kompas minggu, 8 april 2001:
Yakni orang-orang yang tak setuju dengan gaya pemerintahan Gus Dur yang benar-benar kacau manajerialnya tapi muak melihat para wakil rakyat yang arogan dan berpesiar ke manca negara atas nama studi banding serta pura-pura tidak mendengar ketika guru sekolah rendah demo menuntut perbaikan gaji serta buruh berteriak menuntut perbaikan upah, namun senyum-senyum ketika pemerintah menaikkan gaji mereka dan membagi mobil. Orang-orang yang tidak ingin Gus Dur turun tapi tidak bisa terima melihat para santri dan ulama menjadi pemberang, merubuhkan pohon-pohon sepanjang jalan.

Orang-orang yang mencintai presidennya tapi heran dan terluka melihat presidennya bepergian ke luar negeri dan naik haji demi surga bagi dirinya sementara orang-orang dibunuhi di sebuah neraka dunia, di sebuah negeri yang dia pimpin dan diamanatkan rakyat kepadanya. Orang-orang yang antusias melihat MPR dan DPR kritis pada pemerintah tapi sangat gerah melihat Ketua MPR anak-beranak berdesak-desak bersama para pendemo serta berorasi seolah dia tidak punya forum resmi.

Orang-orang yang membenci dan tak putus-putus dianiaya Golkar serta ingin partai ini dulu dilarang ikut pemilu, tapi sekarang tidak setuju partai ini dibubarkan bukan karena dia cinta melainkan karena partai bermasa lalu buruk itu (apa boleh buat) telah dipilih oleh sejumlah banyak orang. Lagi pula dia takut kecenderungan terkutuk lama untuk menjadikan sebuah organisasi sebagai cap sosial macam PKI-yang setiap orang asal dicap dengan label itu berhak diapakan saja tanpa pengadilan, akan terus berlanjut.

Orang-orang yang tidak memihak partai mana pun, ras apapun, ideologi apa pun, serta tidak memiliki kekuatan massa apa pun, namun merindukan dihormatinya akal sehat dan sebuah kriteria objektif bagi setiap pelanggaran kemanusiaan sehingga siapa saja, dari ras apa saja, agama apa saja, partai apa saja, berapa pun jumlah massa dan pengikutnya, jika terbukti melanggarnya dengan jelas dikenai hukuman.

Orang-orang yang terheran-heran melihat dana rekapitulasi perbankan yang demikian besar bisa dibiarkan tanpa perhatian dan pengurus-pengurusnya bermandi uang diam-diam sementara baik penguasa maupun wakil-wakil rakyat pura-pura tidak tahu dan sibuk bermain akrobat politik. Rakyat banyak yang melata di jalan-jalan raya menadahkan tangan dengan perut penuh politik tapi kosong dari makanan. Orang-orang tua dan ibu-ibu yang membawa beban berat di bawah hujan besar serta harus menunggu dengan sabar untuk menyeberang jalan karena orang-orang kaya dengan mobil mewahnya (dan tidak kehujanan) justru tancap gas dan enggan berhenti sejenak memberi jalan. Hati orang-orang Madura yang terbunuh di Sampit dan perasaan, alasan, dan serta kehidupan, orang-orang Dayak yang melakukan eksekusi.

Seberapa besar sebenarnya ruang yang telah diberikan sastrawan Indonesia bagi mereka yang terpinggirkan oleh arus populer dalam kecenderungan politik, arus modis hedonis yang gemerlap dalam acara-acara TV, dan pembesaran media?

Sudah hampir seabad usia sastra Indonesia modern dan hampir tidak satu pun karya sastra terkemuka yang mengangkat permasalahan sosial-politik dan dunia batin petani di Jawa, apalagi di berbagai sudut Indonesia, padahal jumlahnya luar biasa dan sering diatasnamakan oleh macam-macam kepentingan. Bahkan, dunia santri yang citranya tiba-tiba cemar karena ketergopohan mereka dalam urusan politik, pernahkah ada karya sastra yang menyelami dunia mereka hingga segala puncak gunung es peristiwa bisa dikenali dasarnya? Dan karya sastra yang mengangkat kehidupan orang-orang partai? Dan dunia batin orang militer?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s