kami bagaikan bibit yang tersebar ke segala penjuru
selamat atau mati
jalan itu sudah terbentang sendiri-sendiri
sudah saatnya berdiri di atas tanah dengan kaki
dan berbicara memakai otak dan hati
untuk tentukan pilihan-pilihan

tanganku ingin menggengam
meraih sesuatu
tapi kulihat semuanya sejenak
tidak dengan sebelah mata
dan aku pun trenyuh…
tanpa sebab yang pasti
mengenangkan
dan melepaskan
menentukan langkah-langkah
semua butuh pengorbanan

aku ingin menulis, rasanya mati akhir2 ini…aku tak mengerti…jika kubiarkan semuanya terasa meledak-ledak…panas…gerah…seperti tak mampu ditahan lagi….tak terbendung…mungkin mirip gejolak merapi…yang kutatap sepanjang sore selama aku di yogyakarta…merasukku begitu dalam…