasus-kasus yang mendorong pada keterbatasan dirinya. Seringkali bahaya mengancamnya karena ia menghadapi persoalan-persoalan ini secara langsung.

Kasus seperti pemboman ikan membuatnya bingung untuk mengambil keputusan dan tindakan. Ketika ia menangkap seorang pembom ikan dan membawanya ke pengadilan, hal ini dapat menyebabkan konflik antar desa, apalagi pasca konflik Maluku ketika segalanya menjadi sangat sensitif. Tetapi ia juga tidak bisa membiarkan pembom ikan pergi begitu saja, ia menjadi serba salah. Namun pada akhirnya Om Eli berhasil menemukan sebuah jalan dengan memberi ternak kepada keluarga pembom ikan sehingga mereka dapat menghidupi diri mereka sendiri tanpa membom ikan lagi. Bagi Om Eli menjaga keseimbangan di antara manusia sama pentingnya dengan menjaga keseimbangan alam. Isu-isu lingkungan seharusnya memasukkan faktor-faktor manusia sebagai bagian dari kesatuan alam.

Pasca konflik Maluku, Om Eli menjadi relawan dalam proses rekonsiliasi. Desanya dibakar sampai rata dengan tanah. Ia mengumpulkan semua orang yang tersisa dan berkata bahwa menyimpan dendam adalah sia-sia, lebih baik berdamai saja. Ia membuat kaus-kaus dan tas-tas yang bertuliskan:

β€œAle Rasa, Beta Rasa. Semua Orang Bersaudara.”

Ia menyebarkan kampanye perdamaian di wilayahnya, mengumpulkan komunitas-komunitas di Haruku untuk membangun hidup bersama kembali. Ia menulis lagu-lagu perdamaian dan bernyanyi bersama dengan semua orang:

Satu kandung
Satu hati, satu jantung
Hidup adik, hidup kakak
Ale rasa beta rasa
Satu dua satu kandung
Kandunge siyo kandunge
Mari beta gendong
Beta gendong adek jua
Kitong orang bersaudara

(Eliza Kissya)

Pada usia enam puluh tiga tahun, dengan ukulele buatannya sendiri yang dibuat dari kayu Pule, ia mulai menulis pantun dan menyanyikannya. Ia menyimpan ratusan pantunnya di sebuah buku catatan. Seringkali ia berpantun dalam pembicaraannya. β€œSaya terberkati dalam usia begini masih bisa belajar sesuatu seperti menulis pantun,” kata Om Eli. Ia bermimpi suatu hari dapat menerbitkan buku kumpulan pantunnya sendiri.

Dedikasi seorang Eliza Kissya tidak dapat diukur, sehari setelah infusnya dicabut sekeluarnya dari rumah sakit, ia menghadiri Kongres Masyarakat Adat IV di Tobelo, Halmahera Utara.

β€œSaya mungkin hanya seorang cangkul kebun, tetapi saya punya prinsip hidup. Dan karena itu saya telah berjuang sepanjang hidup saya.”

 

 

*tulisan ini diterbitkan atas wawancara personal saya dengan Eliza Kissya untuk publikasi media AMAN, saya suka memanggilnya Om Eli. Versi Bahasa Inggris pernah diterbitkan di Jakarta Globe dengan judul: Eliza Kissya, The Man Who Can Summon The Fish, edited by Dalih Sembiring.

Advertisements

2 thoughts on “Ia yang Dapat Memanggil Ikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s