cerita keempat untuk qq

karena cerita-cerita ini semua untuk menyambutmu, bila kau jatuh ke bumi pada suatu bunyi-bunyi sangkakala. semuanya hanya bentuk-bentuk kegilaan fiksi, kegilaan untuk kata-kata, menikam otak dan memamah hati. ataukah hanya bentuk pembenaran untuk perilaku-perilaku yang dimata mereka menyimpang? ataukah hanya penebusan dosa di sebuah salib yang terpaku seribu kata ini? karena aku sudah mematikan aku ketika jejak-jejakmu berbelok ke kanan dan aku masih tersesat di persimpangan. kita yang pernah berbelokan jalanan, ketika waktu masih menunjukkan seribu abad lamanya.

mungkin kau masih ingat pada lidah yang berpelukan pada suatu hujan sore hari dan kabut melati putih. pada dua tusukan lidi, anjing-anjing berlolongan seperti serigala hitam, langit hitam. siapa yang menjadi mangsa malam ini? sepekat perekat suasana berketiduran sekepompongan. pada pagi, ulat-ulat itu kembali pulang ke sarang. seperti kita berpulangan pada kaki gunung-gunung tinggi, pada ibu dan tanah ini. menetek pada kesunyian.

aku masih ingat bagaimana ketika pagi itu, kita yang sama-sama terlahir baru. bagaimana embun waktu itu dan bagaimana suara burung waktu itu. tetapi ada saatnya kita membunyikan lonceng-lonceng kematian, karena pemakaman kita sudah dekat. sadarkah kau jika kini saatnya membacakan doa-doa?

cerita ketiga untuk qq

sepertinya kematian akan berbicara ketika seribu sisi menampakkan diri. sungai-sungai mulai penuh dan tanah-tanah mulai longsor berjatuhan. pagar-pagar bambu memugar dan menancapi bumi. pernahkah kau dengar hujan bertangis-tangis di pinggiran selokan-selokan yang penuh dengan tumpukan sampah perkotaan? seperti
ikut menyesali debu sisa pembakaran becak-becak dan runtuhan dagangan kaki lima. sesekali terdengar teriakannya pada penggusuran kemanusiaan atas nama keindahan.
lalu mengapa ada keindahan jika tak ada kejelekan? semuanya setipis kertas-kertas timah…

masih kegelapan memenuhi langit kota-kota ini. dalam keheranan terlihat bintang-bintang gemerlap, kukira kota ini menyembunyikan bintang-bintang ataukah hanya kilapan-kilapan lampu dari mesin-mesin besi itu? matahari selalu melahap kulit-kulit manusia, memanggangnya begitu coklat, begitu matang. bagai nasi goreng kecap yang sedang pernah tersaji di meja makan sebuah warung tak bernama. mereka lapar, bermata lapar…

jalan-jalan mulai menyambut sajian darah merah, seperti sebuah misa dengan nyanyian perjuangan-perjuangan. hanya asap-asap pemberkatan terasa perih dimata, gas air mata teriak seseorang. sisa-sisa mortir dan martir bergeletakan di jalanan. masih diringi tembakan-tembakan penyelesaian dan penghormatan. jalan-jalan tiba-tiba berubah nama sebulan kemudian. kita terjebak dan tersesat disana, seperti hilang di sebuah negeri penuh dongeng wayang-wayang dari negeri seberang.

cerita kedua untuk qq

mungkin saja di sebuah lemari tersimpan hati-hati kita, terselip di antara tumpukan-tumpukan baju dan celana panjang. ataupun di sebuah buku pada halaman pertama yang terbuka. juga ada pada dompet coklat yang lapuk, bersama lembaran-lembaran uang berbau masam dan koin-koin karatan. pernah juga basah oleh air hujan dan tertutup debu-debu hitam. lalu hati-hati itu sekali waktu nyaris kita robek-robek menjadi kepingan-kepingan patah tetapi sekali waktu kita jaga selalu dengan taruhan nyawa.

kita juga pernah melihatnya pada bingkai-bingkai kayu yang kita beli di suatu pasar becek. malam juga pernah menyaksikannya pada rangkaian bintang-bintang di sebuah langit pada pantai dengan seribu pasir putih. lalu di jalanan yang penuh dengan tanah beserta aroma asap rokokmu. masih dengan sundutan di sisi-sisinya. hati-hati itu malah menjadi indah dengan pinggiran bekas kebakaran hutan.

ketika itu datanglah imaji yang hidup dan mati pada hati-hati. kita pun berkejut-kejut dengan tegangan listrik berkali-kali, seperti jantung-jantung yang pernah sekarat pada irama rumah sakit. denyut hati-hati itu berhenti pada hitungan ke sembilan, napasmu dan napasku berceceran pada lantai-lantai kayu. semuanya seperti permen karet merah muda yang terbuang.

untuk patahan sayap a

karena aku tahu kawanku yang tercinta, kita pernah menjelajahi rerumputan itu pada suatu malam yang sepi. dimana suara sepeda motor sesekali berlalu lalang. lalu peluh yang masih mengalir harus sejenak berhenti, karena hatimu sejenak serasa mati. atau hanya waktu yang berhenti berkejap-kejap? suara jantungnyakah? yang tertidur nyenyak di seberang sana, kau mendengarnya. aku mendengarnya. dan dia juga mendengarnya dalam mimpi-mimpi muda kita. kamu ingat kita yang pernah bergoresan mimpi. hijau, biru dan merah? tak ada putih kawan, juga tak ada hitam. hanya tiga warna belaka. warnanya, warnaku dan warnamu. pilihan kita masing-masing. adakah jalan ini berujung? kita masih duduk bersisian di antara rumput-rumput yang berpeluh.

maka darimu tumbuh bunga-bunga indah bertangkai dan berduri, ah kawan sebegitu besarnyakah luka? lihat dada itu, lihat dada itu, yang kau tusuk bertombak-tombak. kuambil kassa putih dan sedikit arak, kututup lukamu. kubalut dan kubiarkan matamu mengalir perih. hatiku pedih. kau tak bersuara hanya mengenang-genang, seperti kubangan-kubangan air di tepi jalanan ini. tubuhku lalu berdiri dan menari-nari berkecipakan air. tumpahkan segala, tumpahkanlah segala karena kawanku, mendung itu membawa hujan datang beribu-ribu… dan apa salahnya menari di atas luka, menginjak-injak hati dan mati merdeka?

seperti kupu-kupu malam ataukah kunang-kunang, kita yang menari-nari disini. di bawah langit dan di atas bumi. tidak dilarang dan juga tidak dipandang, peduli apa peduli apa pada sisi-sisi kita yang berkikisan. jika bintang pun dibangun dari berjuta-juta kunang-kunang yang mengelilingi bumi. sama seperti kita yang bermain-main di dalamnya. tersamarlah gelak tawa kita seperti lima tahun lamanya hidup di dunia. gelak-gelak yang pernah hilang dikubur di tanah ini. dunia yang tak pernah suci dan tak akan pernah suci. lalu mengapa ia meminta kesempurnaan? kawanku sayang, kita tidak pernah sempurna.

hujan berhenti di sekian ribu curahannya. berkacalah kita pada sungai yang berwarna kecoklatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana? larilah ke danau di pulau selatan, dapatkah bayangan kita terpantul disana, kawan? mungkin pada laut, pada laut hitam kita dapat melihatnya. kita adalah mahkluk-mahkluk dalam misteri yang tak berdasar.

pernah dilewatinya kubangan-kubangan air ini, coklat sedikit berbau. bercampur dengan air got, keringat dan sisa-sisa sungai yang meluap. adakah air mata diantaranya? juga pasar-pasar dan lelampuan remang. masih di jalan-jalan berlubang ini, memunggungi langit abu-abu.

mereka pernah menderetkan bintang di langit hitam
menggores tinta pada kertas putih
menuang air pada gelas
melipat-lipat kupu-kupu kertas

mereka yang pernah mengukir mimpi2