cerita kesepuluh untuk qq

aku ingin melihatmu tanpa kisah tanpa resah seperti daun-daun yang jatuh ke tanah tanpa peduli apa ah duka ah luka bumi sedang mati nestapa lalu semua menggema dalam dada melihat kubur terbuka mayat hilang dan mulut-mulut tergangga di antara bau dan suatu keheranan belaka aku masih ingin melihatmu di antara permainan mata dan ciuman cinta masih saja masih saja dengan mata setengah terbuka dan tertutup teriak riak-riak kita yang pernah bersama.

kegilaanku bertemu tembok kematian yang sudah terkubur dalam-dalam seperti tembok berlin yang dahulu kala memisahkan darah dan meruakkan daging hati dan manusia lalu ada kita yang mati tanpa kosakata tanpa penjelasan di atas nisan yang sudah hilang entah kemana mengapa semuanya menjadi sulit terbaca seperti tulisan ini cerita yang terakhir saja untuk hari ini dan esok hari.

sudah sudah aku ingin berduka seperti kedukaan kawanku pada kakeknya kemarin sore jangan jangan hapus air mata karena yang harus mengalir haruslah mengalir.

:ay

karna nisanmu mengundangku
dengan ukirannya
yang tak biasa
pada batu

dimana waktu hilang
menjadi tak perlu
sama seperti ketika kematian memelukku
hangat
bukan dingin
tanpa kata-kata

kuburnya hilang lagi pagi ini
bunga-bunga ingin kulempar ke atas tanah
atau kutaruh saja di atas kuburmu?

:patut berdukakah aku?
atau kubuang saja semua kuning bendera
hingga tanpa sisa
hingga tanpa luka

cerita kesembilan untuk qq

sembilan belas tahun sudah kulewati semenjak kuhirup udara di luar udara dalam rahim ibuku. ah yah, tepat hari ini katamu mengingatkanku, doamu agar kudapatkan suatu kehidupan yang indah. ah yah, lagi-lagi katamu semoga kau terus menulis, lalu untuk bersikap lebih dewasa dan terakhir untuk mencintai orang yang dicintai. yaitu kau!

aku ingat tiga hari yang lalu, di antara deretan kabel dan hati yang nyaris rusak. kita menyusun rencana paling gila, lebih gila daripada yang pernah ada, segila-gilanya. untuk mempertemukan tiga orang dengan kepala dan hati yang berbeda-beda, lalu menyatukannya dengan damai dan geleng-geleng kepala. cinta segitiga, bukan segi dua, segi empat atau segi-segi lainnya. kau gila, rutukku dalam hati. tapi kau tahu itu, aku pun tahu itu. kita selalu lupa sampai batas mana kewarasan kita pada tatanan ideal dunia nyata. namun dunia mimpi pun tidak sejentik jaripun pernah kita sentuh air segarnya, dan yah lagi-lagi kita tahu itu.

ceritaku menjadi jengah sewaktu aku tenggelam di dalamnya, masihkah ada cemburu di hatimu? aku pun tak mengerti, hanya kosong, hanya melompong, bercinta tanpa cinta itu sendiri. karena hanya kau yang tahu bagaimana membabibutanya tulisan-tulisan rinduku yang terkumpul seratus halaman lebih panjangnya selama setahun terakhir. kumpulan tulisan itu akan kubukukan secepatnya, kuberikan dengan semua hati dan darah yang tertinggal di dalam nadi. kau ingat denyut kita hari itu? berkejaran seperti sepasang kupu-kupu di musim kawin, lukisan memang indah, tetapi goresan selalu kasar dan kusam.

bogor-jakarta, 4 april 2002

aku ingin menemui padang pasir
berlarian di atas butiran-butirannya
berenang di antara lautan dan sungai
bercinta di antara rerumputan
bebas, merdeka dan bercumbu tanpa ragu