Sebuah surat untuk sang Nenek: Tethyst (1)

:Oma Leni Tanukusumah dan semua perempuan yang dituakan, demi para mamak tua dan demi Tethyst

Setua-tuanya perempuan, Nek. Kau adalah yang tertua. Yang paling kuno bahkan. Dan kau adalah satu-satunya nenek yang kupunya. Dan di antara segala cinta dan benci, di puncak sisa Laut Tethyst yang tertualah, aku mendoakanmu. Tepat di gerbang Annapurna, yang juga mengingatkanku pada kelimpahan semua rasa masakan yang pernah kau masak seumur hidupmu. Demi satu alasan: cinta. Filosofimu sederhana. Makanan adalah cinta dan hatimu adalah dapur yang mengepul. Hanya itu satu bentuk cinta yang kau tahu. Satu-satunya.

Dan di 89 segalanya berakhir, dengan sedikit pahitnya patah hati. Juga patah kaki.

Ah, Oma, semoga segalanya berakhir baru dan segala yang pahit akan berputar demi kebaikan dalam sekian roda kehidupanmu yang akan datang.

Bercak merah cahaya membawamu ke gerbang surga, menandakan naiknya ruhmu kembali ke langit. Aku melempar buah-buahan kering, padamu, pada opa, pada bapak ibuku. Dan di antara derap salju di wajahku hari itu, pada nenek tertualah, aku menyembah sujudku. Pada empat penjuru. Pada kakang kawah adi ari ari sedulur papat limo pancer. Di pusatlah aku menjejak. Antara Tethyst dan Cimmeria.

Om Tare Ture Tuttare Soha

Himalaya adalah sebuah satuan gunung yang terus menerus tumbuh dari masa ke masa. Himalaya adalah salah satu sisa laut yang tertua. Laut kuno di antara Gondwana dan Laurasia. Apalah jadinya jika gunung tertinggi macam Everest aka Sagarmatha aka Chomolungma puncaknya tak pernah benar-benar pasti ketinggiannya. Para summiters mengetahui dengan pasti bahwa kadang puncak adalah ilusi, karena seolah ia tumbuh tak habis-habis. Tapi untuk abad ini kita semua telah bersepakat akan masalah ketinggian yang pasti. Untuk saat ini.

Lalu, Nek, di sekian laut di mana aku menemuimu selalu. Di sekian sisi lautan Hindia. Baik selatan Jawa maupun sisi pantai Barat Australia. Belum lagi di Pantura. Ah, dan selain Mars, air menguasai garis lahirku. Dan kepada Neneklah aku menuju. Sang Ibu tua.

Dalam pesisir Sanur aku menenggelamkan kepalaku, mengapung dalam ringannya ombak dan menemukan pelukanmu. Matahari terbit ketika aku tengah berlari di atas pasir. Pada air, segalanya terbasuh. Pada air, kesedihan terlarung, juga kesialan dan kepahitan. Oh, pada Selatan di mana seluruh doa menuju. Semua sungai dan air yang turun dari gletser-gletser Himalaya. Nek, padamulah, Nek. Kami bermula, menuju dan berakhir.

Om Mane Padme Hum
Hong Wilaheng Sekaring Bawono Langgeng

(bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s