dari embun

aku ingin jatuh

dari daun demi daun

helai demi helai

mengalir

diresap tanah

dari embun

aku menjadi sealiran air

dari hilir ke hilir

dari sungai ke sungai

menuju laut

dari embun

aku ditelan laut

bulat-bulat

kelinci-kelinci percobaan…

berlari-lari

menari-nari

kian kemari

kelinci-kelinci

tak kau lihat serigala hitam itu mengintai dengan bahagianya

kelinci-kelinci

kau masih menari-nari

kian kemari…

negeriku adalah negeri kabut

bukan negeri dongeng

dan bukan negeri mimpi

negeriku adalah negeri kabut

banyak yang takut-takut

dan banyak yang mudah kalut

negeriku adalah negeri kabut

bukan lagi negeri yang bermandi matahari

terlalu banyak asap polusi dan kolusi

negeriku adalah negeri kabut

penuh rahasia

dan mengundang banyak tanya

negeriku adalah negeri kabut

bukan negeri dongeng

dan bukan negeri mimpi

negeriku

ngeriku

terliput kabut

tebalnya begitu berserabut

:akar-akar busuk itu tak jua tercabut

oh, negeri kabut…

sungguh mengapa

ku hanya berusaha

enggan diganti kata

seperti debu-debu bumi

melayang tanpa henti

ditelan diri

dimana raga

berisi jiwa

bermandi cinta

nyalakan dupa-dupa

bawalah doa-doa

disana kau berada

oh, di puncak kata…

ingin kutulis kata yang bukan hanya kata atau cerita yang bukan hanya cerita. tapi dimana? dimana itu semua? terlalu kosong, terlalu hampa, tak ada yang dirasa. sejak kapan ketidakpedulian kuundang kembali hadir di muka?