Ibu India dan semesta

Di Dharamsala, di kuil yang sama, tempat itu lagi-lagi memelukmu. Setelah segalanya kau lepaskan, setelah tepat 108 kali kau membuang ego di papan bersujud dan berdoa. Setelah semua surat dituliskan dan terbakar menjadi abu bertebaran di kaki Himalaya.

Kau ingat ini Ibu India dan di Dharamsala, kau pernah berjanji akan kembali dan di kala menatap Triund, kau ingin menetap. Kau ingat betapa butir salju di Dharamasala menyapa wajahmu kala itu, di balik selimut yang digunakan para biksu Tibet. Betapa merahnya Dharamsala dalam ingatanmu.

Kali kedua ini dalam waktu yang kau pikir akan singkat saja, kali ketiga itu akhirnya datang lagi. Dalam bentuk satu kerjapan tatapan di pojokan kuil itu. Tepat di bawah patung Buddha dan di depan patung Guru Padmashambava. Ada rasa sendu yang mendalam ketika tatapan kalian berpapasan. Ada rasa berterimakasih atas pertemuan. Kembali. Dua menit pendek untuk selamanya.

Ya, kau memutuskan untuk kembali kepadanya. Melewati hijau pepohonan di tengah kemacetan Bangalore, dalam bau laut yang bercampur keringat kecemasan Mumbai serta debu yang pekat dalam udara Delhi. Suaranya mengisi kekosongan yang diciptakan oleh kota-kota dan di tengah lantunan lagu-lagu Maharastra menembus malam yang makin larut akan rasa, serta botol anggur kedua. Lalu sekian pernyataan rindu dan cinta. Api pelan yang tersimpan dalam sekam kesempatan.

Ia menatapmu apa adanya. Segalanya akanmu, bahkan sisi gelapmu yang bahkan seolah teduh di dekatnya. Sisi gelap yang dengan santai ditunjukkannya dan rasa takut akan tanpa jarak memudar begitu saja. Hingga ia menarikmu dalam genggamannya pagi itu, di tengah udara dingin hanya untuk memastikan dirimu berada di sana. Dalam kesementaraan yang baik-baik saja.

Pagi hari ketika ia melafalkan sekian mantra atau ketika ia membaca sutra, membawakan ketenangan tertentu hingga ke dalam jiwamu. Dalam diam, kau mendengarkan suaranya yang jernih dan kemunculannya dalam memorimu bagaikan lautan yang tenang. Gemanya bagaikan gelombang dan rintik hujan, yang membasahi pagi hari yang tenang di pegunungan. Masa yang seolah jauh itu di padang savanna dan juga padang pasir di bawah kesunyian gemerlap bintang di langit. Malam dan perjalanan yang selalu panjang di ingatan para musafir.

Matamu kini mengandung rindu. Yang melampaui segala waktu. Segala masa. Segala rasa.

Semestamu yang tersimpan padanya. Kini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s