sepiring nasi putih di atas sebuah monitor, sarapan pagi di kota yang selalu hujan, sarapan untuk satu tenggorokan yang nyaris hilang suara karena keringnya batuk-batuk. aku rindu pada sebuah kota yang menawarkan senjanya, begitu lembut, begitu lemah, dan mengundang rancu. sulap menyulap seorang penulis prosa yang nyaris berkata-kata dengan segala bentuk puisi, satu rim tumpukan novel gila yang seakan-akan mengonggongi nusantara dengan judulnya sampai pada penjuru dunia, penerbit sekaligus penerjemah yang nyaris putus asa, lalu pada buku-buku yang ditahan percetakan, buku-bukuku yang tertinggal dan satu diantaranya di tangan seorang penyair, masih pada kota senja, masih pada kerinduan itu. semuanya terhenti pada dia, ketika malam yang terakhir kuberbaring di sisinya. pukul lima pagi waktu itu, segelas kopi dan sebuah kunci. kunci kamarnya dan ciuman rasa kopi, dia pergi menuju sebuah kota di utara hanya untuk sementara, kepulangannya mungkin sebelum kereta api malam berderit menjemput ransel merah itu.

ransel merah itu aku.
terkunci pada pintu semalam itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s