Ingatan Salju

Bau salju menusuk hidungku bermalam-malam. Selimut merah marun lembab oleh sisa salju yang mencair di pagi hari yang cerah. Rumah-rumah berjejer seceria bendera doa. Teh beraroma mawar dan saffron menguap mengisi dapur bawah tanah. Wangi kretek bertebaran di ruang tengah, menandakan diri yang telah terbangun. Kata-kata Rumi menebar di udara.

Aku begitu dekat, hingga aku terlihat seakan-akan jauh
Begitu bercampur denganmu, hingga aku terlihat seakan-akan terpisah
Begitu terbuka, hingga aku terlihat bersembunyi
Begitu terdiam, karena aku terus menerus berbicara kepadamu

Sejauh puncak-puncak salju dan langit hitam berbintang. Begitu dekat nafasmu. Pada nadiku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s