IX.
kita tidak berani saling bersitatap, ada semacam ketakutan bilamana dunia akan mengetahui rahasia-rahasia terbesar hati kita. rahasia-rahasia yang akan kita bawa sampai mati, sampai liang kubur dan tidak akan meninggalkan jejaknya di dunia ini dan di masa ini. kita memilih untuk selalu melihat ke arah lain, di hadapan banyak orang, selalu memungkiri apa-apa yang kita rasakan, untuk selalu kita rahasiakan.

aku mengerti dan akan selalu mengerti bahkan pada semua tatapan perempuan-perempuanmu yang kesekian. hal-hal yang jika aku menatapmu, aku akan menyadari bahwa aku selalu kehilanganmu benar-benar. dadaku pahit dan miris, lalu semuanya terlihat begitu menyedihkan.

benar kataku suatu kali, kau adalah rahwana yang datang padaku dengan marah dan terluka. selalu dan selalu. keesokan harinya kau akan pergi untuk menggelar perang terhadap rama-rama yang sombong itu, merebut sita yang kau cintai dengan gila dan dengan darah. aku juga perempuan tetapi aku bukan sita yang hadir untuk diperebutkan. bahkan olehmu, rahwana yang selalu mempesona. aku selalu menolak menjadi sita dan peran-peran yang menunggu sampai dirinya membusuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s