sebuah cerita untuk heriansyah latief

sembilan belas tahun lewat beberapa hari sudah dilewatinya. tahun pertama dia dilahirkan di sebuah benua tepat di bawah selatan khatulistiwa, lalu tahun kedua bocah kecil perempuan itu menemukan dirinya di negeri yang panas, tanah yang satu2nya akan dipanggilnya rumah. tahun-tahun berikutnya berlalu dengan tawa, tangis, kadang-kadang luka tetapi dunia masih lugu, masih cerah. tahun keempat belas dan kelima belas, dunia seolah runtuh, kekerasan di mana-mana, keramahan menjadi kemarahan. pertengahan tahun kelima belas dia berdiri kembali sendiri, di tanah kelahirannya, benua sebelah selatan khatulistiwa.

negeri itu serasa kosong, asing, tak dikenalnya. tahun kelima belas dan keenam belas adalah sesuatu kekosongan panjang.

cinta bukanlah sesuatu yang asing, dia mengenalnya pada tahun ketiga belas. cinta monyet pada seorang laki-laki yang jauh di atasnya, 10 tahun jarak di antara mereka. berakhir tidak dengan tragis, cuma perpisahan kecil oleh waktu yang tiba-tiba menjadi biasa. pada laki-laki kedua dia mengenal sebuah ciuman dan genggaman serta pelukan. laki-laki ketiga dia mengenal persetubuhan dan jatuh bangunnya cinta yang bertahan sampai saat ini.

seks juga bukanlah sesuatu yang asing, pengalaman yang tak menggenakkan dan tak ingin diingat kembali di tahun kesembilan. terbuka lagi di akhir tahun keenam belas, tetapi kali ini tanpa trauma, tanpa rasa takut, yang ada hanya cinta dan kenikmatan. laki-laki ketiga bukanlah perhentian satu2nya, masih ada laki-laki keempat, kelima dan keenam untuk berbagi persetubuhan. tetapi hati masih terantuk pada laki-laki ketiga, sampai saat ini, sampai tahun kesembilan belas.

lalu datang laki-laki ketujuh, yang memberi kehangatan, manis tetapi hanya akan berbatas kenyataan. tetapi dia tahu persis, bukanlah saatnya lagi berduka, tetapi saatnya berjalan seperti biasa.

tahun ketujuh belas dan kedelapan belas adalah pencerahan dan perenungan. dia terpaku pada kata-kata dan berubah menjadi penggila kata. kata-kata di hadapanmu adalah salah satunya.

akhir tahun kedelapan belas dia mencium kembali tanah yang tak cuma panas kini, tetapi penuh amarah.

tahun kesembilan belas adalah sebuah awal, sebuah kegilaaan, sebuah pekerjaan, sebuah jalan, sebuah percintaan, sebuah persetubuhan, sebuah penulisan, sebuah kenikmatan, sebuah kematian, sebuah pembunuhan, pengkuburan serta pembangkitan. karena dunia adalah sebuah kekacauan di tahun kesembilan belas, lalu kehidupannya adalah sebuah anti kemapanan, sebuah puisi atau prosa yang tidak beraturan.

bogor, 19 april 2002

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s