Demi Perseus

:dan segala usaha untuk mencatat ingatan, juga perjalanan

Lidahku masih terasa sedikit masam dengan kuah santan bubur mutiara yang kubeli di Pasar Legi tadi pagi. Lalu catatan kedatangan Algol di terasmu tadi siang membuatku menatap langit yang banjir dengan sebentar saja. Lalu catatan ini dimulai. Setelah kehilangan satu bundel catatan untuk seorang peri di jalan tol melintasi sungai-sungai Himalaya bulan kemarin, semesta memaksaku untuk mengulang ingatan kembali. Mengasahnya bagai pisau dan menancapkannya dengan tepat, pada siapapun yang dituju. Ini seperti sebuah surat balasan atau juga mungkin usaha menulis diari yang terbatas di kalangan sendiri.

Sudah sekian hari (atau mungkin tahunan) kita mencoba men-download semua informasi dengan kabel wifi yang bertahun-tahun dipaksa menjadi 4G sebelum waktunya. Kita selalu beralasan perangkat kita itu dari dunia ketiga, namun alasan tinggal alasan, di dunia ketiga kita selalu dipaksa kreatif dengan segala keterbatasan yang bersifat fisik. Tiba-tiba saja peta konstelasi tertebar di terasmu dalam sebuah upaya menyusun kandang kucing. Aku menemukan peta-peta lainnya di sebuah meja kayu kerajaan di pulau bernama Dragonstone dan legenda-legenda Valyria. Dua ratus tahun setelah naga benar-benar punah dalam sejarah mereka. Lalu kembali mewujud menjadi tiga ekor naga imut-imut dari balik api kremasi, dibayar cinta dan nyawa. Aku jadi ingat kau menyebut Hydra. Belum lagi mayat-mayat zombie dari Utara yang bermata biru layaknya batu safir yang menyilaukan. Nafas mereka lebih dingin dari badai salju. Ah, drama. Juga suntikan sekian adegan brutal dan seks yang membuat Holywood sungguh kaya raya dengan serial film yang dibuatnya. Tapi sejarah Westeros ini sampai di pangkuanku atas pesanan seorang peri yang tengah terkurung. Satu-satunya dunia ekapisnya adalah Westeros. Yang dibaginya dengan sekian juta penggemar fiksi fantasi di planet ini. Juga aku. Sayang tiga seri awal kitab itu kutinggalkan di Kathmandu. Mungkin belum waktunya bagimu untuk turut membacanya.

Oh dan satu lagi, si peri ini lagi-lagi mengirimkan aku gambar-gambar flower of life yang dia bikin dengan koin recehan. Aku rasa dia semakin terobsesi dalam kurungannya saat ini. Tapi kode itu mewujud dalam mimpi seorang kawan, bahkan dua kawan, bahkan berubah warna pula. Lama-lama wujudnya kaya tanda charger semesta warna pelangi yang sudah penuh di lenganmu. Aku membayangkan peradaban di Mars dengan mendadak, lalu teringat John Carter. Jelas-jelas Edgar Rich Burroughs tidak sekedar membuat fiksi murahan. Mars, panasnya api dan ada tiga Mars menandai garis hidupku. Seorang perempuan India tahun lalu mengomentari garis hidupku dengan sebuah keheranan bagaimana aku tidak mati kebakaran hidup-hidup, ketika dia membuka data lahirku.

Mungkin itulah kenapa es krim selalu menjadi adiksiku, hidupku terlalu panas dan panasnya udara tropis akhir-akhir ini menggila dalam kepalaku. Untung musim hujan datang dan untung lagi aku besar di kota hujan kedua di negara ini. Jadi setidaknya selalu ada usaha-usaha untuk mendinginkan kepalaku dan yang lebih susah sebenarnya mendinginkan hati. Mungkin lagi karena itulah Himalaya memanggilku dan melempariku dengan butiran-butiran es yang hangat sebagai tanda selamat datang. Aku pulang dengan membawa sahabat baru: musim dingin dari Utara.

Dan di sanalah kita menemukan jejak bintang serigala itu. Serigala salju peliharaan anakku yang lalu. Putih serupa malaikat dan hampir mati di tengah-tengah badai, sebelum si anakku yang lalu itu menemukanmu dan memeliharamu seperti anjing walaupun sudah kubilang berulangkali jika kamu adalah seekor serigala. Setiap kali aku menatap seekor anjing Siberian huskie, aku berpikir mungkin ada jejak sukumu di sana yang tersisa. Oh iya, aku lagi-lagi lupa bilang, di Westeros ada yang namanya direwolf, ukuran raksasa jika dibanding serigala biasa dan di sana ada satu ekor yang albino, bermata merah dan berbulu putih, namanya Ghost. Serupa hantu. Dan orang-orang Utara ini mereka menyembah pohon yang bermata hidup. Godswood. Itu kata mereka. Beberapa bulan terakhir aku terjebak di hutan mereka dan sulit untuk keluar. Betapa fiksi adalah dunia itu sendiri. Kita baru saja menyebut perihal itu kemarin sore ketika sedang menunggu hujan rintik.

Anakku tengah menghapal semua totem seperti menyerap sebuah ilmu. Kadang bahkan ia mendeskripsikan semua auman, embikan dan cicit para binatang itu dengan tiba-tiba. Masa robotiknya sudah lewat dan garis-garis sketsanya entah mengapa menjadi semakin tajam. Seperti ramalan terkadang.

Tidak ada yang absolut selain vodka. Tulisku sekian dekade yang lalu. Tidak ada yang absolut dalam sebuah ramalan, itu adalah fakta yang sungguh kita berdua mengetahui dari mulut-mulut busuk malam Jumat Kliwon, serta sesi yang diiringi wangi klembak menyan. Kehendak bebas terkadang seperti menggeser sesuatu sekian derajat untuk hasil yang berbeda di masa depan. Kehendak bebas terkadang rasanya seperti melawan nasib. Kehendak bebas adalah kebebasan kita sebagai mahkluk hidup untuk menentukan masa depan yang ingin kita jalani.

Kesadaran adalah gelombang. Riak-riak itu sedang membiak sekarang. Perseus, saat ini referensiku tentang Andromeda hanyalah karakter dalam Saint Seiya. Dan betapa hitsnya kartun itu di generasi kita. Tujuh saudara perempuan, sudah selesaikah kau dalam misimu untuk menemukan hitunganmu yang genap?

Demi Perseus, ini hanyalah ceracau dan kepalaku penuh kabel Medusa. Adakah pedang dengan besi Valyria yang sanggup memenggalnya satu demi satu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s