Di sebuah sore yang tajam oleh rindu, kau mengucapkan kata-kata itu “Berjalan kepadamulah, aku menuju sebuah rumah. Dan perjalanan itu masih panjang…” Ditatapnya sepasang mata itu, oleh sinar matahari yang mengecap kilat coklat muda yang di satu masa telah kau hafal dalam hati. Semalam ketika degup di hatimu tidak berubah dan ketenangan di dalam dadamu mengkhianati segala hal yang telah ditahan setahun yang telah berlalu, hanya karena satu langkah memasuki sebuah rumah di atas bukit itu

Seolah terulang kata-kata di bandara siang itu, lima belas menit sebelum pesawat berangkat “Kau yakin untuk melepasku?” dan ketika kata ya, mengalir dari mulutnya, kau melepaskan dirimu dalam sayap-sayap semesta dan terbang bersama seluruh alur hidup yang dapat mengubah nasib. Kalian berdua.

Namun satu langkah memasuki sebuah rumah, segala gejolak tersedan di dada, tawa dan tangis itu seolah kembali berputar, pada kekinian yang baik-baik saja. Dan kau menghela nafas dengan tenang sepanjang malam. Terbangun pada ingatan akan sekian dansa di malam hari, pada suara pisau di atasΒ talenan dapur serta cangkir-cangkir kopi yang tandas di pagi hari, pada bau tanah dan kemiri di helai rambutnya. Pada jauhnya jarak dan dekatnya degup dada di pagi tahun baru yang kedua. Segala langkah yang telah kau lewati dalam setiap doa yang kau rapal di sekian perjalanan yang kau tempuh. Begitu jauh dan ia kini begitu dekat.

Dan pada momen ketika jarak itu mengada, kenyataan menjadikannya tiada.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s