jika ia ingin berjarak, tak lagi ia ingin mengenang perempuan yang terduduk di pojokan. sebilah pisau yang nyaris menggurat nadi. ia yang tak pernah percaya. atau tangisan malam-malam di sebuah teras dan hujan yang mengguyur sekian perdebatan. tak pernah ia ingin mengecap pahitnya tangis yang tercampur hujan. jika sebuah pantai hanya berjarak lima kilometer dari tempatnya, ia ingin pergi, demi mendinginkan kepala.

namun ia mengangkat telponnya malam ini di tengah suara kantuk yang terlalu. tangan laki-laki itu juga meraihnya ketika ia memilih duduk terdiam di pojokan. ia sudah bukan dirinya dan laki-laki itu sudah bukan laki-laki itu. jika kenangan buruk membeku di suatu waktu. ia tengah membakarnya habis. hingga tuntas ketakutan dan kecemasan.

disapunya jalan-jalan menjelang pagi buta. membenahi celak hitam di bawah matanya. mengoles cat kuku merah darah. dirapalnya doa. ditebarnya bunga. untuk kematian. untuk kenangan. yang kesekian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s