apa yang terjadi, bu guru?

dimana kelasku?

mengapa hitam?

apa yang terjadi, bu guru?

dimana kelasku?

mengapa mengabu?

dimana buku-buku, gambar-gambar, dan mana bangkuku?

belajar apa hari ini kita, bu…?

bermain bomkah?

bingung, haruskah kumoncongkan senapan ini ke hadapan saudara-saudaraku? apa yang akan terjadi pada keluarganya? tak ada bedanya kami ini sebenarnya, mencoba untuk bertahan hidup. tapi mengapa sisi ini menjadi begitu berbeda dan mengapa harus peluru yang berbicara. bukan kata-kata. mengapa negeri ini melahirkan anak-anaknya untuk saling bertarung, saling menyalahkan, saling bunuh? apa maksudnya? lalu apa yang harus kudengarkan perintah atasan? atau teriakan-teriakan? bagaimana juga nasib keluargaku nanti jika aku dikeluarkan? bingung…aku bingung…tidakkah engkau juga merasakan?

panas…menembus kulit, daging, tulang…ah, panas sekeping metal panas menembus tubuh. kenapa? kenapa begini jadinya? belum habis kopiku, hanya menonton massa yang entah apa maksudnya. mempertahankan bapak? bapak siapa? aku tak tahu. yang kutahu hanya orang berlari lalu lalang dan aku juga ikut lari. terhenti sewaktu metal keparat itu menembus tubuhku. salah apa aku? salah apa keluargaku? salah apa negeri ini?

tolong bawa aku berkejapan, meliuk-liuk bersama angin, menghapus segala. aku tak kuat, menghilanglah bayang-bayang. bukan itu yang kumau, kuminta dekapanmu, hangatmu. kau tak perduli, membabi buta menerjang yang ada di depanmu.

ah, betapa, betapa kuatnya cengkramanmu dan aku hanya terhempas…

keras

dan aku luluh…

tenggelam dibawamu, bayang-bayangku. yang terkadang hitam, putih dan mengabu. seperti debu, kau terus mengelilingiku sampai kau lapuk bersamaku. masihkah ada lagi yang tersisa?