mungkin mata itu terlalu nanar menatap jalanan, disapunya tiap-tiap orang yang berlalu di pinggiran jalan. panasnya ibukota, membuat kepalanya sedikit berputar. perut itu masih kosong dari siang kemarin. tapi semangatnya masih membara, teringat anak sulungnya merengek meminta buku tulis dan peralatan sekolah yang baru. dan juga si bungsu yang menangis meminta susu, yang tak lagi keluar dari tetek ibunya. istrinya sekarang lemah terbaring, sewaktu vonis dokter mengatakan sakit ginjal. tak ada ruang di rumah sakit yang bisa tersedia, tepatnya menerima. hanya ambin setia itu yang menjadi tumpuannya. saksi bisu kehidupan mereka, bercinta, beranak dan mungkin kematian.

ah…dia tak mau memikirkan itu lagi. polesan di wajahnya hanya menambah muram suasana hatinya. baju istrinya tercetak dalam kelaki-lakiannya. lampu merah menyala. cek-kecrek-kecrek-kecrek…bunyi tutup botol-botol itu memberikan kepingan 500 rupiah dan beberapa gelengan kepala…

suatu hari di tepian jakarta, tahun 2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s