I.
kita bertemu siang itu dan membuatku mengenang empat ratus hari pertemuan kita yang pertama. dimana di hari-hari itu aku melihat gelandangan yang sama tidur di stasiun kereta yang kulewati di hari pertama aku menjejakkan di kota ini.

kau mengerjap di hari pertama kau melihatku, juga siang itu ketika kita kembali bertemu setelah empat ratus hari. aku melewatkan enam kali pertunjukkan teatermu, yang bahkan tanpa sebuah usaha: sms. aku kecewa dan kupikir kaupun sedikit kecewa, walau kau tidak lupa menaruh namaku di ucapan terimakasih naskah dramamu. terimakasih, kau masih mau mengenangku.

kita yang sudah berada di kota yang sama, kita sudah berada di jarak yang berbeda dan tempat yang berbeda-beda. padahal kita pernah berjanji, kita akan melewati jalan yang sama, bersama-sama di tahun yang sama. kita yang pernah sama-sama kecewa, ternyata melewati jalan yang berbeda.

kau tiba-tiba membuatku pergi dari rumah yang sedang kubangun, membuatku melewati jalan-jalan itu kembali, jalan melewati stasiun kereta dengan gelandangan yang tidur, yang lagi-lagi sosok yang sama.

II.
kau mirip joned? sepintas aku melihat foto-foto pementasanmu, yang lagi-lagi aku tidak datang. kita berdua berdiri sejenak di tengah-tengah kantin mahasiswa kelas kebon binatang ini. tetapi beginilah kita bertemu lagi, bergesekan percikan kenangan dari sekian tatapan di balik kedua belah kacamata kita.

ini sudah hari yang keempat ratus semenjak pertemuan kita yang pertama. lalu berkali-kali, lalu ada jeda, kali-kali lagi, lalu jeda. kemudian waktu berhenti, terkungkung di antara asap rokok dan bau makanan yang masih hangat. jejeran bergelas-gelas teh menyadarkanku, aku hanya punya lima menit untuk melihatmu lagi seperti ini di tempat ini.

kau bilang, datanglah ke performanceku hari rabu. aku mencoba datang. tetapi kau tidak ada. jadwalmu mundur sekian jam, dan aku harus lembur malam ini dengan segenap tumpukan pekerjaan. aku mencarimu di sarangmu, dimana kau mendekam selama ini. itulah kali pertamanya aku menjejakkan diriku di keberadaanmu lagi, setelah sekian hari, dan sekian kali.

dimana kita harus mulai, jika tidak hari ini lagi? aku memberikan sepotong tiket untuk kita bertemu lagi. karena hari-hari ini hanya memberikan kita kebetulan dan kesingkatan yang amat mendalam. kita harus mulai dari mana lagi? pertanyaan yang sama merubungi kepalaku seperti nyamuk-nyamuk yang tengah mengigit orang-orang disekitarku. aku tidak. nyamuk-nyamuk membenciku, hanya menganggu dengan suaranya, karena rasa darahku pahit.

ada sesuatu yang pahit tengah mengudara…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s