“apa yang akan kulakukan tanpa yang absurd dan yang sementara?”
-mengutip FK, mengutip GM

Perang ingatan malam-malam

Seperti lembaran-lembaran yang kalap dan rapuh. Setelah ribuan perang, saat ini pipa-pipa perdamaian tetap patah menjadi dua. Pada segala hal kau melihat bekas luka peperangan yang menua. Kau lelah dan memilih menggantungkan pedang dengan menebas kepalamu sendiri di akhir hidupmu. Ribuan tahun sudah berlalu dan masih saja kepul peperangan menyeruak dalam udara yang begitu kental, seperti masakan dapur ibumu, hanya baunya membusuk dan tidak untuk dimakan.

Satu lintasan di masa lalu

Pada jaman ratusan perang, di antara pegunungan yang menghampar dan pasir yang menerpa. Berdiri seorang laki-laki yang kokoh, penuh codet dan luka. Seorang raja yang ingin lari dari peperangan yang dia tidak ingin buat tetapi harus dihadapi dengan sekian ketegaran. Semuanya berakhir hari itu, ia menyuruh Ayodya, anaknya, pergi ketika perang kesekian ini hampir dimenangkan oleh mereka. Ayodya bingung namun tetap pergi dan ketika ia menengok dari atas bukit, dilihatnya sosok ayahnya dengan panah menancap di lehernya serta sekian tusukan di tubuhnya. Dan raja tidak juga tumbang, tidak juga tumbang, Ayodya menangis dan tetap pergi.

Pada lintasan pertemuan yang sedih

Kau bertemu dengannya di kilasan belukar hutan, dia benar-benar mencarimu dan mengkhawatirkan dirimu selalu. Kau hanya menganggap hal itu biasa karena dia hanya mencoba melaksanakan tugasnya sebagai pengawal keluarga kerajaan yang setia. Kau mencoba mengacuhkannya, tetapi hari itu dia mengenggam tanganmu melewati padang bunga sepanjang jalan pulang ke istana. Kaisar teramat marah malam itu dan waktu pernikahanmu segera ditentukan secepatnya. Kau juga marah dan menangis. Dia mengantarmu sampai kamar dan mencoba merajukmu. Tiba-tiba kau merasa gila dan sensasi di taman bunga membuatmu menyuruhnya memasuki peraduanmu, masih dengan sangat tiba-tiba. Sehingga sosoknya yang keras kentara menjadi begitu lembut dan tidak berdaya di hadapanmu. Seorang putri yang harusnya dilindunginya selalu, namun kali ini dia melindungimu dengan cara yang lain, yang tabu, yang tidak diperkenankan.

Kemudian kau hanya mengingat dirimu dan dirinya melintasi satu padang pasir yang panjang. Lalu pada fragmen ingatanmu selanjutnya sosoknya tergantung di depan benteng dalam kondisi nyaris tercabik-cabik. Kau hanya bisa berteriak memandangnya, begitu histeris.

Sejarah pulau dan teks

Kau sedang merenungi sekian mimpi akan pulau yang penuh akan pelarian dari tanah-tanah jauh. Nenek moyangmu diantaranya, juga dirimu di antaranya dari garis-garis sejarah yang tidak pernah kau tahu. Kau termangu pada teks-teks di hadapanmu. Menumpuk dan berbau kuno.

Pulau yang nyaris menumpang langit semesta. Kau sedang membaca banyak sisa-sisa peradaban pada tanah-tanah merah di bawah kakimu. Kau sedang menunggu waktu tanah-tanah di bawahmu tenggelam ke lautan dalam.

Pagi yang melelahkan

Setelah akhir dari malam yang panjang penuh dengan ribuan puisi yang terhampar dalam ruangan tamu rumahmu. Seperti di atas kuda hitam, dirinya datang untuk menumpang mandi dan membantumu keluar dari drama kemelut yang kau alami pagi itu. Ia masih memakai celana yang kau berikan hari itu dan sepanjang hari ini ia akan membawa wangi parfummu dalam tubuhnya. Ada bintang jatuh di kepalamu, ketika ia berpamitan dan mencium pipimu. Selayaknya perpisahan yang terlalu resmi dan apa-apa yang hendak dikatakan menguap di udara pagi.

Hubungan yang melelahkan

Kau memimpikan dirinya setelah tiga hari perpisahan kalian yang begitu sendu dan dengan tiba-tiba bagimu. Kau seakan tidak percaya akan semua yang keluar dari mulutnya, semua hal yang mengejutkanmu. Semua hal yang tiba-tiba membuat dadamu sakit dan begitu penuh. Kau masih mempertahankan dirimu sampai tujuh hari. Setelah hari ketujuh, demi semua laknat di bumi ini, kau bersimpuh dan merelakan dirimu jatuh ke tanah untuk kesekian kali. Kali ini kau yang menekan angka digit, tujuh lima satu tiga delapan sembilan delapan, angka-angka yang membuatmu bergetar dan menyerah. Kali ini kau yang mematahkan janji yang tidak kau buat dari hari pertama kau melihatnya. Dia tertawa, seakan-akan membahana dan dirimu tersisa dengan kepingan rasa yang rumit.

Kau ingat, di dalam mimpimu kau menangis keras, terkeras yang pernah kau lakukan semenjak hatimu nyaris berubah jadi batu. Kali ini kau merasa akan mati bahkan dengan segala lekuk tubuhnya, yang baru saat ini kau mengecapnya dengan sungguh. Kau begitu rindu, sehingga sumsum tulangmu pun terasa begitu berat dan teriris. Ada sekian hal yang membuatmu bahagia, hal ini terjadi ketika ingatan busukmu berhasil menggali kenangan yang tidak pernah kau pikirkan sebelumnya. Satu kilasan adegan dimana kau memasak untuknya, satu kilasan adegan yang lain ketika dia memelukmu seolah-olah kau akan lenyap begitu saja, satu kilasan adegan yang meresahkan ketika kalian tidak dapat berbuat apa-apa di depan orang banyak. Kilasan-kilasan adegan yang membuatmu pecah koyak di tengah-tengah jarak yang nyaris belum sampai itu.

Melewati ribuan tahun yang koyak di hadapan ingatanmu, kau merasa ia adalah sebuah kunci yang menghadirkan dirinya tanpa bertanggung jawab akan segala akibatnya. Namun ini hanya perasaanmu saja, karena situasi sedang buruk, semua kosmik sedang berantakan, termasuk semestamu dan dirinya. Kau menahan dirimu untuk tidak berkata apa-apa, meng-cancel semua sms yang bermaksud menyatakan rindu pada dirinya. Hanya ada satu hal yang tidak bisa kau tahan untuk tidak kau lakukan, menengok ke arah jendela kaca yang memisahkan dirinya dan dirimu ketika nyaris setiap hari kau melewati tempatnya bekerja.

Jejak pada lelaki-lelaki

Hingga hari ini kau berhenti pada hitungan angka, nyaris kelimabelas. Sekiranya angka sial ketigabelasmu melintas lagi, kau ingin menariknya dan mencumbunya selalu. Amat dan sangat. Tetapi seperti sebuah potongan komik, bak sosok seorang anggota Gerombolan Siberat muncul padamu malam itu, merampok hatimu hingga runtuh.

Di malam yang lain kau begitu kecewa untuk mengangkat segelas vodka yang kemudian mengingatkanmu pada gelas-gelas yang lain. Hanya teman-teman terbaikmu yang membawamu pulang dengan selamat. Kemudian pada satu sosok kau merasa seperti berhubungan inses pada sosok kakak lelaki yang tidak pernah kau punya.

Namun pada malam yang lain, di depan candi-candi Jawa, setelah sekian lingkaran bersaksi di hadapanmu. Kau berhenti pada sosok lelaki dengan pandangan yang tajam, serta rambut hitam meriap-riap, keling dan seketika sekelilingmu luruh runtuh, jauh lebih runtuh ketika seseorang yang lain sedang merampok hatimu yang juga lain.

Lalu ada bom meledak di ruang tamumu juga di kamar tidurmu, sehingga semua hal dalam rumahmu bertebaran malam-malam sekali. Hingga berhari-hari kau habiskan untuk sekedar menata siku-siku jendela rumahmu. Karena pada banyak hal kau tidak menginginkan apa-apa dan siapa-siapa.

Sisi cermin yang rumit

Kau melihat dirimu terbelah pada dirinya, namun kalian sama sekali tidak mirip. Semuanya bermula pada peristiwa di angkringan dekat stasiun. Pertemuan yang mengerjapkan siapapun yang melihatnya.

Setelah bom meledak di rumahmu kau lari mengejarnya sampai pada rumahnya lalu kalian pergi pada sekian batu-batu yang menunggu. Kau tidak tahu untuk berbuat apa padanya dan dia padamu. Hanya diam pada keheningan yang benar-benar serupa batu. Kadang-kadang kalian seperti sepasang anak kembar yang dilepas hilang di belantara dan siang itu kau menemukan dirimu di atas ayunan anak-anak bersamanya. Namun kadang-kadang serupa sepasang kekasih yang terlalu kasmaran dan kalian sempat mencoba bercinta tetapi malah tenggelam dalam rasa yang masih membatu hingga kini.

Mungkin memang belum waktunya.

Dan kau dengan berat pulang mencoba menggali kembali puing-puing yang berserakan akibat ledakan bom di tengah-tengah rumahmu. Sosoknya hanya bisa berwajah sedih melihatmu pulang tanpa dirinya

Benar-benar satu retakan cermin yang sama.

Pada sekian dongeng

Kau masih saja mengaca pada tumpukan cerita-cerita silat dan jari-jarimu mengetikkan dongeng-dongeng bak silat itu tanpa mengerti darimana datangnya. Semua yang berbau terlalu timur dan jauh.

Kau melihat pada segores rajah di punggungmu yang hitam membiru dan seolah-olah membacakan mantera Sansekerta untuknya. Semuanya berupa akhir dari dongeng kematian demi kematian yang terajut dalam alunan waktu. Seseorang yang lain berkata rajahmu serupa cakra.

Kau ingin menceritakan dongeng-dongeng ini untuknya namun lidahmu selalu terhenti pada ketidaktepatan waktu, tempat dan segala suasana. Mungkin dongeng-dongeng ini memang bukan diciptakan untuknya.

Dua tahun dan tiga tahun sedang berjalan

Bom itu meledak malam-malam sekali sehingga tembok-tembok bergetar tidak kentara. Saat ini kau sedang membenahi sekian peristiwa setelah sekian molotov-molotov kecil yang dilemparkan kawan-kawanmu. Namun kau tetap masih dapat menangkap sekian molotov itu dengan baik. Hanya untuk bom kali ini kau gagal menghentikannya bahkan di dalam rumahmu sendiri.

Kau tiba-tiba ingin menghapus sekian sms, sekian nomor dan sekian-sekian kenangan yang sedang berlalu dan seketika menghentikan semua rasamu yang sedang berlangsung. Namun bom yang lain masih menunggumu, sehingga kau membiarkan dirimu menemani sesuatu yang sebenarnya kau enggan, mengerjakan sesuatu yang sebenarnya kau enggan. Untuk sekian kali membuang semua rasamu dalam titik-titik kebingungan yang kau anggap konyol berulang kali.

Sudahlah.

Kau masih sadar ada bom waktu di dalam dapurmu dan dia nyaris memasakkan sarapan pagi untukmu setiap hari.

Dalam rumah-rumah

Tetanggamu seperti anjing yang tidak tahu menahu akan sesuatu. Tidak mentoleransi apapun yang sedang terjadi dalam rumahmu, bahkan bom sekalipun. Karena banyak bom sudah menghujani rumah mereka beberapa tahun yang lalu pada sejarah mereka yang masih juga berdarah oleh sebab utama dari peperangan sejak ribuan tahun yang lalu.

Wilayah pergosipan ibu-ibu adalah wilayah yang begitu asing bagimu, sehingga ketika mendengar di sore yang pasti, semua gendang telingamu bergetar. Padahal sekian tumpukan pekerjaan menunggu di mejamu. Kau terputus pada satu gelas kopi Vietnam, satu batang sam soe dan asbak berbentuk kepala babi berwarna kuning dihadapanmu.

Penjual rujak yang lewat membuat rasa mangga asam di lambungmu. Kucing hitam dan belang-belang masih saja kawin di depan rumahmu.

Kau teringat dalam satu ruangan di sebuah rumah yang membuatmu menjadi begitu kelam dan nyaris menumpahkan kopimu. Aroma ruangan tersebut mengalahkan bau aroma kopi, bahkan suara yang terdengar mengalahkan suara kucing kawin. Kau seolah-olah menengok dalam satu hisapan rokok, pada ruangan kamar ketiga belasmu. Ruangan kamar sebuah rumah yang sudah habis masa sewanya. Benar-benar sudah habis.

Sarapan pagi revolusi

Ada revolusi di sarapan pagimu, tetapi tubuhmu sedang meyumpahi sekian revolusi yang selalu gagal, revolusi yang selalu berdarah. Karena dirimu sedang muak dengan peperangan dan dengan bentuk pertikaian apapun.

Sedang malas, semu dan mengada-ngada. Ingin kau buang revolusi di sarapan pagimu pada tempat sampah yang telah menunggu. Namun dengan memainkan garpumu kau membiarkan tanganmu mengobrak abrik sarapan pagimu dengan gembira.

Lalu menunggu penjual susu segar lewat di depan rumahmu, tepat pada jam delapan pagi, jam sepuluh pagi dan jam duabelas siang. Kau tiba-tiba kehilangan jejakan waktumu dan sekaligus kehilangan revolusi di sarapan pagimu.

Beberapa pertunjukan teater

Kau memang pernah merasa mengenalnya sebelum ini. Sebuah garasi menyentakmu di malam yang sunyi di atas panggung.

Kau masih setelah sekian tahun berturut-turut melewatkan pertunjukan teaternya yang mengingatkanmu bahwa tiada yang absolut selain vodka di dunia ini. Hanya ada satu sms yang masuk di hpmu setelahnya:

/maaf lupa memberitahumu…/
-anjing! via sms, pada hari tentara dan ulang tahun ayahku tahun 2004, tiga puluh tujuh menit melewati tengah malam-

Mitos-mitos berhenti pada ingatanmu, akan tanah-tanah jauh.

Di sekian kedai kopi

Untuk satu malam kau menghabiskan terlalu banyak cappucino dan batangan kretek sam soe. Begitu kata seorang lelaki didepanmu, yang menyulap satu lantai café hanya untukmu. Tetapi kau begitu enggan beranjak dari sosoknya yang seperti Gerombolan Siberat, yang bergaris-garis oranye, menghibur. Dia dengan tiba-tiba berubah menjadi sangat dewasa malam itu dan kau berada dalam titik keremukan yang mendalam. Dongengmu selalu terhenti pada saat-saat yang tidak tepat karena kau tidak sedang ingin mendongeng untuknya. Entah mengapa kau berlanjut untuk mengatakan cinta tepat jam lima pagi.

Satu gelas lemon tea di café yang lain membuatmu terhenti sejenak akan keriuhan perdebatan yang sedang berlangsung di hadapanmu. Kau menemukan beberapa teman lamamu di antaranya. Dalam gemeretak es yang hancur semua pembicaraan yang terjalin berujung tanpa kepastian apa-apa.

Di malam setelah satu gelas lime vodka membawamu dalam aroma reggae yang tidak henti-hentinya dinyanyikan di sebelah bangkumu. Kau selalu menyembah satu sosok tertentu yang sedang menyanyikan reggae live dihadapanmu berulangkali. Untuk itu kau akan memujanya selalu. Namun sosok yang lain yang ingin meraihmu tidak kesampaian dan sosok yang lain itu yang ingin kau peluk juga tidak kesampaian. Malam terlalu laknat untuk dirusak karena alunan reggae sedang bergema di telingamu.

Kopi beraroma rum menggertakkan suasana yang asing dalam percakapan yang tengah terjadi. Sekian sosok lelaki bersliweran di kepalamu, rasamu nyaris mati dan hanya merasakan kepahitan dalam tegukan kopimu. Percakapan-percakapan meleleh menjadi peperangan batin antara beberapa orang yang menapaki hidupmu. Kau masih lelah dengan sekian peristiwa dan memilih untuk tertidur di sofa.

Di sisi lain kau selalu mencintai semua bentuk minuman yang dibuatkan khusus untukmu. Tiba-tiba kau jadi ingin ke ibukota untuk sekedar meminum kopi dan menuangkan kehidupan pada butir-butir gula.

Nyaris sebuah epilog sederhana

Seandainya semua hal semudah depresi, kau akan dengan mudah keluar dari semua hal yang masuk akal dan tidak masuk akal ini. Keluar dari definisi yang tidak pernah pasti adanya.

teruntuk satu bulan yang gila: september 2004

Advertisements

One thought on “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s