mata yang tak berkarat
: pada sosok s. dan s.

seumpama lensa kameramu
mataku tak akan pernah mengarat
merekam ingatan akan sosokmu

sebagaimana temujin dan jamuka
membuat sumpah darah
sumpah abadi itu
disaksikan langit dan bumi
ditemani hanya oleh angin pegunungan
dan kuda-kuda kita

aku mengingatmu ketika perempuan itu datang
dan bercerita akan anak-anak kita
bagaimana kita tidak berada disana
bagaimana mereka tumbuh dan meneruskan hidup

aku seharusnya tahu bahwa kematian tidak menghapus kenangan
akan padang rumput dan tebing-tebing di atas danau itu
akan bagaimana saudara sedarah seperti kita
tak hanya terikat sampai mati

apa yang harus kukatakan ketika aku melihatmu lagi
menemukanmu lagi
di sepetak pulau jawa ini
yang jauh dan asing dari daratan kita di utara sana

setelah tiga ribu tiga ratus tahun lamanya
dirimu mengendap dalam perjalanan rohku selama ini
melingkar dan melingkar
hanya untuk kembali padamu

pada apa-apa yang belum selesai akan dirimu
diriku
dan janji-janji kita dulu

sungguh jika wong kar wai sempat memfilmkan kita
dunia akan ikut menangisimu
sebagaimana aku akan selalu menangisimu
pada sore hari yang abadi itu
ketika aku tahu aku akan selalu kehilanganmu sejak saat itu
sejak matahari menyilaukan mataku
dan membuat dirimu abadi
bagai cetakan emas suci
dalam segala memoriku

Advertisements

One thought on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s