aku seketika ingat membaca puisi dengan beberapa orang kawan, saling memungungi bicara tentang keterasingan. lalu terlempar kemudian pada dadamu ketika dadaku sesak sungguh. satu momen lagi di atas tanah, satu momen lagi di dalam air.

ah sungguh maafkan jika selalu membuatmu menunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s