Mimpi yang Ketiga

Aku tak lagi mengerti kita berada di arah mana. Namun dalam mimpi ini kita selalu tertangkap basah. Dalam detail yang mengendap, aku hanya mengingat ketika kepalaku kutaruh begitu saja pada lekuk sisi tubuh kirimu. Seolah mendengar di antara jantung dan gemericik suara perut. Sensasi yang aneh untuk menjadi bagian rusuk kirimu. Mitos Hawa yang tak pernah kumau percayai dan aku akan terbayang wajahmu yang juga mengingkarinya di suatu sore.

Sore yang nyaman untuk saling bergelung, dalam hangatnya matahari senja dari arah jendela. Aku hanya ingat gelung rambutnya saat ini. Seolah kubiarkanlah semua nubuat tanda-tanda ini. Pada kenyataannya mungkin kita hanya berbicara melalui aliran udara dan gelombang kesadaran kita masing-masing.

Aku tetap tak lagi sabar, namun juga belum dapat dikatakan rindu. Karena hal-hal yang kita ketahui dan juga belum lagi terjadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s