#30harimenulis

Day 6: Yogyakarta, 14 September 2006

Raka

Frame 1

Perempuan yang datang padanya. Berambut pendek, berkacamata dan berkaus polo warna pink. Pipinya merah seperti baru datang dari gunung-gunung tinggi. Tangan yang hangat ketika bersalaman. Suara yang hangat. Dan cerita-cerita serta mitos dari gunung tertinggi keluar dari mulut perempuan itu.

Frame 2

Teras. Senja yang menyilaukan. Dua pasang teh botol yang hampir habis. Satu bungkus rokok. Djarum Super. Dua orang yang berbicara tanpa pembicaraan. Suara-suara hanya menjadi warna dari suasana.

Frame 3

Tiga puluh detik, tangan perempuan itu enggan dilepasnya. Entah mengapa. Sedikit tak rela. Tapi lepas jua.

Frame 4

Sms. Ingatan. Memori. Masa lalu. Reinkarnasi. Dejavu. Senja. Sendu. Juga rindu.

Keterangan Foto:

Semua kecepatan diambil dalam sekian jam, sekian cahaya dan dengan retina mata. Semuanya No Title (Raka, 14 September 2006).

#30harimenulis

Day 5: Yogyakarta, 14 September 2006

Tara


Aku tak tahu apa yang membuatku merasa tak biasa sejak pagi ini. Harusnya pertemuan itu biasa saja. Aku sampai mengganti bajuku berkali-kali. Hingga memutuskan memakai kaus polo warna pink, kesayangan ibuku, yang sudah tipis dan nyaman. Dengan celana abu-abu dan sepatu kets kesayanganku yang berwarna putih krem. Tidak pernah aku menjadi sepanik itu ketika waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore.

Aku memacu sepeda motorku ke studio tatto langgananku. Rajah nama ibuku di punggung sebelah kananku sudah mengering. Antara sedikit perih dan gatal tergesek oleh kain baju polo yang kukenakan. Ada degup aneh di dadaku.

Degup aneh itu menemukan jawabnya setelah aku bertemu laki-laki itu. Ia mengenakan kaus warna hijau yang menenangkan dan juga celana abu-abu. Ia cuma tersenyum melihatku. Sepertinya pipiku memerah serupa tomat dan dengan mengenakan baju pink milik ibuku, aku menahan rasa maluku sepanjang aku bicara kepadanya. Aku tak ingat bicara apa. Aku hanya bicara untuk terus hadir di sampingnya.

Hanya senja yang menyilaukan hadir di teras itu, sepasang teh botol yang hampir habis dan satu bungkus rokok Djarum Super. Hari itu menempel dalam memoriku dan tak pernah pergi lagi. Apalagi ketika aku harus pergi meninggalkannya, ia menahan tanganku tepat di nadi. Ia tak bicara. Aku juga tak bicara.

Hanya matanya berkata:

Jangan pergi
Tolong ingat aku lebih dalam

Ketika aku harus beranjak bersama senja. Di atas motor, ia muncul tepat di pelupuk mataku. Dalam senja yang lain. Dalam riapan rambutnya yang ditiup angin. Tebing. Hangat. Sepi. Sedih dan menyayat.

Aku mengirimkan sms malam itu kepadanya.


Raka,
Aku ingat/
Terlalu dalam dan tak terbayangkan/
Hingga melewati perjalanan roh dan waktu.

#30harimenulis

Day 4: Wina, 14 Desember 1978

Kenneth

Kenneth Maruti berdiri di pintu kedatangan Flughafen Wien. Pagi itu udara membeku dalam hembusan nafas hangat manusia yang berlalu lalang. Mulut-mulut orang penuh asap walaupun mereka tidak merokok. Kenneth memegang sebuah karton putih bertuliskan sebuah nama:

Vivian Tanjung (Indonesia)

Kenneth tidak akan pernah menyangka bahwa nama itu akan bersinggungan begitu erat sepanjang hidupnya.

Kenneth hari itu hanya bertugas untuk menjemput perempuan yang akan menjadi rekannya dalam sebuah program penelitian di universitas untuk satu tahun ke depan. Lalu lalang manusia semakin padat, pesawat yang membawa perempuan itu dari Amsterdam telah mendarat.

Kenneth ingin meniup kedua belah tangannya di balik sarung tangannya yang berwarna biru gelap, namun ia bertahan untuk tetap memegang karton putih itu. Siapa tahu Vivian akan terlewat. Kenneth tidak mengetahui bagaimana rupa Vivian.

Lalu seorang perempuan muncul, begitu mungil dan kecil, begitu putih dan rapuh. Ia menatap ke arah Kenneth. Rambutnya pendek dan terkesan modern. Matanya kecil dan suara yang keluar dari bibirnya begitu halus. Nyaris seperti berbisik.

“Kenneth Maruti? Dari Universitas Wina?”

“Vivian Tanjung? Dari Indonesia?”

“Ya, saya adalah Vivian.”

Kenneth Maruti menjabat tangan mungil Vivian. Kenneth Maruti tidak berkedip. Sepintas dirinya tersadar bahwa ia memandang Vivian sedikit terlalu lama.

Terlalu lama hingga tidak dapat melupakannya lagi.

Kenneth terjaga sejenak, ia lalu menawarkan untuk membawakan kopor Vivian. Kopor yang sepertinya terlalu besar jika dibandingkan dengan tubuhnya yang serba mungil. Kenneth memanggil taksi dan kota Wina menyambut keduanya untuk berkisah sejak hari itu.

#30harimenulis

Day 3: Yogyakarta, 11 September 2006

Raka

Laki-laki itu menatap dengan senyap dan jauh. Perjalanan kereta tiba-tiba terasa begitu lama baginya. Sesuatu membuatnya tak tenang. Ia mengeluarkan kamera sakunya dan memotret cahaya subuh pertama pada jendela kereta yang tengah berjalan. Kabut menyelusup di antara samar sinar mentari. Gradasi semburat langit terasa menggetarkan.

Klik. Klik. Klik. Tiga frame. Subuh menuju kota senja.

Lalu ia menengok sms di layar hpnya. Ia menghela nafas panjang. Masih memandang jauh ke depan.

Perempuan yang selalu menunggumu sudah kutemukan/Kapan kau ke Yogya?

Sms itu membekas. Ramalan itu membekas. Seperti juga vonis dokter tentang apa yang dideritanya belum lama ini. Sms itu membuatnya pergi dari ibukota. Mengepak barangnya dalam semalam dan pergi membeli tiket di loket stasiun. Semuanya dipicu oleh sebuah sms dan sebuah ramalan.

Sms lain menjawab. Nomor perempuan dalam ramalan itu. Isinya jawaban kapan mereka akan bertemu. Tiga hari lagi menjelang senja. Di studio tatto dimana sahabatnya bekerja, si peramal – begitu ia menjulukinya – pernah membaca garis tangannya dan menemukan perempuan itu disana bersilangan dengan garis nasibnya.

Untuk pertama kalinya, ia diam-diam mencoba mempercayai ramalan. Dia tak bertaruh apa-apa lagi. Baginya yang penting dalam dunia ini adalah kamera dan ia tak ingin kehilangan segala momen. Apalagi ketika momen itu membuat dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Laki-laki itu tak mengerti kenapa. Esok ketika bertemu perempuan itu dia hanya akan merekam dengan mata. Dia tersenyum mengetahuinya. Membiarkan pertanyaan-pertanyaan berkeliaran sendirian dan meneruskan tidurnya.

#30harimenulis

Day 2: Wina, 14 Desember 1979

Vivian

Udara bulan Desember begitu dingin. Vivian belum beranjak dari balik selimutnya. Sepertinya hari ini salju akan jatuh ke tanah dan pecah. Dalam waktu seminggu ia akan kembali ke negara tropis yang panas, kotanya yang selalu hujan dan dirinya yang terperangkap tak bisa kemana-mana. Tangan hitam legam yang tengah memeluknya hangat akan kembali ke negaranya yang juga tak kalah panas sepanjang tahun. Tanpa dirinya. Mereka sudah memutuskan untuk tidak lagi bersama. Untuk tidak lagi bertemu. Selamanya.

Vivian membuka kelopak matanya perlahan. Rasa enggan melepaskan pelukan itu membuatnya terjaga. Dapatkah ia tidak memikirkan laki-laki yang tengah memeluknya selamanya? Laki-laki yang membuat dirinya keluar dari cangkang keberadaannya dengan nyaman. Laki-laki yang dapat membuatnya merasakan musim semi dan musim panas sepanjang musim dingin yang mereka lewati bersama sebanyak dua kali. Dirinya yang selalu hujan dan muram dan diam hilang di tangan laki-laki itu.

Ia teringat Tio, suaminya, di ujung dunia yang lain. Sudah nyaris delapan tahun mereka menikah. Sudah lelah ia berjuang demi perkawinannya di mata ibunya. Dan tak ada anak yang mewarnai kehidupan mereka. Tak ada lagi gairah. Ia lelah namun merasa bersalah. Pada Tio dan mungkin pada Tuhan. Juga pada surat-surat Tio yang selalu setia datang dan dirinya yang masih setia dalam surat-surat yang pergi.

Di kota ini untuk pertama kalinya ia merasa bebas. Bebas menentukan hidupnya. Bebas dari mata-mata waspada dan mulut-mulut nyinyir. Tak ada orang yang peduli mengenai hubungan dirinya dengan Kenneth. Laki-laki yang membuka kunci dirinya dan membiarkannya lepas. Lepas dari kurungan sangkar emas. Lepas dari kontrol ibunya. Lepas dari suaminya. Sudah setahun ia menjalani hidupnya dengan tanpa beban. Tanpa harus menyenangkan orang lain selain dirinya dan tentu saja, Kenneth. Laki-laki dari benua hitam, hitam legam dengan senyum cemerlang seperti berlian.

Ia tahu ia mencintai Kenneth. Begitu rupa.

Ia berbalik meringkuk di dada laki-laki itu. Detak jantung Kenneth terdengar. Andai waktu bergerak serupa detak jantung yang dicintainya, maka hidup tidak akan menjadi sesulit dan sepelik ini. Mereka hanya punya tujuh hari lagi bersama.

Tujuh hari.
Seratus enam puluh delapan jam.
Sepuluh ribu dan delapan puluh menit.
Enam ratus empat ribu delapan ratus detik.

Detik-detik itu mulai berkurang. Vivian menutup matanya dan tak ingin lagi terbangun. Tak ingin lagi berpikir mengenai waktu.

Ketika Adam Memberikan Apelnya Pada Hawa

:c.n.

Kita menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk akhirnya bersitatap. Dan tatapanmu seperti seekor singa lapar yang seolah-olah akan melahapku dalam semalam. Laki-laki. Penjahat kelamin. Ah, lagi-lagi kombinasi yang sialan itu. Melemparkanku dari rel kereta yang sedang kunaiki dan dalam hitungan jam dirimu berhasil menculikku walaupun tanpa meminta uang tebusan ke pihak manapun. Kau menyeretku ke tempat persembunyianmu dan di sana kita bertemu dua perempuan yang sama-sama kita kenal. Kita menyapa mereka yang sedang cukup terkejut. Dirimu membuka lagi satu botol bir setelah sekian botol kau habiskan sebelumnya. Meminumnya sedikit lalu menyeretku serta ke dalam kamarmu.

Di kamarmu, aku terpaku pada sekian judul buku dan mengingat kita yang sering bertukar puisi-puisi Neruda serta obsesi kita dengan Amerika Latin. Kau memagutku sementara aku teringat satu baris puisi Neruda. Aku mencintaimu seperti sesuatu dalam kegelapan yang harus dicintai. Teringat Marquez. Cinta itu seperti kolera. Sama-sama membuatmu demam tinggi. Hidupku sedang gelap dan juga demam. Mungkin aku mabuk kata. Terlalu banyak kata-kata di kepalaku, sehingga sejenak kau pun bertanya dahulu. Apakah aku baik-baik saja?

Sepertinya aku mulai baik ketika aku akhirnya menemukanmu. Setidaknya satu hal itu membuat hari kelabuku terasa mulai menyenangkan. Ada semacam suntikan adrenalin dalam keberadaanku. Ada sesuatu yang mengendap dan membuat diriku dalam titik nyaman. Dan aku jatuh dalam pelukanmu. Rajahmu di lengan kiri seolah menyelimutiku untuk tidak bergerak. Diam dan benar-benar beristirahat.

Kita meledak di sekian kata dan kau menyodorkanku sebuah apel untuk kita makan setelah bercinta. Aku bertanya. Sejak kapan Adam memberikan apelnya kepada Hawa? Seolah-olah aku dibawa ke sebuah masa yang purba. Aku teringat sebuah candi. Lingga dan yoni yang berjajar dari asal mula manusia. Kita pernah melihat wujudnya di ibukota. Monumen-monumen yang dibuat presiden seumur hidup kita pada abad yang baru saja lalu. Ada semacam ekstase yang jatuh mengaliri nadimu, oh, di gua garba itu. Bahasa-bahasa kuno keluar dari mulutmu. Aku teringat aksara-aksara di sebuah kolam serupa susu. Aku mengeja kalamakara. Diajari seorang bengawan tua dari Barat.

Kita sama-sama pernah berada disini, kita sama-sama tidak berada disini. Segalanya menjadi wagu dan pecah di jalan-jalan. Seperti tutup-tutup botol yang bertebaran di sebuah jalan di kota ini, yang tidak pernah selesai kuhitung sebagaimana aku tidak pernah selesai menghitung bintang di langit Yogya yang kelam. Aku tengah mencoba membaca bintang-bintang. Kutemukan banyak formasi segitiga, segiempat, segilima dan segidelapan. Aku tengah membaca arah. Seringkali aku ingin pergi begitu jauh. Jauh-jauh sekali bahkan rasanya seperti membuang diri ke lautan dan tenggelam.

Rajah di nadi tanganku semacam menjadi pertanda, merah marun merona, akan awal dari segalanya. Menatapmu aku seperti tergerak untuk diam dan mencari pojokan untuk menyendiri. Ah, kita orang-orang lelah yang sebenarnya telah mengerti jalan-jalan sunyi berujung kesendirian itu dan tetap memilih untuk mengambilnya. Sedang apa sebenarnya kita disini, malam ini, kawanku? Dimana kita telah tinggal pada sesuatu dan meninggalkan sesuatu.

Kau seperti sebuah pemantik api berwarna merah menyala yang menerangi jalan yang abu-abu nyaris telah gelap ini. Kau berada di sebuah titik yang terletak dalam semesta untuk memancing apa yang akan datang. Maka datanglah ambruk ke dunia. Aku tersiksa bahkan menangis di kamar mandi pagi-pagi sekali. Mendentingkan gelas-gelas berisi anggur merah murahan bersama kawan-kawan terdekat. Berpelukan. Kehujanan. Hingga tenang sendiri. Aku tengah melepaskan apa yang selama ini seharusnya dilepaskan.

Di sebuah bukit bekas candi berwarna merah, subuh-subuh sekali, aku mengenangmu. Mendaki dan menghilang di hutan-hutan yang sama sekali tidak terletak di peta Jawa kontemporer. Aku seperti pernah, aku seperti sering, menapaki jalan-jalan begini. Batu-batu besar dan aku menjejaknya sambil mengingatmu. Di atas bukit itu sambil menatap Merapi yang terlihat sejajar kurang ajar dari tempatku berdiri, dunia telah berputar tanpa bunyi-bunyian dan kabut menyelimuti seluruh Yogya. Aku terhenyak. Rajahku berdenyut. Serupa jantung. Serupa alam. Sedetik itu aku merasa lenyap dan bayanganmu menggelap.

Tatapanmu seperti malaikat pencabut nyawa yang mengingatkanku akan jalan-jalan soliter. Gereja-gereja yang kosong di bukit-bukit yang tak kalah kosong. Kematian-kematian yang dingin. Koakan gagak-gagak hitam menggema di langit-langit yang sendu dan biru. Bau kematian begitu dekat. Segalanya sudah dekat. Terlalu banyak pertanda dan yang kesekian dibawakan oleh sosokmu. Sudah terlalu lama aku mencarimu hingga aku seringkali mengingatmu dengan satu rasa sendu. Apakah ingatan selalu membuat segalanya menjadi sendu? Aku termenung hingga ingin berhenti menghembuskan rokok. Sepertinya aku sudah terlalu lama terbakar menjadi abu.

Aku melihat segalanya terbelah dan pecah. Aku ingin langit jatuh menimpaku sesekali.

Kemunculanmu seperti dalam dongeng-dongeng dan aku tersisa untuk mengolahnya sendirian. Ah, takdir laknat ini seperti candu dan aku tengah dihisapnya hidup-hidup. Tengah kurangkum kata untuk merekam segalanya yang telah lalu, segalanya yang akan. Mungkin pada sekian kata telah muncul bau kelopak bunga mawar dan anggur-anggur yang ranum. Aku mengingat gigitanku pada apel yang kesekian yang kau berikan malam-malam. Dan tidak ada yang mengusirku dari Eden, hingga aku sendiri yang angkat kaki.

Ini sudah malam yang kesekian dan aku ingin bercerita mengenai gurun-gurun. Gurun-gurun kering dimana aku pernah mati dengan sekian luka di tubuh karena perang dan perang dan perang. Obsesi kematianku bahkan masih sama, berakhir dalam kunyahan burung-burung nazar. Terbang kembali ke langit. Tiga ribu tiga ratus tahun dan masih saja sama.Waktu dan bilangan adalah hitungan-hitungan pasti. Jika sudah sampai disini manusia terdengar aneh dan sedikit menyedihkan.

Di masa yang demikian bentuk hatiku telah remuk redam dan aku menjalani hidup dalam helaan nafas yang panjang. Kau berkata seandainya hati kita semua terbuat dari kardus sehingga tidak terasa menyakitkan. Pada banyak seandainya, semua orang berharap demikian. Aku ingin mengenangmu dalam semalam saja namun tak bisa.

Aku melihat kapal Nuh berbalik arah. Melihat dirimu di buritan. Berlayar di laut lepas, sendirian. Kata-kata telah lengkang, hengkang dari tubuhku dan berhamburan dimana-mana. Mantra-mantra telah kutorehkan untuk abadi dan kupanggil dewa-dewa untuk membuat duniaku gonjang ganjing tak karuan. Ternyata aku masih ingin tenggelam lebih dalam. Pada ingatan yang abadi yang bukan hanya milik diriku sendiri.

Dan aku masih melihat segalanya terbelah dan pecah. Andai saja isi-isi kepala bisa dibedah dan semuanya semudah mengangeni seseorang.

Yogyakarta, April 2007

#30harimenulis


Day 1: Wina, 14 Desember 2012

Tara

Kota ini menyambutku. Dingin. Bandara sebeku foto-foto bidikanmu yang murung dan sendu. Semuanya abu-abu. Emosiku bergradasi dan langit terasa akan jatuh dengan bintik-bintik putih. Jangan katakan salju akan turun malam ini, indra perasaku bisa ikut mati. Jatuh ke tanah dan pecah berserakan. Meleleh meresap ke dalam tanah.

Di atas pesawat waktu terasa begitu pelan sedangkan dadaku begitu bengkak dan terasa menderu. Aku kehilangan pegangan waktuku. Aku seperti baru saja melewati kiamatku sendiri, yang kesekian, sedangkan kiamat yang diramalkan banyak orang kabarnya bakal terjadi dalam tujuh hari lagi.

Aku teringat perkataan sahabatku, dua tahun lalu, kau tidak bisa mengontrol jalannya nasib. Kukira tujuh hari menuju kiamat akan kuhabiskan di tempat lain, tidak disini, tidak di kota ini. Yang menyimpanmu dan menyimpan memori ibuku. Apa daya, karena seminar menyangkut pekerjaanku, mendaratkan selembar tiket pulang pergi ke tempat ini. Aku seharusnya pulang pada pagi hari setelah kiamat.

Aku tak menyangka akan melewati kiamat dunia bersamamu. Walau aku tak begitu percaya bahwa kiamat itu akan terjadi begitu saja. Menjadi sebuah kiamat yang begitu teramalkan. Bagiku ramalan bukanlah sesuatu yang absolut. Hidup tidak lagi menarik jika semua terjadi sesuai dengan yang diramalkan. Bagaimanapun ketika aku memutuskan untuk pergi ke kota ini, aku sedang berjudi dengan nasib. Kiamat tidak kiamat, aku ingin menyaksikan peristiwa besar itu, di kota yang sama denganmu. Bahkan jika aku gagal menemuimu dalam hitungan tujuh hari, setidaknya jika aku mati atau tetap hidup, aroma udara yang kita hirup adalah sama. Kita menghirupnya bersama. Juga mungkin ibuku, di suatu waktu.

Kematian adalah sebuah ritual yang harus kita rencanakan dengan baik. Dengan berada disini aku jadi mengerti satu hal yang pasti. Jika aku akan mati, aku ingin berada di sisimu, melebur dalam partikel ledakan debu yang senyawa. Namun jika aku tetap hidup, aku hanya tahu satu hal yang lainnya, merencanakan kematian di kesempatan berikutnya, tetap dengan dirimu sebagai faktor X dan aku sebagai faktor Y. Kamu tahu bagaimana Tuhanku adalah Matematika dan aku tidak percaya agama. Aku lebih percaya pada cerita-cerita yang terlindap oleh waktu dan disimpan Kala.

Benar saja, aku melihat salju jatuh untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku hanya dipisahkan jendela kaca. Secangkir kopi hangat mengepul di hadapanku bersama segelas air. Air mataku menetes ke dalam gelas air. Aku tak pernah melihat kesenduan begitu indah dalam lanskap kota yang serba abu-abu. Serba kamu. Ah, ingatanku terseret kembali padamu.

Aku tahu.

Kau adalah satu-satunya alasan aku sekarang berada di tempat ini.

kemarau yang kedua
:asabhumy

kau habiskan di halaman
bermain sepak bola
walau terkadang debu bertebaran
dan bersarang dengan gatal di rongga hidungmu,
anakku

tak lagi penting
bagaimana dirimu hadir
melalui tubuhku
dan keberadaanku

lalu bagaimana mitos
dan realitas kehilangan batas-batasnya
terkadang

hingga aku menemukanmu
di halaman
di sampingku
selalu

pada hari pertama aku melihatmu
dan rasa di dalam dadaku
membuncah
serta airmata mengalir haru
aku teringat jemariku yang menyentuh kaca
akan sulit bagiku untuk melepaskanmu
perlahan

pada dunia yang penuh dengan kemarau tak tentu

dan aku yang tengah menghilangkan
risau
dan ragu

hingga keyakinan bahwa kau akan baik-baik saja selalu
asabhumy,
anakku

karena dirimulah, harapan akan kehidupan bersemi
untuk segalanya lebih baik
walaupun jalan dan kata begitu panjang lagi gersang

nikmatilah kemaraumu
dan terik matahari yang menyilaukan matamu
yang selalu ingin tahu

jejak langkah dan ingatan

saya melihatmu di berbagai senja. dimana-mana. dalam lima belas kehidupan dan lima belas macam ingatan. saya melihatmu terkadang dalam mata anakku. dalam rasa yang berdegup ketika nafas mengisi rongga dadaku.

saya mulai melepaskan segala kecemasan dan ketakutan. ketika teka-teki itu terjawab sudah. saya akan melepaskanmu. berdamai dengan segala macam ingatan dalam segala masa.

apakah kau akan terlahir kembali? tanya sahabatku suatu sore di teras kami. kemungkinan besar, ya, ketika ruang cahaya itu hadir dan dengan lebih sadar aku pun akan hadir.

seperti anak-anak yang terlahir. seperti anakku yang harus lahir. ketika dunia masih membutuhkan kebaikan. mengingat segala kebaikan.

aku menghitung nafasku. menjalankan irama denyut nadiku, dalam cahaya yang kau ingatkan dengan kehadiranmu.

demi semua ucap syukur,
dan jejak kakiku di atas bumi yang lebih tegap
aku senantiasa berjalan dan melangkah ke depan.