gelap. penuh warna warni artifisial. lampu-lampu yang ekspresif mengiringi lembaran-lembaran tubuh yang ditiup lagu-lagu penuh hentakan. lihat, lihatlah gerakannya seperti ingin bebas, ingin lepas. seperti berkelebatan apa yang ada di sana. kebebasan yang terlihat mengukung dan tak tentu arah. oh…berhentilah, diamlah, ada yang ingin menangkap semua itu. langit-langit yang penuh bintang buatan tangan, amatilah mata itu. berkaca-kaca, seperti sebuah gelas yang rapuh. memohon untuk dipecahkan dan ditarik keluar dari sana. jiwa yang berontaklah. jiwa yang ingin hidup.

tak seperti mata-mata di sekelilingnya, yang penuh kesunyian di antara keramaian. yang selalu bergejolak, menyembunyikan kesenduan hati yang malang, yang terus menerus terbelenggu. jangan biarkan dia disana…jangan biarkan matinya pelita yang sekilas menyala kembali. terpendam dulu di dalam sana secercah beranjak meninggalkan sarangnya. apa yang membuatnya?

tangan-tangan, bayang-bayang itu menyingkirkan logikanya. hati bicaralah. tangan-tangan tengadah, yang menusuk bagaikan ujung tombak yang tajam. tangan-tangan menghaturkan harap yang nyaris tak terpedulikan. dia masih bergerak, masih menari-nari, tarian yang liar namun sendu. tak kuat lagi, dia keluar, dia mencari…mencari mereka. tangan-tangan yang dilihatnya sebelum ia memasuki tempat itu. dimana-dimana mereka? hilang…

dia berhenti. terlambatkah? lalu pecahlah tangisnya…pecahlah hatinya…cairlah segalanya. mengalirlah semuanya…hati itu masih ada. melangkahlah, gerbang itu baru kaubuka. majulah…dan carilah mereka…

-hrc, batavia, desember 1999-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s