#30harimenulis

Day 16: Wina, 21 Desember 1979

Kenneth

Ia tak menatapmu dan kau tersiksa. Vivian menunggu panggilan keberangkatan dengan menaruh segalanya dan dirinya dengan rapi di kursi kafe bandara itu. Ia bahkan memakai kacamata hitamnya, jaket panjang berwarna pink tua dan celana panjang hitam. Kau tahu itu semua baju favoritnya, karena jaket itu adalah hadiah darimu sedangkan sisanya dibelinya bersamamu.

Vivian menyeruput kopinya. Dirimu merasa pahit. Hanya tinggal lima belas menit dan perempuan di hadapanmu akan meninggalkanmu selama-lamanya.

God see us, Kenneth. This is wrong.

Tidak ada yang salah, Vivian. Percayalah. Tapi sangatlah tidak mungkin aku membawamu lari dan pulang ke Kenya. Aku tak memiliki apa-apa saat ini untuk kutawarkan kepadamu. Mungkin kondisi di negerimu jauh lebih baik daripada negeriku. Di negeriku jika seseorang membawa lari istri orang lain, suami perempuan itu akan membunuhnya. Suamimu akan membunuhku.

So, it is wrong?

Dadamu sesak menjawab Vivian. Lima belas menit telah berlalu. Vivian beranjak dari kursinya. Mengulurkan tangannya. Kalian kembali bersalaman. Tidak lagi berpelukan. Tidak lagi berciuman. Tidak lagi mesra. Hanya bersalaman seperti pertama kali ketika Vivian datang. Formal dan dingin. Vivian berjalan menuju pintu keberangkatan dan tak menengok ke arahnya sekalipun.

Tidak ada lagi penghangat ruangan yang akan mengusir rasa dingin di hatimu. Tidak ada lagi.

#30harimenulis

Day 15: Yogyakarta, 29 November 2006

Raka

Jika dipikir kau tak seberapa paham mengapa perempuan di hadapanmu selalu hampir menangis ketika melihatmu lagi. Kau tak banyak bicara. Hanya mencoba memahami dengan rasa.

Ada rasa sedih dan bahagia yang tercampur aduk. Bolak-balik dalam setiap tatapan. Dirimu pun tak ingin bergerak lagi. Tak ingin apa-apa. Kau tahu, ini bukan sesuatu yang bisa diabadikan dengan kamera.

Kau menerima liontin naga perak dengan batu giok di kepala dari tangannya. Kau menatapnya. Bingung. Menerima sambil menyadari seberapa besar liontin itu begitu berharga bagi perempuan itu. Dia hanya meminta kaus hijaumu yang kau pakai ketika kau pertama kali bertemu dengannya. Dalam hati kau menyanggupinya.

Ada sebuah lagu mengalun dari speaker terdekat. India Arie. Suara desau angin di antara rumpun bambu. Sinar mentari sore jatuh di sela-sela dahan pohon. Selalu sore. Selalu senja.

Masihkah ada rasa sedih yang mewarnai segala? Setelah ini akan kemana? Kemana angin akan membawa peristiwa? Kau tak lagi bertanya. Tak lagi menjawab. Hanya diam. Hening. Bening.

#30harimenulis

Day 14: Jakarta, 22 Juni 2006

Vivian

Bagaimana jika kau sadari bahwa nyawamu sedang berada di penghujung segala doa? Rosario putih masih kau pegang. Kau sedang menunggu Tara, putrimu satu-satunya datang. Dia baru saja menyelesaikan ujian. Kau baru saja mendengar vonis ujian hidupmu yang paling akhir.

Dokter sudah angkat tangan. Mereka sudah tak bisa menghentikan laju penyakitmu. Segalanya tinggal menunggu waktu.

Apakah kau tetap bisa tersenyum menatap Tara nanti sore, sedangkan tadi pagi kau mengalami rasa genting yang paling parah dalam hidupmu. Hingga Tio saat ini masih menangis di pojokan. Matanya masih mendelik bertanya. Mengapa?

Apakah dosa? Apakah pengakuan?

Apakah semuanya masih memiliki arti sekarang? Kau melihat kota Jakarta dari jendela kamar rumah sakit. Kejamnya ibukota. Kau tak ingin berada di sana.

Ingatanmu melayang pada satu nama yang kau sebutkan dalam pengakuanmu kepada Tio tadi pagi. Kenneth Maruti. Yah, laki-laki hitam dengan senyum berlian yang selalu kau kenang dengan penuh rasa salah. Salah ketika kau dan dirinya memutuskan untuk berpisah. Selama-lamanya. Lalu hadir Tara dan Kama adiknya. Kau melarikan diri dari ingatan dan mencari kebahagiaan-kebahagiaan yang lain.

Namun di penghujung hidupmu, hanya satu yang membekas. Ingatan tentang Kenneth Maruti. Ingatan tentang Wina.

Kau ingin terbang. Jauh. Jauh sekali.

#30harimenulis

Day 13: Yogyakarta, 29 November 2006

Tara

Kau kira kau telah gila. Tapi ia benar-benar ada di sana. Hidup dengan segala atribut jiwanya. Kau tak kuasa menyentuhnya. Bahkan memeluknya. Walau ingin. Takut segalanya hilang dan semuanya hanya mimpi belaka.

Kau terdiam lagi. Hingga keheningan meruap dalam satu pitcher air minum. Bening.

Sejak mengetahui siapa dirinya, kau tak lagi makan, hanya minum air. Banyak sekali. Seolah ingin membersihkan diri.

Setiap kali menatapnya kau merasa sepasang matamu panas dan selalu, selalu ingin menangis haru. Sepanjang hidupmu, hanya laki-laki di hadapanmu inilah yang akan selalu membuatmu seperti itu.

Kau menyerap kesedihan yang dibawanya. Rasa ngungun. Nglangut yang selalu khas dan tak pernah hilang.

Dari sebuah kantong kecil berwarna merah kau serahkan sebuah liontin perak berkepala naga dengan hiasan batu giok. Warisan dari ibumu. Milikmu yang paling berharga dan paling kau suka. Kali ini kau hanya mengembalikannya ke pemiliknya yang sah.

Dia. Separuh jiwamu yang hilang. Tiga ribu tiga ratus tahun yang lalu. Di daratan. Di Utara ketinggian.

Ketika segalanya terasa benar. Terasa pada tempatnya. Momen selalu menemukan keabadian. Kau tahu dan dia tahu. Ada yang berhenti disana. Kala yang sedang enggan beranjak memutar roda kehidupan juga tak berselera memakan kalian.

#30harimenulis

Day 12: Nairobi, 17 September 2010

Kenneth

Sebuah email masuk dalam inboxnya. Kenneth Maruti menatap barisan kata-kata yang terpapar di layar komputernya. Lama. Berulang kali. Seolah-olah ingin memastikan bahwa matanya tak rabun oleh umur. Tak rabun oleh waktu yang menipu.

Vivian.

Nama itu lagi. Nama yang membekas pada memorinya.

Vivian. Wina. Tara.

Tara. Putri Vivian mengontak emailnya. Vivian sudah meninggalkan dunia ini empat tahun yang lalu. Matanya berkaca-kaca. Ia melepas kacamatanya dan mengusap air mata yang menggenang di pelupuknya. Sudah berapa tahunkah itu? Kenangan. Rasa hati yang remuk redam. Semakin teriris dengan kepergian Vivian untuk selama-lamanya.

Ia mencoba mengingat hari ketika di Flughafen Wien, ketika ia melepasnya. Ketika ia bertemu dan melepasnya. Dia seharusnya tidak pernah melepasnya.

Vivian, der Schatz.

Jika saja ia bisa memutar kembali waktu. Jika saja ia punya sedikit keberanian yang lebih. Jika saja…

Rasa sakit di dadanya memuncak. Semua kenangan itu kembali seperti air bah. Kenneth tak siap. Tak pernah siap dengan kepergian Vivian. Apalagi ini yang kedua baginya. Terlalu menyakitkan. Ia mencoba menguatkan diri agar jantungnya tidak berhenti dan dirinya menyusul Vivian. Walau ia ingin. Sungguh. Ia ingin.

#30harimenulis

Day 11: Wina, 15 Febuari 1979

Vivian

Pagi tenggelam dalam pelukan dan jalinan. Matanya terbuka ketika mata laki-laki yang segelap malam itu kembali pulas. Dadanya masih berdegup kencang. Sulit memelan setelah sekian sensasi dirasakannya sejak malam tadi.

Vivian ingat jelas segalanya. Manisnya semua. Ia terheran dengan dirinya yang sama sekali tak merasa ada yang salah. Serba sempurna. Ia tak menyangka. Kenneth telah membuka ruang dalam dirinya lebar-lebar. Kesadaran tubuhnya hampir menyentuh langit kota Wina. Serupa coklat hitam Belgia favoritnya sepanjang waktu: lumer, menghitam di lidah, kombinasi manis dan pahit di tenggorokan. Dirinya seperti filling putih rasa mint yang dia sadari adalah coklat favorit laki-laki itu. Dingin. Putih seperti salju. Ia ingat keduanya dapat berlama-lama di toko coklat Belgia tak jauh dari tempatnya. Kemewahan yang jarang mereka dapatkan di negaranya masing-masing.

Vivian merasa lucu. Eropa tak pernah melahirkan coklat. Orang-orang Maya dan Aztec di Amerika Latinlah yang meminumnya pertama kali. Raja Charles VI membawa coklat ke Wina ketika memindahkan istananya dari Madrid pada tahun 1711. Tahun 1832, Franz Sacher menciptakan Sachertorte.

Akhir penghujung 1978, ia memakan Sachertorte pertama kalinya di sebuah kafe Wina, bersama Kenneth Maruti. Cake coklat khas Wina itu selalu menemani segelas kopinya bersama segelas air putih. Selalu. Sebagaimana Kenneth Maruti selalu menemaninya kemana-mana. Menjaganya. Membuatnya hangat sepanjang musim dingin.

Vivian tak sabar dengan datangnya musim semi dan petualangannya bersama Kenneth. Juga sepotong Sachertorte untuk merayakan pagi itu.

#30harimenulis

Day 10: Yogyakarta, 27 November 2006

Raka

Ia seorang laki-laki yang irit kata. Bicara hanya dengan mata. Juga kamera. Hidup untuk merekam dan terbang seperti angin. Kadang datang dan kadang hilang. Singkatnya hidup. Abadinya memori.

Keindahan baginya terletak pada rasa-rasa soliter yang tak lagi menyiksa namun tenang. Rasa diam yang nikmat. Rasa tegak dengan bumi.

Ketika suara perempuan itu nyaris pecah di ujung telpon. Ia hanya menjawab dengan pendek. Ingatan yang panjang. Pertemuan yang singkat. Hanya makna bicara. Seperti bagaimana kekosongan selalu bicara pada foto-foto yang diambilnya.

Ia yang juga mengingat dengan rajah. Sebagaimana perempuan itu mengingat kematian ibunya dengan rajah. Ia merajah kedua orangtuanya di dada. Membawa segalanya kemanapun ia pergi. Rasa kemiripan itu. Rasa nomaden yang abadi. Memaknai hidup dalam perjalanan. Hidup adalah jalan itu sendiri. Kematian adalah titik transit ke pemaknaan yang lain.

Belantara. Gurun Pasir. Padang Rumput. Tebing. Sungai. Pantai.

Juga gunung-gunung. Tinggi. Tinggi sekali. Salju abadi. Kebekuan sekaligus ketenangan yang dicari semua mahkluk. Untuk tidak lahir kembali.

Apakah ini hidupnya yang terakhir? Apakah akan sebegitu pendek? Atau sebegitu lama? Dia tak begitu peduli. Ia memaknainya dengan mata. Untuk lebih bahagia.

#30harimenulis

Day 9: Yogyakarta, 27 November 2006

Tara

Perasaanku seremang warung kopi ini. Airmataku menggenang mendengarkan kisahmu yang sedang didedahkan dua orang sahabatku. Lengkap sudah semesta menyiksaku.

Tiga ribu tiga ratus tahun.
Begitu lamanya waktu.
Begitu pekatnya ingatan dan rasaku padamu.

Demi Tuhan, tombol-tombol hp di tanganku hanya kuarahkan padamu, demi mendengar suaramu malam ini. Memastikan kau masih disana dan aku tidak bermimpi di kehidupanku yang kesekian. Memastikan rongga cahaya dalam ingatanku memberikan aku kesempatan untuk kembali kesana.

Lima belas kehidupan. Aku mencarimu. Mencari teka-teki yang selalu hilang dalam senja itu. Tebing. Dua laki-laki dan riapan angin yang selalu sendu. Matamu yang tengah merekam segala. Terlalu abadi. Terlalu panjang dan dalam. Melampaui segala bentuk cinta, hubungan dan persahabatan.

Aku selalu ingat hangatnya mentari di senja itu. Di senja sore itu ketika aku menemukanmu kembali di depan studio tatto itu.

Aku tahu. Aku tahu. Aku tahu. Selalu tentang dirimu. Perjalanan rohku dan aku yang kehilanganmu. Selalu kehilanganmu. Dalam segala tapaku, segala karmaku. Aku akan selalu membayarnya padamu.

Tiga denyut nada panggil. Dirimu menjawab, ya.

Raka, aku ingat
Sungguh ingat
Kau adalah karmaku
Tiga ribu tiga ratus tahun
Aku menunggu untuk bertemu dirimu kembali.
Kau sudah kembali.

Dirimu lagi-lagi menjawab pelan, ya.

Apapun yang terjadi kemudian, aku tahu, aku akan selalu menangis terharu mengingatmu. Menemukanmu dan tidak lagi kehilangan diriku seperti yang sudah-sudah di masa lalu. Di lima belas kehidupan yang lalu.

Genap sudah mantra itu. Rajah itu.

Por-la.
Lingkaran kehidupan.
Dan samsara. Lingkaran penderitaan.

Aku ingin menutupnya dan moksa.
Sudah cukup dengan segala hadirmu.

Om Mane Padme Hum

#30harimenulis

Day 8: Wina, 15 Febuari 1979

Kenneth

Semuanya terjadi begitu cepat. Pintu yang tak jadi ditutup. Genggaman pada jari-jari mungil perempuan kecil yang membuatnya sulit tidur selama tiga bulan terakhir. Nafas-nafas. Panas. Bau anggur manis membekas pada bibir. Malam berkelebat tak terlupakan pada tubuh putih Vivian bak porselin Cina. Seakan rapuh dan mudah pecah. Tubuhnya serupa kegelapan melingkupi terangnya bulan malam itu.

Malam yang sempurna. Benua-benua jauh menyatu. Saling melengkapi dan bersatu.

Pagi jatuh. Tak ada yang salah. Tak ada juga yang kalah.

Kenneth Maruti. Dua puluh tujuh. Vivian Tanjung. Tiga puluh. Apalah artinya angka? Apalah artinya perbedaan?

Vivian, aku bersyukur karena menemukanmu. Bisiknya ketika pagi belum lagi tinggi dan mata perempuan Cina itu belum lagi terbuka.

Kenneth Maruti tahu. Ia akan mengingat pagi itu. Selama-lamanya.

#30harimenulis

Day 7: Wina, 14 Febuari 1979

Vivian

Sudah tiga bulan Vivian berada di Wina. Begitu jauh dari tanah kelahirannya, begitu jauh dari keluarga dan Tio, suaminya. Entah mengapa ia merasa lega. Ia merasa bisa lebih bernafas, walaupun usaha untuk bernafas itu pertama kali dirasanya terlalu tajam menusuk hidungnya, karena udara musim dingin tengah berlangsung tepat ketika Vivian menjejakkan kakinya di kota Wina.

Vivian mulai bertanya-tanya apakah karena Kenneth, laki-laki rekan kerjanya di universitas. Laki-laki hitam yang berasal dari negara yang tak kalah jauh. Vivian masih ingat tangan hangatnya. Tubuhnya yang jangkung dan tegap. Senyumnnya yang manis, begitu kontras dengan kulit hitamnya. Legam dan membekas. Vivian jadi teringat Pele. Walau dia tidak terlalu suka sepakbola, tapi ia berpikir Pele cukup ganteng. Vivian selalu suka laki-laki berkulit gelap. Ia menyukai Tio dulu, karena untuk ukuran orang Jawa pun ia terlalu gelap, lebih mirip dengan orang Ambon atau Flores. Senyumnya pun manis, ia menyukai laki-laki manis.

Namun, menikahi Tio ternyata tidak menghilangkan sisi kemuraman dalam dirinya. Kemuraman yang diam. Sedih dan tertahan. Bahkan menambah tekanan. Vivian selalu merasa gagal untuk keluar dari tekanan itu. Tekanan yang membentuknya dari kecil. Ibunya yang bagai ibusuri kerajaan Cina dan ia putri yang dikurung di istana terlarang, selamanya. Ia mulai nyaris putus asa. Terkadang ingin ia bunuh diri dengan mengigit lidahnya.

Ketika ia memutuskan untuk pergi sendirian ke kota ini, Vivian merasa dirinya mulai melepaskan diri dari kutukan turun temurun itu. Lalu ketika seorang laki-laki bernama Kenneth Maruti yang menyambutnya di bandara, Vivian merasa dirinya sedikit terselamatkan. Kenneth anak seorang pendeta Kristen di Kenya. Ya, di Afrika. Laki-laki hitam yang datang dari benua hitam. Benua jauh yang tak ada dalam bayangan Vivian. Hanya satu hal yang menggangunya, Vivian masih belum paham terselamatkan dari apa. Vivian mulai tidak bisa membedakan apakah perasaan yang sedang tumbuh di dadanya itu serupa dosa seperti yang dikumandangkan di gereja-gereja? Yang pasti, ia merasa aman dan nyaman di dekat Kenneth. Ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri yang sesungguhnya.

Kenneth mengajaknya makan malam hari ini. Ia tengah bersiap-siap, seperti seorang gadis hendak pergi ke kencan pertamanya walau umurnya sudah kepala tiga. Vivian sedikit malu dengan perasaan kepanikan yang demikian, merasa tak lagi pantas. Apalagi ketika surat Tio datang terselip di pintunya pagi tadi. Surat-surat yang romantik, penuh mimpi-mimpi. Tak pernah Tio seperti itu. Mungkin karena rindu. Mungkin juga jarak. Romantisme mudah terbentuk ketika keberadaan itu tak lagi nyata. Vivian merasa dirinya terbelah.

Suara pintu yang diketuk tiga kali menyadarkannya. Kenneth tengah menunggunya. Vivian mengambil jaketnya dan menghela nafas panjang di hadapan amplop surat Tio.

Auf Wiedersehen, schatz
.
Selamat tinggal, sayang.

Surat Tio selalu berakhir demikian.

Auf Wiedersehen.

Ia berkata dalam hati.

Vivian keluar dari pintunya, menemukan laki-laki hitam dengan senyum berlian membawa satu tangkai bunga mawar merah untuknya. Hatinya mengembang. Ia membiarkan Kenneth mengandeng tangannya sepanjang perjalanan ke restoran. Untuk pertama kali ia yakin, kehangatan genggaman di antara jemarinya begitu nyata.