PRIBUMI SIPIT

Saya ingat benar kata-kata Ayah saya sewaktu saya masih kecil,

“Mata kamu kaya cendol.”

Ayah saya benar, mata saya lucu kaya cendol, ia berbinar mengatakannya karena saya adalah putri kesayangannya.

Ayah saya kulitnya hitam seperti buah manggis, rambutnya keriting, di tahun 70-an foto-fotonya menunjukkan jejak tren rambut Afro dan tak lupa celana cutbray. Kadang orang menyangka dia berasal dari Indonesia bagian Timur. Orang yang menilai hanya pada permukaan saja sering berpikir ia adalah supir saya ketika ia mengambil rapot saya di sekolah. Mereka tidak sepenuhnya salah, dia memang sering menyupiri saya ke sekolah, tapi ia adalah ayah saya. Saya adalah darah dagingnya.

Ayah saya terlahir sebagai Ong Thwan Sing, di Sragen, Jawa Tengah di paruh akhir masa-masa kolonial Belanda. Panggilan kesayangannya adalah Wimpi, karena Eyang putri saya didikan Belanda. Ayahnya separuh Jawa dan separuh peranakan Hokkian, marga Ong, diaspora Cina di seluruh dunia menyebutnya marga Wang. Kami berasal dari garis istri Jawa. Kami tidak tahu kami generasi keberapa. Eyang saya dikenal sebagai Onggosutrisno, keturunannya memanggil dia Eyang Cinta.

Saya cuma pernah dapat satu lembaran garis pohon keluarga Eyang saya, yang semuanya cuma mencantumkan nama laki-laki, dan usaha saya mencari pohon keluarga putus di situ. Mereka berhenti di pesisir Surabaya. Entah tahun berapa, entah kapal yang mana. Entah dari pesisir Fujian atau Fukien yang mana, atau terhempas lalu dari Laut Cina Selatan untuk mencapai Pulau Jawa. Entah karena apa, yang pasti jelas adalah untuk melanjutkan hidup atau bertahan hidup.

Pendidikan akademis saya adalah sejarah. Saya ingat kata-kata sebelum saya masuk UGM, betapa sinisnya keluarga bapak saya yang dominan lebih mengaku Tionghoa daripada Jawa.

“Mau apa belajar batu?”, walaupun saya tahu itu adalah jurusan arkeologi atau jurusan yang dekat dengan fantasi masa kecil saya ketika ingin menjadi Indiana Jones, saya memilih diam.

Atau yang kasar seperti, “Memang Cina bisa masuk negeri?”

Saya menelan komentar itu sambil mengerjakan soal UMPTN. Saya tahu mereka masih trauma atas kerusuhan terhadap Tionghoa di Solo juga Jakarta pada tahun 1998. Tapi saya adalah generasi peranakan yang lain. Dan saya lolos baik UGM dan ISI di tahun 2002.

Keluarga kami memang aneh, memasuki jaman Orde Baru, ibu saya mungkin salah satu dari sedikit orang peranakan Tionghoa yang mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi negeri. Ayah saya pun. Kami bertahan hidup dengan gaji pegawai negeri selama bertahun-tahun dan harus tambal sulam sana sini.

Ibu saya berasal dari keluarga Tan keturunan Cina Belanda dan juga Sunda dari Oma saya yang asli Sukabumi. Di keluarga kami tak ada yang bisa bicara Mandarin. Semuanya ngomong Belanda. Baru sekian tahun ini saya tahu istilah siapa kami, Hollandspreken Chinese. Kebanyakan keluarga kami tidak pernah terjun di bisnis. Kebanyakan adalah profesional seperti dokter gigi, administratur, akuntan, guru dan lain-lain. Istilah kasarnya Cina Gak Punya Toko.

Saya sering dibilang Cina Murtad oleh kawan-kawan baik saya, karena saya sama sekali tidak paham budaya Cina. Casing doang Cina, begitulah adanya guyonan mereka yang pekat akan kebenaran. Saya ingat betapa terbengong-bengongnya saya melihat pertunjukan barongsai pasca Gus Dur mendeklarasikan bahwa sekarang boleh merayakan Tahun Baru Cina. Saya baru menyadari saya punya darah Cina ketika Mei 1998 terjadi. Saya selalu mengisi formulir sekolah dengan mencentang kolom pribumi, saya tidak tahu apa bedanya. Saya begitu naif, ketika menyadari betapa signifikannya hal itu dan posisi saya dalam situasi perpolitikan sosial Indonesia.

Ketika saya mencapai daratan Cina pun, mereka berpikir saya terlalu hitam untuk orang Cina. Mereka pikir saya berasal dari Tibet. Cina pun terlalu luas dan juga terlampau beragam. Ini yang orang tidak pernah paham dan selalu menyamaratakan semua orang yang bermata sipit.

Jika saya harus memilih siapa leluhur saya, saya punya terlalu banyak pilihan. Saya adalah Indonesia. Saya kira saya adalah Indonesia sebelum Mei 1998 terjadi. Namun inilah usaha saya memahami sejarah saya dan darimana saya berasal. Saya adalah bagian dari sejarah Indonesia dan tetap Indonesia. Orang picik dan berpikiran sempit dimanapun ada, dari etnis manapun ada dan saya memaafkan ketidaktahuan mereka.

Persoalan terbesar sebenarnya ketika saya menghadapi mereka adalah saya hanya mengemukakan fakta bahwa perbedaan sekian keturunan pribumi di wilayah Nusantara ini, hanyalah masalah kapan migrasi nenek moyangmu terjadi, kapan kapal kami dan kapal kalian mendarat. Semua nyaris dari daratan yang sama dan semua ini ada di Mbah Google.

Jadi pelajarilah sejarah darimana kamu berasal dengan benar dan jangan langsung menafikan bahwa sejarah hanya milik sang pemenang. Ini penting!

Karena menjadi tetap bodoh dan bebal adalah sebuah pilihan.

Sudah sekian ratus tahun darah tercampur aduk di panci bernama Nusantara yang kemudian menjadi sebuah entitas sebuah bangsa Indonesia. Saya hanya akan tertawa akan komentar rasis seseorang terhadap saya. Atau hanya karena saya punya darah Tionghoa saya ga boleh jatuh miskin (ini pernah dilontarkan oleh seorang pengemis yang masih sehat bugar dan saya sedang bertahan hidup menghidupi anak saya dengan kasbon di warung tetangga terdekat, saya beneran ga punya receh di siang yang naas itu, saldo rekening di bank nyaris nol dan kalaupun ada receh saya tabung untuk beli beras di masa krusial itu).

Sekarang saya sudah lebih bisa memeluk identitas saya, kesipitan mata cendol saya dan bangga akannya. Saya bangga akan semua keberanian dan cara bertahan hidup semua nenek moyang saya untuk sampai ke Nusantara. Dan bagaimana kami mencintai tempat dimana kami semua dibesarkan dan pada akhirnya berakhir, menjadi bagian dari debu di tanah ini.

Saya tengah mengajari anak saya yang separuh Bali, sekian keragaman ini dan membawa dia ke kelenteng sejak dia berumur 2 tahun. Bukan seperti saya yang baru masuk kelenteng ketika ibu saya sudah meninggal. Dan mempelajari semuanya sendirian. Saya pun sedang mengenal lagi leluhur Tionghoa saya. Dan kami sedang sama-sama belajar sejarah keluarga kami.

Ya, saya masih Indonesia, masih manusia dan warga dunia.

 

Salam Pribumi Sipit ✌️❤️

Sebuah surat untuk sang Nenek: Tethyst (1)

:Oma Leni Tanukusumah dan semua perempuan yang dituakan, demi para mamak tua dan demi Tethyst

Setua-tuanya perempuan, Nek. Kau adalah yang tertua. Yang paling kuno bahkan. Dan kau adalah satu-satunya nenek yang kupunya. Dan di antara segala cinta dan benci, di puncak sisa Laut Tethyst yang tertualah, aku mendoakanmu. Tepat di gerbang Annapurna, yang juga mengingatkanku pada kelimpahan semua rasa masakan yang pernah kau masak seumur hidupmu. Demi satu alasan: cinta. Filosofimu sederhana. Makanan adalah cinta dan hatimu adalah dapur yang mengepul. Hanya itu satu bentuk cinta yang kau tahu. Satu-satunya.

Dan di 89 segalanya berakhir, dengan sedikit pahitnya patah hati. Juga patah kaki.

Ah, Oma, semoga segalanya berakhir baru dan segala yang pahit akan berputar demi kebaikan dalam sekian roda kehidupanmu yang akan datang.

Bercak merah cahaya membawamu ke gerbang surga, menandakan naiknya ruhmu kembali ke langit. Aku melempar buah-buahan kering, padamu, pada opa, pada bapak ibuku. Dan di antara derap salju di wajahku hari itu, pada nenek tertualah, aku menyembah sujudku. Pada empat penjuru. Pada kakang kawah adi ari ari sedulur papat limo pancer. Di pusatlah aku menjejak. Antara Tethyst dan Cimmeria.

Om Tare Ture Tuttare Soha

Himalaya adalah sebuah satuan gunung yang terus menerus tumbuh dari masa ke masa. Himalaya adalah salah satu sisa laut yang tertua. Laut kuno di antara Gondwana dan Laurasia. Apalah jadinya jika gunung tertinggi macam Everest aka Sagarmatha aka Chomolungma puncaknya tak pernah benar-benar pasti ketinggiannya. Para summiters mengetahui dengan pasti bahwa kadang puncak adalah ilusi, karena seolah ia tumbuh tak habis-habis. Tapi untuk abad ini kita semua telah bersepakat akan masalah ketinggian yang pasti. Untuk saat ini.

Lalu, Nek, di sekian laut di mana aku menemuimu selalu. Di sekian sisi lautan Hindia. Baik selatan Jawa maupun sisi pantai Barat Australia. Belum lagi di Pantura. Ah, dan selain Mars, air menguasai garis lahirku. Dan kepada Neneklah aku menuju. Sang Ibu tua.

Dalam pesisir Sanur aku menenggelamkan kepalaku, mengapung dalam ringannya ombak dan menemukan pelukanmu. Matahari terbit ketika aku tengah berlari di atas pasir. Pada air, segalanya terbasuh. Pada air, kesedihan terlarung, juga kesialan dan kepahitan. Oh, pada Selatan di mana seluruh doa menuju. Semua sungai dan air yang turun dari gletser-gletser Himalaya. Nek, padamulah, Nek. Kami bermula, menuju dan berakhir.

Om Mane Padme Hum
Hong Wilaheng Sekaring Bawono Langgeng

(bersambung)