“murder in the first”by marc rocco
bicara tentang kemanusiaan dalam sebuah “penjara” yang diciptakan manusia, suatu sistem yang memenjarakan “kebebasan” atas benar atau salah. dimana terkadang kebenaran menjadi kesalahan dan kesalahan menjadi sebuah kebenaran, dua sisi yang berbatas setipis kertas. dan ketika keadilan menjadi tujuan, yang mengandung “kemenangan” dalam sebuah pengorbanan.
jiwa-jiwa bertebaran…

ibu,
mungkin aku tak akan pernah mengerti
bagaimana kami semua adanya
yang sekali tenang
dan sekali mengamuk

mungkin aku tak akan pernah mengerti
kelaparan di negeri ini
lapar yang tak berujung
dan haus yang tak terhapuskan

mungkin aku tak akan pernah mengerti
kenapa parang melayang
di antara saudara dan kawan
hanya karena adanya perbedaan

ibu, oh ibu
mungkin aku tak akan pernah mengerti
mengapa aku melihat hari tanpa rasa ngeri
mata dengan tatapan kosong
menunggu harap yang tak kunjung datang

ibu, aku tak juga mengerti
mengapa tenangnya pelukanmu tak kunjung datang
dan mata ini selalu mengalir
melihatmu ibu(pertiwi)…

aku ingin minum
seperti pertama kali aku mengenal haus
aku ingin makan
seperti pertama kali aku mengenal lapar
aku ingin bicara
seperti pertama kali aku bersuara
aku ingin mencintai
seperti pertama kali aku jatuh hati
aku bermimpi dunia dilahirkan kembali…

Manusia dan Cinta

Manusia mengenal cinta dengan caranya sendiri. Ia mencinta, mencinta dan mencinta walau ia tak pernah memilikinya. Cinta datang dan pergi, cinta mengetuk dan meninggalkannya, cinta berbisik dan bermain dengannya. Tak habis2nya ia mencinta, tak habis2nya ia memujanya, tak habis2nya ia mengejarnya ke angkasa keabadian. Bagai ombak di lautan yang berkejar2an, berputar-putar dan mengikis pantai. Mengikis dirinya hingga luluh, tersapukan, terhanyutkan, tak berbekas…

Manusia terpesonakan akan cinta, termabukkan dan terjatuhkan oleh karenanya. Ia terhempaskan, terbuaikan dan terisikan. Tapi ia berserahkan kepadanya segala yang dimilikinya, segala yang diingininya, segalanya duniawinya. Badan, jiwa, pikiran, rasa, cita…tak tersisakan… Cinta hanya tertawa, tersenyum simpul tipis baginya.

Ketika manusia terkecewakan olehnya, bukan kesedihan yang dirasanya. Kosong, sepi, hampa, sunyi merasukkan ke dalam dirinya yang terdalam. Di dalam batas sadar dan tiada, hidup dan tiada… Tapi ia bernyanyi, bersenandung, melagukan kepadanya. Kemurnian dirinya, persembahan agung kepadanya, walau terdengarkan kepiluan yang tak berujung di antaranya.

Manusia tak mengeluhkan cintanya, tak menyesalkan cintanya… Manusia hanya merenungkan cintanya, mengenangkan cintanya… Karna awalnyalah cinta, asalnyalah cinta… Cinta dimana ia bermula dan berakhir…Cinta yang dihirupnya dan ditegakkannya bagai mata air kehidupan, mengalir dan mengalir…

27.09.2k@daw