Cerita Tentang Sebuah Tatapan

Seseorang pernah berkata kepadaku, “Kau memiliki kemampuan untuk membunuh seseorang dengan satu tatapan, berhati-hatilah menggunakannya.” Aku teringat kau semalam dan aku yang menatapmu malas-malasan. Betapa tertusuknya dirimu. Sedangkan suasana sedang riuh dalam tusukan-tusukan daging barbekiu.

Kuhela nafasku sebelum pulang. Dirimu sudah larut masam dalam setoples selai markisa. Warna cerah manis yang sia-sia walaupun sudah kutambahkan gula. Aku mengingat membungkus segalanya dalam balutan syal Khmer kotak-kotak biru yang kurelakan untukmu. Aku enggan mengingat berapa lagi hal yang telah kurelakan kepadamu.

Kukira kau tak pernah menyesali jarak yang kau buat. Aku tak mengira sebuah tatapan dapat membunuh seseorang sesekali waktu. Semalam aku memang lagi malas berhati-hati. Udara terlalu panas untuk mengendalikan segala sesuatu. Terkadang hidup menginginkan sekian hal untuk lepas kendali. Aku tak ingat di malam keberapa aku pernah mengatakan hal yang sama, bahwa kau tak bisa mengendalikan segalanya.

Aku tak pernah menyesali apa pun. Karena waktu tidak pernah berjalan terbalik. Kenyataan pahit itu harus selalu kita terima. Bahwa yang berubah adalah kekinian kita. Bukan masa lalu dan juga bukan masa depan. Bahwa perubahan selalu ada dalam genggaman dan pilihan adalah milik kita masing-masing. Aku telah memilih jalanku dan tak akan menunggu siapapun untuk menjadi alasan agar tidak pergi. Aku yang ditakdirkan untuk selalu pergi dan pada akhirnya selalu memilih pergi.

Karena aku menemukan Tuhanku dalam perjalanan, karena kuilku adalah di berbagai macam kendaraan dan hati orang-orang yang kutemui di perjalanan. Doaku adalah tapak kesekian, di kota-kota tak berpeta dan tak bernama. Kadang tak berwarna. Aku tak bisa menghentikan langkahku hanya karenamu belaka. Aku sudah di ujung roda yang tengah bergulir. Dan dalam irama alam, yang bergulir, bergulirlah berjalan.

Maafkan, jika satu tatapan akan menyakitkan. Tetapi mungkin lebih baik demikian. Aku masih tak ada alasan kuat untuk menunda perjalanan. Dan masih, dalam segala macam alasan dan karangan, dirimu bukanlah salah satunya. Itu adalah satu-satunya kenyataan.

Mungkin suatu hari masih kutorehkan seberkas namamu dalam satu biji mala. Mungkin suatu hari doa itu akan selalu sampai kepadamu. Dimanapun diriku. Bagaimanapun dirimu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s