Semangat padi
Nyanyian bunga
Bersatu dalam roh dupa
Dua hati satu jiwa, tulus
Napas demi napas
Lahir dalam napas

“Hitam Putih, Malam-malam Kerinduan Swami Beserta Hormat dan Cintaku kepada Ibu-Bapak di Desa Pelukis yang Petani, Indonesia”
Β© Leo Kristi, Nyanyian Tambur Jalan (1977)

Berharap, seperti Rendra dalam sajaknya, bahwa kemarin dan esok adalah hari ini; langit di luar, langit di badan, bersatu dalam jiwa. Walau kutahu, sabbe sankhara anicca. Pun langit dan jiwa kami.

Langit di luar tampak cerah, tapi tidak langit di badanku. Pesawat telah lepas-landas semenjak beberapa menit yang lalu, meninggalkan Bandara Tribhuvan yang tidak pernah sempat menghela napas sedetik pun lantaran kesibukannya. Aku pulang, Nik. Meninggalkanmu, sebagian dari diriku. Sambil memandangi gumpal-gumpal kapas putih yang bergulung-gulung menebal di kaki Pegunungan Himalaya, aku duduk termangu di sisi jendela pesawat. Ruang kepala terasa kosong dalam pendar-pendar warna monokromatik. Hitam, putih, dan kelabu. Ngelangut sekali, serasa ada yang hilang dari sisi. Di atas pangkuanku masih terbaca jejak-jejak goresanmu pada secarik tissue putih : β€œ…manakah yang lebih banyak, air yang ada di dalam keempat samudera atau air yang kau tumpahkan ketika tersesat dan bertualang dalam ziarah panjang ini, sebab yang menjadi bagianmu adalah yang tidak kaucintai, dan yang kaucintai tidak menjadi bagianmu?”

Β© Kris Budiman, Lumbini. Yogyakarta & Bandung: Jalasutra, 2006, pp. 103-105.

sometimes i love and hate the lines that takes me thinking of you, between the hills, that one particular sunset, and set everything away…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s