2 X 3

kamar ini berantakan
celana panjang yang bergantung serampang
buku-buku yang bertumpuk berserakan
rak buku yang belum kesampaian
tong sampah yang belum terbelikan
digantikan kantung plastik putih bening

kasur, bantal, selimut tumpang tindih
di sisi dinding bersandar foto dgn frame kayu
terselip dekat bantal
yang kucium tiap pagi
sebelahnya weker dengan baterai sekarat
membuatku nyaris telat

kertas-kertas berjajar di lantai
ditemani buku-buku
yg salah satunya dikejar waktu perpustakaan sekolah
meja ini penuh sekarang
setengahnya oleh monitor
setengahnya informasi sejarah russia

tuhan, kamar ini sungguh berantakan…

kompas minggu, 8 april 2001:
Yakni orang-orang yang tak setuju dengan gaya pemerintahan Gus Dur yang benar-benar kacau manajerialnya tapi muak melihat para wakil rakyat yang arogan dan berpesiar ke manca negara atas nama studi banding serta pura-pura tidak mendengar ketika guru sekolah rendah demo menuntut perbaikan gaji serta buruh berteriak menuntut perbaikan upah, namun senyum-senyum ketika pemerintah menaikkan gaji mereka dan membagi mobil. Orang-orang yang tidak ingin Gus Dur turun tapi tidak bisa terima melihat para santri dan ulama menjadi pemberang, merubuhkan pohon-pohon sepanjang jalan.

Orang-orang yang mencintai presidennya tapi heran dan terluka melihat presidennya bepergian ke luar negeri dan naik haji demi surga bagi dirinya sementara orang-orang dibunuhi di sebuah neraka dunia, di sebuah negeri yang dia pimpin dan diamanatkan rakyat kepadanya. Orang-orang yang antusias melihat MPR dan DPR kritis pada pemerintah tapi sangat gerah melihat Ketua MPR anak-beranak berdesak-desak bersama para pendemo serta berorasi seolah dia tidak punya forum resmi.

Orang-orang yang membenci dan tak putus-putus dianiaya Golkar serta ingin partai ini dulu dilarang ikut pemilu, tapi sekarang tidak setuju partai ini dibubarkan bukan karena dia cinta melainkan karena partai bermasa lalu buruk itu (apa boleh buat) telah dipilih oleh sejumlah banyak orang. Lagi pula dia takut kecenderungan terkutuk lama untuk menjadikan sebuah organisasi sebagai cap sosial macam PKI-yang setiap orang asal dicap dengan label itu berhak diapakan saja tanpa pengadilan, akan terus berlanjut.

Orang-orang yang tidak memihak partai mana pun, ras apapun, ideologi apa pun, serta tidak memiliki kekuatan massa apa pun, namun merindukan dihormatinya akal sehat dan sebuah kriteria objektif bagi setiap pelanggaran kemanusiaan sehingga siapa saja, dari ras apa saja, agama apa saja, partai apa saja, berapa pun jumlah massa dan pengikutnya, jika terbukti melanggarnya dengan jelas dikenai hukuman.

Orang-orang yang terheran-heran melihat dana rekapitulasi perbankan yang demikian besar bisa dibiarkan tanpa perhatian dan pengurus-pengurusnya bermandi uang diam-diam sementara baik penguasa maupun wakil-wakil rakyat pura-pura tidak tahu dan sibuk bermain akrobat politik. Rakyat banyak yang melata di jalan-jalan raya menadahkan tangan dengan perut penuh politik tapi kosong dari makanan. Orang-orang tua dan ibu-ibu yang membawa beban berat di bawah hujan besar serta harus menunggu dengan sabar untuk menyeberang jalan karena orang-orang kaya dengan mobil mewahnya (dan tidak kehujanan) justru tancap gas dan enggan berhenti sejenak memberi jalan. Hati orang-orang Madura yang terbunuh di Sampit dan perasaan, alasan, dan serta kehidupan, orang-orang Dayak yang melakukan eksekusi.

Seberapa besar sebenarnya ruang yang telah diberikan sastrawan Indonesia bagi mereka yang terpinggirkan oleh arus populer dalam kecenderungan politik, arus modis hedonis yang gemerlap dalam acara-acara TV, dan pembesaran media?

Sudah hampir seabad usia sastra Indonesia modern dan hampir tidak satu pun karya sastra terkemuka yang mengangkat permasalahan sosial-politik dan dunia batin petani di Jawa, apalagi di berbagai sudut Indonesia, padahal jumlahnya luar biasa dan sering diatasnamakan oleh macam-macam kepentingan. Bahkan, dunia santri yang citranya tiba-tiba cemar karena ketergopohan mereka dalam urusan politik, pernahkah ada karya sastra yang menyelami dunia mereka hingga segala puncak gunung es peristiwa bisa dikenali dasarnya? Dan karya sastra yang mengangkat kehidupan orang-orang partai? Dan dunia batin orang militer?

yang kulihat di belakangku…membuatku mendegap rindu…hari-hari yang lalu…waktu…yang selama ini menari-nari di sekelilingku…
menarikan tarian-tarian abadi, berputar, keluar, ke dalam, bagai bola-bola api…terang menyala…menandakan hadirnya….

sebentar lagi aku bertambah satu…

mengupas cinta [4]
:o.a.l.

akhir tahun 1999
ambon berdarah…

malam itu dia datang ke rumah
sudah tiga hari lamanya aku tak berjumpa
tak ada kabar sejejakpun
aku sempat bingung

wajahnya lesu…
tak ada senyum manisnya
lupakanlah canda
matanya seolah-olah menerawang jauh

rumah pamanku digranat
tiga hari yang lalu
keluargaku sekarang termasuk dicari
maaf aku belum sempat kasih kabar

suaranya parau
menceritakan cerita demi cerita
satu demi satu
aku hanya bisa mendengarkan…

malam semakin larut
dan suara peluru terdengar berdesingan
di kota ambon…
juga di teras depan rumahku…

01.04.01|daw

mengupas cinta [5]
:o.a.l.

waktu itu api unggun menyala
di tengah-tengah kita
di antara kawan-kawan
kita berbagi tawa

tapi kau masih sendu
aku semakin trenyuh
memeluk tubuhmu
hangatkah dirimu saat itu?

kepalamu seringkali kau tundukkan
menatap kosong nyala api itu
bayang-bayang api itu melekat padaku
seperti gambar-gambar dan potret-potret yang tersebar

maluku masih bergejolak…
jawab koran pagi

02.04.01|daw

mengupas cinta [3]
:o.a.l.

pertama mengenalmu
lewat suaramu
perkenalan dari kawan baikku
tawamu dan nada bicaramu
seakan-akan aku kawan lamamu yang hilang

ah, candamu
tawamu yang khas
lucu
manise-ku
aku terpesona denganmu

tergetar olehmu
seluruh badanku
berulang kali

aku suka duduk di jalanan bersamamu
melihat lalu lalangnya manusia
atau di dalam bis kota
menuju ibukota

entah bermacam tempat kau tunjukkan padaku
dan tak pernah kau lepas genggaman tanganmu
sedetikpun…

suatu sore…di dekat kolam-kolam ikan
di bawah lindungan bambu dan gemericik hujan
kau kecup hangat bibirku
manis
manise-ku

01.04.01|daw

mengupas cinta [2]
:h

mungkin tak pernah tersampaikan
cintaku yang satu ini
tak pernah berbalas sapa
hanya tatapan panjang

aku masih ingat
balkon setia itu
menemani masa-masa indah dulu
detik itu aku melongok ke bawah
menemukan dirimu

indah…
saat kau melayang di udara
dan bola itu kau sambar
bagai petir
menyentuh tanah

basah…
sosokmu saat itu
aku selalu mencari kamu
sejak hitungan detik yg memukau itu
dan rasa itu semakin menggila

selalu kaku
kelu badanku
tak berani menatap
tajamnya matamu

satu yang kuingat
aku tak sendiri
balkon itu penuh dengan kisah-kisah yang mirip
balkon yang berseberangan itu
dipisahkan dengan lapangan

lapangan multifungsi
bola-volley-basket
upacara
pentas seni
paskibra-pmr-pramuka
daftar itu terus berlanjut

kamu selalu berada di situ
entah berapa lama kutatap gerak gerikmu
di masa-masa itu…

sekarang kuhanya ingin berterimakasih
membuat hidup menjadi berarti
di hari-hari yang lalu

01.04.03|daw

mengupas cinta [1]
:k.k.

senyum hangatmu
menggodaku
di hari itu

aku sering melihatmu
sewaktu aku datang bersama temanku
dan hari itu tak sengaja
aku bertegur sapa
ah, senyummu menggetarkan nadi-nadiku

sering kuhabiskan sore-sore yang panjang
bicara denganmu atau bersama kawan-kawanmu
perjalanan hidupmu
cita-citamu

terkadang aku ingin direngkuhmu
dan aku ingin merengkuhmu

namun berita itu bagai bintang yang jatuh di tubuhku
sewaktu mereka bilang
kau pulang pada istrimu
aku sungguh tak tahu…

entah apa yang terjadi setelah itu
aku tak ingin bertemu
walau aku rindu pelukanmu

gelisahku
melihat senyummu di mataku
kau merekatnya terlalu dalam…