Menuju Laut, Menuju Gunung

: T.W.

Di pegunungan adalah tempat aku dilahirkan
Di pantai adalah tempat dirimu dilahirkan
Namun pada laut aku selalu menuju
Inginku berpulang pada gunung

Namun tempat di dadamu
Adalah misteri
Lekuk lenganmu adalah keterbukaan
Dan peganganmu kini
Mungkin sekuat pijakanku pada bumi

Aku merindukan genggamanmu
Yang tak lagi menjadi milikku
Dan tidak pernah menjadi milikku
Selain itu adalah milikmu sendiri

Bak pasir yang tak terpegang
Itulah caraku mencintaimu
Bak air yang mengalir
Seluas lautlah cintaku padamu

Namun mungkin inilah titik dimana
Sepenuhnya aku akan melepasmu
Karena tak pernah benar-benar
Kita berdua kehilangan segala sesuatu
Sesungguhnya

Apakah sekian tangisan tahun lalu
Yang mewarnai sekian gunung
Angkasa
Menjadikan pundak kita berdua semakin berat
dan kita berdua memutuskan untuk saling meninggalkan
Rasa berat itu
Pada tanah tempat kita semestinya berpijak bersama

Aku membasuh diriku pada laut
Berkali-kali setelahnya
Berkaca pada aliran sungai
Di Elo Progo
Di Sanamberi
Hanya untuk mengingat segala cara mencintaimu
Dan juga yang lain

Karena cara kita saling mencintai
Adalah sekian cara semesta
Mencintai segala

Dan kita bukanlah milik yang lain
Selain diri kita masing-masing

Dan dalam kedirian kitalah
Kita menyatu
Selalu

Seperti hal lainnya di dunia ini
Dualitas yang memisah
Namun satu

Jakarta, 8 Juli 2014

Buitenzorg #1: Aliran

:F.V.

Sekian aliran rasaku
Mengalir kepadamu
Pada tetesan hujan yang mendominasi kota ini
Pada moonsoon di Kathmandu saat ini

Di relung jendela
dan pada jerujimu
Rasa yang mengalir ini
Dariku
Untukmu
Akan menyapa
Pagi harimu

Membangunkan lelapmu
Dan menghapus rasa dari segala mimpi buruk
Dalam embun yang menyisa
Debu-debu berterbangan mengisi harimu

Mengalirlah bersama
alur bola-bola yang menjadi keajaiban
di kedua genggamanmu
Warnailah dinding tembok penjara
dan hati manusia yang membutuhkan
Satu senyuman untuk hari ini
dan untuk esok hari

Di hari penuh warna
Aku akan menatap matamu
Dan kembali menggengam tanganmu
Dengan lebih pasti
Dan melepasmu dengan ringan hati
untuk selalu kembali

Jakarta #1: Mencari Gemintang di Belantara Ibukota

: F.V.

Kau merindukan gemintang di langit malam

Di belakang jeruji Hanoman Dhoka

Aku mengirimkan foto gemintang

Karena dalam sesaknya belantara Ibukota

Gemintang pun bersembunyi termakan gemerlapnya lampu-lampu buatan manusia

 

Dalam video tak kurang dari satu menit

Mungkin inilah terakhir kalinya aku akan melihatmu

Sebelum mereka membawamu ke tempat yang lebih gelap

Semoga tak lama lagi

Jalan menuju cahaya itu akan semakin terlihat

 

Aku mencintaimu

Aku mencintaimu, juga

 

Demi segala kata yang terucap

Demi semua lilin doa yang telah kunyalakan dan akan tetap menyala

Ketika kau memasuki ruang yang gelap

Nyala di hatimu akan kujaga

Nyala hati ini akan kujaga

Akan tetap hangat

Melewati musim penghujan di Kathmandu

dan juga di kepulauan

 

Seperti janjiku kepadamu malam itu

Menjadi dianmu yang tak pernah padam

Kathmandhu #1: Peri yang Terkurung

:F.V.

Dalam 108 mantra Tara
Aku mendoakanmu di balik selimut malam ini
Dan tak kuasa membendung
Rasa rindu yang tiba-tiba membludak
Dalam doaku padamu

Aku ingin memelukmu malam ini
Berada di sisimu
Dan mengenggam rambut lembut keemasanmu
Lalu berbisik pada cuping telingamu bahwa segalanya akan baik-baik saja

Aku membayangkan raut wajahmu
Bahkan jika aku menemukanmu
Aku tak dapat menyentuhmu
Dan mungkin kata-kata cinta
Yang mulai terucap
Hanya akan membekas di udara
Dalam jarak mata dan hati kita

Pada Tara
Aku bersimpuh pasrah
Agar ia menjagamu di tanah ini
Di negeri sejengkal karma
Agar penderitaanmu lekas terangkat
Dan kau tengah membayar apa yang harus dibayar

Aku tak mengerti dan tak mencoba mengerti apa yang tengah kita mulai
Dan bekas pelukan di pintu taksi seolah tak cukup
Menjelaskan sekian perasaan dan pengalaman singkat kita bersama

Aku mencoba tidak lagi diam
Dan untuk menggapaimu malam ini
Ini adalah sebuah usaha untuk mulai menuliskan sebuah surat dengan penuh cinta

A
Kathmandhu, 23 Mei 2014

Peta Himalaya I

:T.W.

Aku ingat hari-hari yang panjang itu, membekas tak berarah seolah-olah kita hanya memegang peta tua yang tak kalah rapuh dalam kenangan. Waktu tak berarti di tempat ini. Ingatan melompat-lompat melewati sekian masa. Hanya ada keheningan di puncak-puncak gunung. Di puncak rasa dan diri yang hanya kita kenali masing-masing.

Kedirian yang berkali-kali dihancurkan. Berkali-kali dibangun. Tak kenal lelah. Lalu butiran pasir yang kerap mengecap mata. Perih tak tanggung-tanggung. Membuatmu menangisi diri sekian ribu kali lagi. Seolah menggenapi, cry me a river, tangisan yang menjadi sungai-sungai menuju lautan.

Aku tak tahu apakah dari puncak ini aku akan mengalir bersama Brahmaputra ataupun menuju Gangga. Semuanya menuju Hindia. Perahu yang tak tertambat hanya menawarkan kita masing-masing kayuh. Di Pokhara kita belajar mengayuh perahu kayu dan membiarkan diri kita tenggelam di danaunya, mengamati Puncak Himalaya yang buram dalam musim penghujan.

Mungkin luka-luka di sekujur tubuh, hati dan jiwa telah terbasuh dalam perjalanan ini. Ataukah dia terbuka kembali dan kita saling menjahitnya lagi satu dengan yang lain, memakai benang yang baru: kekinian. Kita, para penyembuh yang terluka. Di sanalah letak bintang lahir kita bersinggungan.

Di atas puncak-puncak gunung, aku berbicara pada bumi. Akan cara-cara yang kita tempuh ketika kita turun. Antara mengalir dan terjun. Antara mengetahui kapan memecah dan kapan menyatu. Mengetahui dengan pasti bahwa kita akan kembali pada segalanya.

An attempt on a passage of Rilke

Look, we don’t love like flowers

Lihatlah, kita tidak mencintai seperti bunga-bunga

with only one season behind us; when we love,

dengan hanya satu musim di belakang kita; ketika kita mencintai,

a sap older than memory rises in our arms. O girl,

getah dari memori yang lebih tua muncul dari lengan kita. Oh gadis,

it’s like this: inside us we haven’t loved just some one

seperti inilah: di dalam diri kita, kita tidak hanya mencintai satu saja

in the future, but a fermenting tribe; not just one

di masa depan, tetapi sebuah fermentasi akan suku; tidak hanya satu

child, but fathers, cradled inside us like ruins

anak, tapi para bapak, yang berayun di dalam diri kita seperti puing-puing

of mountains, the dry riverbed

akan gunung-gunung, dasar sungai-sungai yang kering

of former mothers, yes, and all that

akan para ibu sebelumnya, ya, dan semua itu

soundless landscape under its clouded

lanskap yang tak bersuara di bawah mendung

or clear destiny – girl, all this came before you.

atau takdir yang jelas – gadis, ini semua muncul sebelum dirimu.

(Trans. A. Poulin Jr.: Rainer Maria Rilke: Duino Elegies and the Sonnets to Orpheus).

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Astrid Reza

Silat

: T.W.

Malam ini kita tutup dengan sekian gerakan silat. Dengan pelukan yang tak terlalu erat namun hangat. Kau menatapku lekat. Aku menatapmu lekat. Mungkin inilah kesementaraan yang akan selalu kita kenang. Kau mengusap kepalaku dan aku menaruh kepalaku di lingkar bidang dadamu. Seperti biasanya.

Aku akan menemukanmu kembali ketika segalanya membaik. Ketika segalanya menjadi momen yang tepat. Tak ada yang salah dengan semua hal yang telah lewat. Degup jantung kita hanya kita yang benar-benar tahu letaknya. Rasa yang mendalam itu hanya kita yang mengetahui ketika kita sama-sama menghela nafas panjang.

Kau menemaniku sejauh itu dan sejauh ini. Dan untuk saat ini segalanya cukup. Mungkin aku akan tersedan sedikit namun tak lagi tertahan segala yang sudah seharusnya tumpah ruah. Segala rasa yang tak lagi menjadi sebuah kelemahan namun perlahan menjadi suatu kebanggaan untuk tetap tumbuh dan hidup.

Aku tahu dan aku percaya kita akan sama-sama menguat setelah semua ini, setelah sejauh dan sedalam ini. Kita masih berupa aliran sungai yang tak lagi kering, namun mengalir sepenuhnya ke satu tujuan. Segala doaku kuhembuskan kepadamu. Segala yang menjagaku akan menjagamu jua. Dengan segala kekuatan roh kehidupan yang ada padaku, aku memberkatimu, cintaku.