cerita kesepuluh untuk qq

aku ingin melihatmu tanpa kisah tanpa resah seperti daun-daun yang jatuh ke tanah tanpa peduli apa ah duka ah luka bumi sedang mati nestapa lalu semua menggema dalam dada melihat kubur terbuka mayat hilang dan mulut-mulut tergangga di antara bau dan suatu keheranan belaka aku masih ingin melihatmu di antara permainan mata dan ciuman cinta masih saja masih saja dengan mata setengah terbuka dan tertutup teriak riak-riak kita yang pernah bersama.

kegilaanku bertemu tembok kematian yang sudah terkubur dalam-dalam seperti tembok berlin yang dahulu kala memisahkan darah dan meruakkan daging hati dan manusia lalu ada kita yang mati tanpa kosakata tanpa penjelasan di atas nisan yang sudah hilang entah kemana mengapa semuanya menjadi sulit terbaca seperti tulisan ini cerita yang terakhir saja untuk hari ini dan esok hari.

sudah sudah aku ingin berduka seperti kedukaan kawanku pada kakeknya kemarin sore jangan jangan hapus air mata karena yang harus mengalir haruslah mengalir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s