III.
memang benar ada sesuatu yang pahit tengah mengudara, sesuatu yang pahit itu adalah pembunuhan yang pernah kita sama-sama lakukan. kupikir kita sudah saling membunuh di suatu waktu. membekukan kenangan dan melemparnya ke lautan dalam. kukira seperti itu. tetapi kini bau tubuhmu masih saja menempel di tubuhku. aku tak ingin mencucinya sampai tujuh hari.

peta apa yang tengah kau goreskan? lagi untuk kesekian kali, setelah empat ratus hari. kita tidak mungkin berhenti lagi, lalu sekali lagi melakukan pembunuhan atas nama kenangan. karena kita sudah muak menghitung senja yang kesekian.

kau hadir tiba-tiba muncul dari kegelapan, memang masih malam. tetapi kehadiranmu lebih kelam daripada malam. menyeretku begitu saja dalam kegelapan yang menyenangkan. menarikku dari kebusukan senja.

kita lalu bergumul dalam teks, dalam naskah drama, dialog dan monolog yang kita lakukan sendirian, sepi dan tanpa pemandangan pantai. dalam satu kali dua puluh empat jam, sampai kusut, sampai luruh kesemua-muanya. menjadi potongan teka-teki kata yang tidak terjelaskan oleh logika teks manapun.

aku tidak bisa menjelaskan apa yang ada di hadapanku pagi itu, seorang laki-laki yang sedang sunyi sendiri!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s