mas eka wrote:
Kita ini ibarat Malin Kundang. Ya, Malin Kundang nggak sepenuhnya bisa disalahkan. (Bahkan ada versi baru di mana si ibulah yang salah; masa ibu mengutuk anaknya? mana kasih sayang ibu sepanjang masa?). Malin Kundang kan merantau, bertahun-tahun, dan ketika pulang ia mendapati gap itu. Ada jurang sejarah antara dirinya dan ibunya. Sesuatu yang wajar kemudian ia menolak dan memilih kembali lagi.

So, begitu juga kita. Katakalanlah perantauan itu nggak semata-mata perantauan fisik, tapi perantauan pengetahuan. Kita sekolah dan banyak baca buku. Ketika kita pulang, ketemu teman dan keluarga, semuanya terasa nggak nyambung. Maka ada suatu kesan penolakan yang nggak sadar. Jadi apa bedanya kita dengan Malin Kundang?

malin kundang2 masa kini…

bicara soal asal usul
membuatku mengeluarkan begitu banyak pertanyaan
akan siapa, kapan, dan dimana?
yang terkadang tak pernah kuperoleh jawaban yang pasti
sumber-sumber yang nyaris punah dan hilang
baik dalam lisan dan tulisan
aku seperti sisa-sisa sejarah
dan bayang-bayang masa depan

siapakah mereka?
seorang meneer dari tanah datar
ataukah gadis pemetik teh tanah priangan
pedagang cina yang menjual sutra-sutranya
ataukah abdi dalem keraton surakarta
aku ingin menulis tentang mereka
aku ingin bercerita tentang mereka
dan juga aku ingin bertanya…

aku seorang indonesia
indo yang berarti campuran
nesia yang diambil dari kata melanesia
terlahir di bumi aborigin
namun tumbuh di sebuah kota
dari sebuah rangkaian kepulauan
sang permata khatulistiwa
yang kerapkali mengerlingkan matanya
membuatku jatuh hati pada bumi pertiwi…

sejenak aku teringat akan eyang putriku
yang tak pernah bertemu muka
hanya sisa sebuah foto lama
yang bercita-cita menjadi seorang guru
namun terhenti di tengah jalan
dinikahkan…

kemudian kulihat bayangan kartini
dan juga gadis pantai-pram
yang identik dengan masa dan nasib eyang putriku…

mungkin harapannya tercapai oleh ayahku
dan juga ibuku
apa yg dia harapkan dariku?
sejarah yang berbicara masa lalu
masa lalu yang berbicara sejarah
percakapan yang tak pernah berhenti…

putrimu memberitahuku lewat telpon tadi pagi
aku masih terlelap
dan ku coba mengingat-ingat
namun betapa keras ku mencoba
yang tersisa hanya potongan-potongan gambar
seperti foto-foto lama
hitam putih dan kadang berwarna
tak ada kata-kata
mungkin hanya doa
satu yang kuingat dari putrimu
mungkin inilah yang kauwariskan padaku
-kata-kata dan tulisan-tulisan-
kubisa membayangkan istrimu menangis
dan juga putrimu
aku tak begitu yakin dengan yang lainnya
entahlah mungkin juga ini yang terbaik
mungkin iwan, minah dan rodilah
mereka merasa turut kehilangan
lagi kucoba membayangkan diriku disana
rasanya aku tak akan menangis
hanya diam, seperti yang kulakukan hari ini
dan esok, kau menuju laut jawa
peristirahatan terakhirmu
yang semoga bisa kukunjungi sekali waktu
*teruntuk kakekku yang berpulang kemarin sore*

hari ini panas cukup menyengat
namun angin masih sudi menemani
naik bis kota, dengan standard suatu negara maju
dan tentu saja ber-ac

melihat manusia-manusia berlalu lalang
rokok, cappucino, dan bau masakan itali
gaya-gaya jalanan
dari gothic punk sampai gelandangan yang masih bermimpi di depan
pintu sebuah toko

entah apa yang kucari hari ini
kawanku mengajakku melihat-lihat baju
tak sengaja kutemukan coat-panjang tipis dengan harga sangat murah
tidak membutuhkan waktu lama bagiku untuk memutuskan

pelayan toko itu sungguh ramah
kami berbicara denganmu mungkin hampir satu jam
sejak kubayar coat panjang itu
mungkin dia sendiri sedikit kesepian di toko pojokan itu

dan dia berbicara, berbicara dan bercerita
tentang masa-masanya yang seperti kami saat ini
tentang ujian, sekolah dan guru
disumbangkannya dengan sukarela pengalaman-pengalamannya

dia sedikit mengeluh
tentang tingkah laku “segerombolan suku asli” di toko itu siang tadi
aku tak memberi komentar, hanya temanku yang menanggapi
aku hanya diam, merasakan mereka korban sistem pemerintahan yang
dianggap “adil”

antara yang dirampas dan yang merampas
batas-batas tipis
“the lost generation”
sebuah penghilangan kebudayaan dan ras kehidupan

kami beranjak
berbalas senyum dengan pelayan toko itu
kawanku berkata
“it’s a great bargain hey? and the lady is really nice”
“yeah” kataku pendek

tak lama kumasuki toko buku
toko itu baru, tertata rapi
sebuah tempat yang tenang
seperti sebuah perpustakaan kecil
lengkap dengan bangku untuk duduk sejenak

kawanku ikut masuk, dia melihat beberapa buku2 seni
aku masih menelusuri isi rimba surga itu
tak lama kurasakan kawanku mulai jenuh
cepat-cepat kubayar buku camus “the plague” dan sebuah buku digital
photography yang kutemukan di rak buku2 itu

mendekati sore kulewati satu stand majalah
kutertegun sejenak
melihat cover majalah sebuah majalah worldwide terkemuka
sebuah publikasi yang mungkin entah meraup berapa banyak keuntungan
sampai detik ini

parang, darah
mayat terikat
telanjang
tak berkepala

dan bah!
masih juga kutukarkan selembar kertas terakhir yang kupunya
untuknya…

masihkah ada manusia
jika mereka membunuh tanpa perasaan
masihkah ada manusia
jika mereka berlaku melebihi binatang
masihkah ada manusia
jika mereka begitu tak perduli
masihkah ada manusia
jika mereka tidak menghargai satupun nyawa
masihkah ada manusia
jika mereka tak punya mata, otak, telinga dan hati
masihkah ada manusia
di bumi indonesia?