perpisahan
:leavers’01

jalanan malam dan dermaga yang tak berujung
kegelapan yang tiba-tiba diterangi api unggun
malam ini bulan purnama ikut berpesta
saksi yang tak bermata

laut di waktu malam
pemandangan yang menjadi kenyataan
setelah sekian lama
tiga tahun kata mereka
tiga tahun kata-kata kita

siapa yang menunggu sampai subuh tiba?
dan warna-warna kita luruh dengan dunia

salah satu tepian australia barat, 31.10.01 – 1.11.01

PADA ALBUM MIGUEL DE COVAROBIAS

Kuinginkan tubuhmu
dari zaman
yang tak punya tanda,
kecuali warna sepia.

Pundakmu
yang bebas ,
akan kurampas
dari sia-sia.

Akan kuletakan sintalmu
pada tubir meja:
telanjang
yang meminta

kekar kemaluan purba,
dan zat hutan
yang jauh, dengan surya
yang datang sederhana.

Akan kubiarkan waktu
mencambukmu,
lepas. Tak ada yang tersisa
dalam pigura

juga api yang tertinggal
pada klimaks ketiga,
juga para dewa, juga kau
yang akan runduk

Kematian pun akan masuk kembali
kembali, kembali…
Mari.
Kuinginkan tubuhmu

dari zaman
yang tak punya tanda
kecuali
warna sepia

1996

Goenawan Mohamad
dikutip dari: Misalkan Kita Di Sarajevo, Kalam, 1998

:d.a.r.

aku ingin melukis jiwamu dengan segala kata yang ada padaku. sewaktu kau tatap debu di jalanan dan mencoba merasakan debu itu menjadi kau. di persimpangan kiri jalanan…

atau sewaktu sepatu-sepatu hitam itu menendang dirimu dan jaket hijaumu terhiaskan bercak-bercak merah. aku masih mencoba melukismu. jatuh dan marah.

semuanya ada padaku, sewaktu kita menjadi dekat hanya dengan runtuhan-runtuhan isi hati. aku dan kau hanya berdiri di masing-masing pelabuhan. menunggu kapal masing-masing datang menjemput.

dunia kita yang sama-sama abu-abu berkelip dengan warna-warna. datang dan pergi. hingga tak tersisa kata-kata dan hanya kesunyian abadi menghiasi suasana. kita tiba-tiba menemukan kedamaian di antara kematian.