Tara

Berapa banyak sebenarnya yang telah berlalu, Tara? Berapa belas, puluh dan ribu? Apakah angka-angka masih berarti untukmu? Seperti angin yang telah lalu, mendesau antara lekuk telingamu, melewatimu dan masih melewatimu.

Kau dapat menciumnya dalam udara setiap malam purnama. Bau segar bunga lily. Sebatang keindahan yang pernah kau pegang pada hidup ini.

Masih saja, ia melewatimu dan melewatimu. Sepanjang malam. Bau jejaknya yang telah membekas di kota ini.

Dia sudah pulang. Kau berguman di malam biru purnama.

Merahnya Dharamsala

selimut merah marun
masih bersibak harum
dharamsala

tetes salju pernah mengendap
dingin udara pernah meresap
dalam gelap

malam-malam sepi
dalam detak dada yang terbaring
jemari yang mencari
terkatup hingga pagi

di tanah ini
ziarah-ziarah sunyi
terjadi

dalam keheningannya
aku menghirup
segala kenanganmu
segala ingatan
dan memori

dan pada segala kehilangan
dalam mata biksu
yang menatap nanar
api yang tengah menyala

di tanah mereka
jauh disana

lilin tak lagi cukup menerangi
tubuh telah menjadi sumbu

betapa, betapa merahnya
dharamsala

dalam matamu
aku mengingat
segala cerita

pada akhirnya kita semua adalah pengungsi
dalam naungan buddha
dan dalam doa yang kelak
menyala dalam lilin biasa

The Red of Dharamsala

The red maroon blanket
still smell of Dharamsala

The drip of snow has once precipitate
The cold air has once seep through
In the darkness

Lonely nights
Inside the beating chest whom had lied down
The lingering fingers
Clasping together until morning

In this land
The silent pilgrimages
Existed

In its quietness
I breath
All your memories
All memories
Which once mine

And in every lost
At the monk’s eyes
That stared at
The burning fire

On their land
Far away

Candles no longer illuminate
Bodies has become the burning thread

How red, oh how red is
Dharamsala

Inside your eyes
I remember
Every stories

In the end we all are taking refugee
Under the auspices of Buddha
And in the prayer that one day
Can light like an ordinary candle

Catatan Ibukota

Ini sudah bukan sesuatu yang membuat lututmu melemas. Tapi lebih mengenai segala-galanya yang sulit terkatakan. Segala yang serba salah. Di relung-relung kota ini. Cinta menjadi sekaku percakapan di sebuah taksi. Bersalaman tangan menjadi beribu arti.

Aku seolah tak menangkapmu disini. Suaramu menghilang ke latar belakang sebuah restoran. Dan hanya dirimulah yang kulihat terduduk disana. Aku tak paham mengapa aku berada disini setelah satu botol anggur habis di bar sebelah. Aku tak tahu mengapa aku memelukmu dan tak mau mengatakan apa-apa.

Apakah kita bahkan harus berbicara?

Kadang aku ingin hilang kata saja. Menemukanmu pada sebuah pagi yang tidak terlalu dingin di balik balutan kain batik. Terselip disana dan diam dalam ingatanku yang sejenak. Namun tak menghilang jua.

Aku seolah menemukanmu terbelah di kota yang lain. Dan tak ada disini.

Menuju Laut Lepas (Towards the Open Sea)

:c.

jejakmu nampak
dalam sulur dedaunan
di sepanjang tanah jawa

your steps arises
in the vine leaves
across this land of java

waktu seperti mundur ke belakang
sementara kita tidak sedang berada
di atas kuda
pada sebuah jaman yang lampau
ini bukan sesuatu
yang bukan apa-apa

time took a step back
while we are not
riding horses
of the past
this is not something
that is not nothing

ketika kujejakkan kakiku pada tanahmu
suatu waktu
momen itu hanyalah untuk menunggu ingatan
pada sebuah tepian sungai
dimana aku menangkapmu
bagai ikan
dan melepasmu sepanjang jalan
pulang

when i step my feet on the ground of your land
one time
that moment only awaits the coming memory
on the riverbank
where i caught you
like the fish
and release you all the way
home

aku menatapmu berenang
menuju laut lepas
dan dalam perjalananku
aku menatap
ke arah yang kau tuju
laut, laut, laut

i see you swimming
to the open sea
and on my journey
i saw
to the direction you are heading
the sea, the sea, the sea

dan jejakku yang bergerak menujunya

and of my steps slowly going to the same sea

melalui sungai yang sama: ibu gangga yang agung

through the same river: the magnificent mother of gangges

Pagi Yang Gelap

mungkin begini
di suatu pagi yang gelap
aku tak lagi menemukan
bau matahari

seperti bilangan
aku tak lagi genap

memori terkadang jauh
namun juga jatuh

aku teringat suatu pagi yang lain
dalam sengatan dinginnya
udara pegunungan

tak ada bau matahari

setiap bunyi lonceng doa
panggilan terompet panjang
bergema
di vihara-vihara

pada garis tangan
segalanya membelah
pada setiap cabang

dalam nafasku sendiri
segelap apapun pagi
mungkin jalan yang ganjil
adalah sesuatu yang akan menggenapi

dharamsala – lasem – jogjakarta 2012

Purnama Di Kota Ini

di kota ini,
purnama
menyimpan ingatannya
dengan perlahan

bagai sepasang sepeda
yang dikendarai ibu-ibu tua
melintasi jalan-jalan kota
menuju pasar

seharian
segalanya memelan
dan mungkin berhenti
di suatu waktu

terlalu banyak dejavu
dan masa lalu
menyeruak
lewat begitu saja
dan pergi

tak ada yang kembali

jika gemerlap bintang
menunjukkan arah pulang
kesanalah hatiku menuju

di tengah purnama kota
yang menyimpan segala aroma kenangan

jogjakarta, 6 juni 2012

Gemintang Yang Kedua (The Second Sight of Stars)

:c.

sore itu, pohon randu di tengah candi
seolah tengah memeluk
senja yang tak memburu

that afternoon,
the randu tree in the middle of temple ruins
seems to embrace
the unrush twilight

malam itu di bawah gemintang yang kedua
kita tengah berkaca pada diri masing-masing
dan kau raih tanganku
menenggelamkan segalanya pada semesta raya

that night,
under the second sight of stars
we were reflecting at each other
and suddenly you took my hand
drowning everything in that very universe

kurasa telah kulihat semua mimpi ini
telah kubaca pada bintang-bintang di langit barat
bahwa api itu akan datang bagai naga
yang perlahan

i felt that i seen this dream
i read it on the stars of the western sky
that the fire would come slowly
like a gentle flying dragon

kukejapkan mataku dengan pelan
mencoba menyimpan semua ini
ketika semua kata sedang tak kelihatan
dan masing-masing lidah kita sedang saling menahan
segala yang akan selalu datang
dan selalu pergi

i winced both of my eyes quietly
trying to remember all this
when all the words are unseen
and each of our tongues seems to hold
on whatever may come
and whatever may leave

dan semua langit malam yang tak akan pernah sama lagi

and of all the night skies that would never be the same anymore

parangendog, 26th june 2012

Jejak Saffron

Segelas teh di pojokan dipan kayu. Uapnya menghiasi udara ruang tamu. Rambutmu basah oleh minyak kelapa. Minyak kelapa yang sama yang kugunakan untuk membuat sambal matah. Semalam kita membuatnya dalam porsi kecil-kecil, karena di udara dingin, minyaknya akan mengendap kental dan meninggalkan tempelan lemak di langit-langit lidah kita.

Bau pegunungan mewarnai nafasmu. Aku seperti tengah mengecap salju yang tiada rasa. Sejenak terasa jejak saffron yang bercampur tembakau. Kau bercerita mengenai ladang-ladang saffron di tanahmu, sementara rasa itu mengendap menuju dadaku.

Aku tak pernah lagi bertanya apalagi yang abadi, selain detik-detik percakapan yang menggenangi ingatan.

Halmahera (1)

teriakan bajak laut itu menggema di mana-mana
oh, wahai anak kepulauan
bersatulah
dan ingatlah para leluhur
sebagaimana sekian pesan telah menghampirimu bertahun-tahun lamanya

air, tanah, udara dan darah
juga rasa
dari segala penjuru mata angin

dalam pelukanmu, tobelo
ibu-ibu kami menangisi anak-anaknya yang pergi

semua tetes air mata itu
akan kami ingat dalam setiap keringat kerja kami

karena masih jauh kami akan berjalan
melangkah
menuju satu tujuan