semalam aku tidak bisa mempercayai ingatanku serta mimpi-mimpiku. laki-laki dengan baju lengan panjang hitam itu muncul begitu saja dan menganggu semua realitas yang ada di mataku.

aku hanya menatap punggung itu sambil setengah tertidur, tetapi setiap aku membuka dan mengatupkan mataku selalu terjadi fragmen-fragmen ingatan yang berbeda. menit pertama punggung itu masih sama, menit kedua punggung itu berbalik, menit ketiga punggung itu masih sama, menit keempat tangannya mengenggam tanganku, jari-jariku bermain di antaranya, menit kelima punggung itu masih sama. menit-menit selanjutnya adalah menit-menit yang terjadi begitu saja namun tetap dengan kilasan menit-menit dimana punggung itu masih sama.

lalu aku terbangun, mempercayai semua itu mimpi namun bukan begitu lagi kataku, aku masih mempertanyakan ingatan-ingatanku yang semalam seolah-olah mempermainku tanpa memberikan kepadaku sebuah aturan main. ia menyiksaku semalam tanpa meninggalkan bukti-bukti nyata, ingatan-ingatan yang mulai membusuk dan mulai lari jauh dariku.

aku mulai lari jauh darimu…

apa yang kau katakan hari itu benar-benar mengangguku, “memang ada orang bodoh yang akan tetap bodoh dan memang tercipta seperti itu”. aku masih mempertanyakan karena kondisi, keadaan ataukah yan disebut tuhan itukah atau memang demikianlah adanya? pertanyaan-pertanyaan yang selalu mengangguku. karena itu benar-benar menjadi refleksi keadaan saat ini.

“tetapi lagi, karena mereka tidak mau berubah dan tetap seperti itu”