merangkum perjalanan ke barat

hari pertama ke barat, sore hari

ada seseorang yang kembali. ada seseorang yang lari. ah sudah seratus hari, tiada menjejak jalan-jalan yang sama. tiada menjejak lagi memori-memori ingatan yang keterlaluan. menyakitkan.

sudah, tidak sakit lagi. sudah tidak ada lagi.

ia mendarat dalam diamnya perjalanan. satu pesawat, satu bis, dan berlarian di antara angin-angin yang menyapa ibukota. sore hari. tidak ada mendung. tidak ada kemacetan yang ramai-ramai. ibukota terasa lenggang menakjubkan. si pengendara angin hanya terdiam. bertemu orang asing. membawa orang asing dalam tunggangannya.

lalu dibelinya oleh-oleh, di pojokan jalan. sepasang bola dan kantung hitam. untuk seseorang yang dirindukan. yang selalu dibawakannya barang-barang. yang selalu dipikirkannya setiap kali ia melihat pajangan etalase.

oh, ditunggunya gerombolan di pinggir jalan. si pengendara angin kemudian menemani sambil bercerita. orang asing itu bertanya macam-macam. ia seperti bukan dari sini. wajahnya. wajahnya berasal dari sesuatu yang jauh. tiga belas ribu tahun yang lalu. oh, di tanah-tanah jauh.

si pengendara angin datang dari timur. ia mengajak orang asing itu beristirahat di suatu tempat. tetapi orang asing itu menjawab “tidak, aku harus tetap berjalan. karena sudah jalanku untuk tetap berjalan”. dengan berat hati di pengendara angin mematikan rokok mereka masing-masing, menengguk satu botol aqua dan mengantarkannya ke tujuan.

sebuah gelang akar disimpannya dari orang asing itu. orang asing itu mengatakan akan kembali lagi ke ibukota bulan depan. ia akan mengirim pesan. ia hanya terpagut oleh sepi yang menyengat. liburan sekian jamnya sudah berakhir, ia melambaikan tangan dan meninggalkan decit angin di jalanan.

hari pertama di barat, menjelang malam

ia bertemu sekian perempuan. bertemu anak laki-lakinya, mengambil barang yang memang milik adiknya dan memberikan titipan kalung batu biru laut ke salah satu dari perempuan itu. seorang perempuan mempersembahkan kepadanya satu buah sushi tuna. yang dapat dimakannya dan hanya itu saja. tempat itu temaram. ia suka. seperti berada di sebuah rumah yang tenang. ia mencapit makanan dengan sumpit, yang hijau-hijau saja dan menenggak bergelas-gelas air hingga beser semalaman suntuk.

ia singgah dan beristirahat di rumah anak laki-lakinya. menyapa menantunya. dan meninggalkan cerita-cerita. mengambil pulang cucu perempuannya. menyalakan sembilan dupa, mengusir dua ekor tuyul dan mandi malam-malam. penuh wangi bunga teratai serta air sedingin es.

hari kedua di barat

sudah hari yang keseratus. orang-orang yang terpanggil akan datang. orang-orang yang sibuk akan selalu sibuk sampai mati. ayahnya masih menangis di pojokan rumah siang bolong. tidak mirip sundel bolong, namun kondisinya menyedihkan. lalu ia memanggil para leluhur di jawa, memanggil pulang ayahnya, memanggil ibunya, istri ayahnya untuk menyampaikan pesan-pesan.

ah di titik kundalini yang tidak tuntas. hati ayahnya terbuka dan menangis sejadi-jadinya hingga banjir air mata di halaman rumah. ia mengambil penyedot debu dan mengalirkannya ke sungai ciliwung di dekat rumah.

ia memanggil orang-orang, mengumpulkannya. membantai mereka satu-satu, setelah sebelumnya membantai dirinya terang-terangan, siang bolong pukul satu, di tengah-tengah banyak orang. dibukanya jubah hijau itu dan diperlihatkannya rajah, diperlihatkannya luka. sudah dua puluh tiga tahun lamanya. dicuatkannya dosa, disingkirkannya aib. tidak ada nama baik katanya. apa ini yang namanya keluarga? semua terdiam.

diselesaikannya segala. dupa-dupa sudah terbakar habis di rumah-rumah. angin sudah membawa segalanya yang sudah terjadi ketika semua pintu dan jendela sudah terbuka. rumah-rumah sepi itu menjadi bersih, suci walau tanpa deterjen mandi.

ah di hari keseratus pukul satu. ibunya sudah dapat pergi dengan tenang. besok pagi ia akan menengoknya. membenamkan tangannya ke tanah dan membalikkan apa yang dari tanah kembali ke tanah.

ia menandatangani semua surat-surat. meninggalkan semua pesan dan wejangan. memeluk dan menciumi orang-orang. karena ia akan pergi jauh untuk tidak kembali. jauh.

hari ketiga di barat, pagi hari

ia menengok apa yang tersisa dari ibunya, di gunung gadung. membenamkan tangan bersama adiknya ke dalam tanah dan berucap “om mane padhe hum”. membersihkan tanah, menabur bunga-bunga di atasnya, berucap doa dan mengunci mantra-mantra. ah, ibu yang tercinta.

ia mendatangi kuil cina itu. menyalakan enam dupa di depan gerbang. bersama adiknya, ia menyembah ke arah utara. tiga kali. enam kali. lalu masuk ke dalam kuil.

melaporkan diri mengenai keluarganya pada kepada semua leluhur. menemui kuan kong. menemui kuan kim. menemui dirinya. menemui dirinya yang lain. ah mengapa terasa mirip dan rasanya ia mau menangis terharu. dinyalakannya tiga dupa di tengah. enam dupa di samping dinyalakan adiknya. direkamnya semua itu dalam gambar-gambar. diminumnya air dari kuan kim. dibawakannya air dari kuan kong untuk dirinya yang lain. disembahnya seseorang yang berada di tengah-tengah. ia tidak kenal siapa. dibentuknya mudra. dibukanya cakra. dan dilebarkannya ruang mereka. memanggil langit. memanggil tanah. memanggil bumi. datanglah orang-orang tua. datanglah semesta. berputaran dan pendarnya ditinggalkan di tempat itu.

di kuil itu, dikeluarkannya sepasang gelang dan kalung. gelang milik kuan kong dan kalung milik kuan kim. dititipkannya barang-barang itu pada si juru kunci. dibisikkannya “ini milik mereka, saya hanya membawakan.” seorang tetua mencegatnya sebelum pulang. menanyakan asalnya. ia hanya berbisik “dari tanah-tanah jauh, dari atap langit yang biru di utara sana.” mereka menghaturkan doa. saling memberkati dalam masing-masing perjalanan. ditinggalkannya tempat itu dengan menyalakan sisa dupa dan disembahnya utara tiga kali dan selatan tiga kali.

terima kasih. terima kasih. terima kasih.

hari ketiga di barat, menjelang sore

dimasukkannya barang-barang ke dalam tas. mengecek apa saja yang harus dibawa dan tidak perlu dibawa. meninggalkan sekotak rokok untuk seorang petani berumur empat ratus tahun dan menitipkan sebuah barang yang memang selalu disimpan petani itu, untuk masih disimpan. dipeluknya orang-orang di rumah itu dan ia pergi di tengah hujan. dititipkannya pesan-pesan untuk adiknya. diberikannya gelang perak milik seorang biksu cina, ia berpesan “jangan dilepaskan”.

ia bergerak lagi ke arah ibukota. bertemu dengan perempuan-perempuan itu kemarin. mencari sosoknya yang jawa yang juga perempuan. berkemben kuning dengan kerisnya yang bengkok. sepucuk melati menempati sanggulnya. ia mengatakan “sebutlah namaku dan kembalikan kerisku, maka aku akan membantu kalian semua.” ia bersantai dengan berbatang-batang rokok. dupanya telah habis digunakan. disusunnya puntung-puntung untuk membentuk huruf.

ia berpisah dengan mereka sementara waktu. singgah kembali di tempat anaknya. menumpahkan isi hati dan keinginannya untuk berhenti sementara. biar ia kembali perempuan. menempatkan dirinya sebagai perempuan. perempuan untuk laki-laki yang telah ditentukan baginya. anaknya berpesan. ia mendengarkan.

hari keempat, menjelang perjalanan kembali ke timur, ke kota senja

pagi hari. ia terbangun tepat sebelum semua alarm alam berbunyi kecuali kesadaran dirinya. anaknya masih belum tidur. sudah waktunya ia menutup cakra. ketiganya. orang-orang tua akan pergi sementara. biarlah ia berbenah di pagi yang baru. ia mengambil bergayung-gayung air. memakan tiga potong biskuit gandum dan meminum teh melati dingin dari kulkas.

anakku, baik-baiklah. saya akan pergi ke timur. ke daerah-daerah berbahaya itu. buatlah kami tidak terlihat. buatlah kami selayaknya turis biasa. kami tidak mau memancing siapa-siapa dan membuat apa-apa. kami hanya ingin jalan-jalan.

ia pergi ketika sinar matahari mulai rata. di atas taksi. di atas bis. dan di atas pesawat. meninggalkan jakarta seperti biasa.

senja di hari itu
:sakyathara

oh,
hari yang jauh itu
di mataku
merekam semua sosok keindahanmu

senja itu, senja itu
bahkan matahari menangisi kepergianmu

ah,
sejak dahulu
beribu-ribu tahun yang lalu

tariklah aku dari kegelapan itu
sebagaimana aku menarikmu sekarang,
sakya

om mane
mane om

om mane padhe hum

carilah jalinan benang merah yang tidak pernah putus itu
di punggungku
di nadi tangan kirimu

tetaplah bersamaku, sakya
apapun
bagaimanapun
garis tangan kita yang sedang menuju menjadi satu

tetaplah bersamaku, sakya
begini saja
begini saja

cukupkan aku
lihatlah aku
sebagaimana aku selalu melihatmu

jalan itu sakya, jalan kita pulang
aku ingin sakya, membawamu pulang
membawamu selalu dalam segala saku yang kumiliki dalam perjalanan-perjalananku

tetaplah bersamaku, sakya
begini saja
begini saja

om mane padhe hum
om mane padhe hum

pradnya sakya
pradnya
om

setelah tiga ribu tiga ratus tahun lamanya
:sakyathara

aku terpaku
pada laku
rupamu

menghening jiwa
menghening rasa

satu
aku
satu
bumi
satu
dirimu

diammu seribu
bahasa
diamku seribu
rupa

terima kasih ku
terima kasih ku
pada segala
dan padamu
seorang

pesan dari harimau putih

regepkeun ku andika;
wayahna miang ka kulon ulah loba carita
poma babalik pikir,
panjangkeun lengkah
eusi lemah budal ngaruang palangkakan
leuwi muih samulataran nagari
ingkah dia!
ingkah dia!
ulah loba catur
bral!
miang!
-=-=-=-=-=-=-

diajeng,
satangtung junun
beak dengkak
palumpatan puput
peun ayeuna kareundeupan mongkleng
sakuriling jagad

-=-=-=-=-=-=-

muley ti danget ieu
jelema bakal nyiliwuri jadi sato
aya anu jadi bagong, aya anu jadi monyet
aya anu jadi ajag
papada silih galungan marebutkeun hateup
ambeh bisa nuruban hulu sewang-sewangan
inggis dihulag, ingkeun bae
bieung bakal ngaborehel sorangan sajatina

-=-=-=-=-=-=-=-

ngaing lain rek agul ku kuda pecak
ngaing nunda wesi dikaler, neundeun halu dikidul
ngaing ngarangkeh bendi dipulasaraan ku tameng bajra
ngaing ridha, mugia dewata nemoni

-==-=-=-=-=-=-

===

Dengarkanlah oleh kalian:
Semestinya berangkatlah ke Barat tanpa banyak cerita
Jangan berubah pikiran
Panjangkan Langkah
Jejak(isi) tanah dengan langkahmu
Air sedang berpusar di seluruh negeri
Menyingkirlah dia!
Menyingkirlah dia!
Jangan macam-macam
Berangkatlah!
Berangkatlah!

===

Diajeng,
Telah setinggi gunung
Sudah habis segala upaya
Tempat pelarian telah tertutup
Sekarang semuanya terasuki/tertindih kegelapan
Di sekeliling dunia

===

Mulai dari sekarang
manusia bakal berseliweran menjadi binatang
Ada yang menjadi babi hutan, ada yang akan menjadi monyet
Ada yang akan menjadi ajak
Semuanya saling berkelahi
Memperebutkan atap
Biar bisa melindungi kepala
Namun jangan dicegah
Biarkan saja, untuk kebaikan
Biar keluar/lahir dengan sendiri sejatinya

===

Aku bukannya akan sombong dengan kuda bermata satu
Aku menyimpan besi di Utara, menyimpan alu di Selatan
Aku mengendarai kereta bendi yang ditamengi baja
Aku ikhlas, semoga yang mahakuasa menemui/menemani/melindungi

+++++++++++++
dipesankan melalui Luka Muhamad, diterjemahkan oleh Anton Septian

om mane padhe hum.
swastiastu.
om