cerita setelah bangun tidur
:untuk kahar

sebenarnya aku tidak bermaksud menceritakanmu sebuah dongeng sesiang ini, sewaktu kita baru saja terbangun dari tidur kita yang begitu panjang setelah mengunci diri kita di dalam kamar berhari-hari lamanya, berpura-pura untuk kehilangan anak kuncinya walaupun terlihat jelas di luar kamar anak kunci itu selalu menempel begitu saja. tetapi ini memang bukan waktunya untuk mengukir sejarah, mencipta sejarah ataupun sebuah legenda. legenda yang entah memang nyata, pernah nyata atau tiada sama sekali hanya karangan mulut-mulut belaka.

aku teringat, satu kali sewaktu kita berposisi seperti ini, berpose seperti ini seperti patung maria atau maryam dan yesus atau isa setelah diturunkan dari salib kayu di gereja-gereja berlantai beku. dirimu yang tergolek begitu saja di pangkuanku dan berguman ibu. bisikan yang ditujukan kepada diriku seorang, bukan pada tembok atau jendela di sebelah kiri dan kanan kita. apakah kau begitu merindukan ibumu ataukah kau menganggap diriku sebagai pengganti ibumu. lalu mengapa kau tinggalkan pangkuannya sekarang setelah bertahun-tahun kau tidur di pangkuannya dan menemukan pangkuanku enam bulan purnama yang terakhir?

ini juga bukan waktunya untuk bermain menjadi ayah dan ibu, karena kita tidak sedang menginginkan seorang anak dan meragukan aborsi sebuah dosa. karena kita percaya reinkarnasi dan karma seperti budha, seperti hindu, seperti hindu-budha walau kita berada di tanah jawa, yang mengenal agama-agama melalui sansekerta, sehingga lahir hindu-jawa, budha-jawa, hindu-budha-jawa. karena lagi, kita akan menjadi agama apa saja, kita akan menjadi apa saja, ketika orang-orang di sekitar kita berusaha memisahkan kita karena alasan-alasan konyol yang sama sekali tidak beralasan, teriakmu setengah serius setengah bercanda. lalu anjing-anjing di luar berlolongan di siang sebolong siang ini, “asu!”katamu menyatakan sumpah serapahmu, “tongseng asu!”lagi katamu menyatakan rasa laparmu, tetapi sayangku jangan kau makan anjingku.

kita besar di antara dua lautan, maka kita sama-sama merindukan asinnya air laut mencuci muka kita. sepertinya ada saatnya kita bersama-sama menatap lautan, menatap laut-laut yang diarungi nenek moyang kita masing-masing. dari pulau ke pulau, dari samudera ke samudera, sampai tiba kita di belantara jawa. kencan mendadak setengah hari di pantai selatan jawa yang ombaknya hari itu terlalu mengerikan bahkan untuk dilihat sekalipun. tetapi tetap saja kita duduk di gundukan pasir itu berjam-jam lamanya, merenungi sesuatu, merenungi pasir-pasir biru, merenungi penyu-penyu di salah satu pertunjukan teater kota kita.

peta-peta kota menjadi buram, sewaktu bunyi motor melaju sedemikian rupa sampai kita lupa dimana letak rumah kita, kamar kita yang tanpa taman bunga itu. kita memang sama-sama penyuka jalanan, adakah kita akan mengarungi pulau ini berdua dengan berjalan di pinggiran pantai berhari-hari bahkan berbulan-bulan, pertama ke kampung halamanmu lalu setelah itu kita tentukan lautan mana berikutnya untuk diseberangi. hanya saja perlukah aku menyisakan remah-remah roti di sepanjang jalan agar masih ada jalan untuk menghindari kutukan-kutukan untuk tidak pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s