cerita keenam untuk qq

gagang telpon bergantungan di tembok kusam, karena yang tersisa hanya suara-suara kerinduan yang penuh kegelisahan. resah, desah lalu mengeliat pelan, semuanya masih berdetak seiring jam dinding di tembok seberang. pukul satu pagi, tubuh mereka berdentang, pada lantai hitam dan kasur kapuk. pernahkah terpikirkan untuk berhenti pada puncak pertentangan, perang dan segala kegaduhan? mereka masuk beriringan, kamar di selatan dan kamar di utara jalan. beronani sendirian dalam kegelapan untuk satu malam yang binal, lagi-lagi sendirian.

cerita-ceritaku untukmu masih belum selesai disini saja, aku tidak akan berhenti sebelum menuliskan setebal satu buku tulis yang benar-benar tebal. tetapi janganlah kau terjerembab jika suatu hari kuserahkan sebuah buku lusuh penuh dengan coretan yang sedikitpun kau tidak ketahui keberadaan penulisan cerita-cerita itu. karena cerita-cerita untukmu juga terselip cerita-cerita kita, cerita-cerita yang juga untukku.