Di Bawah Tatapan Sang Buddha

Mungkin pada akhirnya

Tak akan ada yang mengerti

Bagaimana cara dirimu mencintai

Bahwa bagimu cinta adalah satu bentuk pengabdian dalam hidup

Dan tidak berada dalam hitungan angka-angka kepala manusia

Bahwa cinta datang dalam sekian bentuk yang tak dapat didefinisikan dalam kerangka apapun

Dan ia datang tak bersyarat

 

Bahwa jalan pada dharma

Adalah satu komitmen

Untuk kehidupan semua mahkluk yang lebih baik

 

Terkadang kau menghela nafas

Menatap pada satu tas di punggungmu

Jika ini adalah beban

Ini adalah beban yang tak terlihat

Kau telah merelakan segalanya di suatu waktu

dan semesta mengujimu sepanjang waktu

 

Di depan Boudanath

Kau mengumankan doa

Di bukit Kopan

Kau telah bersiap

Merelakan dirimu sebagai persembahan

kepada Sang Buddha

 

Dalam sekian hitungan kora

Kau mengucapkan sekian mantra

Demi hati yang lebih terang

Dan semakin bening

 

Bahwa kesakitan di jaman Kaliyuga ini

adalah kesakitan akan hati yang enggan terbuka

 

Menatap sekian mekarnya bunga dimana-mana

Walaupun penuh kesementaraan

Walaupun dalam sekian lumpur dan kegelapan

Kelopak dalam hatimu mulai bergeliat

Membuka

Dalam makna kebijaksanaan dan cinta kasih

 

Om Mune Mune Maha Munaye Soha

Om Tare Tuttare Ture Soha

Kathmandu, 18 Agustus 2014

Tara

Setelah hari jadi sang dewa, Krisna, yang kerapkali meniup serulingnya, seorang gadis kecil memakai gaun pengantin berwarna merah. Lengkap dengan tudungnya. Lengkap dengan sepatu sandal sedikit tingginya berwarna hijau stabilo. Ia berputar-putar berkeliaran bersama anak-anak lainnya. Eyeliner hitam di bawah kelopak matanya telah luntur oleh cuaca panas yang memenuhi hari itu. Seolah ia menangisi dirinya dengan air mata kehitaman. Cemong di mukanya tidak mengurangi tawa kekanakan di wajahnya. Serombongan perempuan Cina muncul di depan antrian, memakai sepatu berhak sungguh tinggi dengan glitter ekstra yang mengalahkan sekian kerlip bintang di langit siang.

Tara sekejap menjadi silau akan pemandangan di penjara itu. Terkadang ia merasa ingin kembali ke kamarnya dan mengambil kamera. Tidak ada seorangpun yang akan percaya dengan pemandangan penuh cahaya yang sedikit menyakitkan itu. Namun ia menghela nafas, menjawab semua pertanyaan petugas dengan santai. Ia tak mengerti bahasa yang mereka bicarakan namun ia mengerti maksud mereka. Akhir-akhir ini ia tidak begitu membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi.

Dan mata Hans seolah semakin nyalang setiap kali ia melihatnya. Bagai macan yang terkurung, setengah mati menyembunyikan taringnya yang sesungguhnya di balik jeruji. Namun segalanya sebenarnya cukup tenang. Hans membawa buku notes kulit yang didapatkannya di Bandung dan ia memakai kalung perak dengan bandul teratai yang hampir hilang di Sanur pada kala purnama yang terakhir. Ranmu membantunya menemukan kalung itu. Membantu Tara menemukan bagian jiwanya yang hilang di suatu waktu.

Malam tiba dan ia tengah membaca surat-surat Hans padanya. Sekian mimpi buruk dan mimpi baik yang dibaginya halaman demi halaman. Juga cinta. Tara kerap kehilangan kata. Namun ia membalasnya. Tak mengindahkan apapun selain kesementaraan dan masa sekarang.

Kathmandu, 9 Juni 2014

Hans

Dia tidak memimpikan akan kembali menemukan perempuan itu di perjalanan di atas langit. Ketika pesawat baru saja lepas landas untuk menuju kota ini. Ia ingat benar setahun yang lalu. Ia memantau gerak geriknya di pojokan sebuah kafe. Rambutnya kala itu masih pendek setelinga, namun senyumnya lebar dan ia langsung menyukainya. Pipinya bersemu merah dan ia mengetahui bahwa itu adalah karena cinta. Caranya menatap laki-laki di sebelahnya. Ia hanya terdiam mengamati mereka. Berkomentar hanya jika ia merasa diminta.

Namun sore itu, perempuan itu menyebutkan namanya dari sebelah kiri lorong tempat duduk pesawat. Ia juga sama tidak percayanya. Ia tidak percaya kebetulan, namun ini sedikit keterlaluan. Astaga, Tara. Ia setengah berguman. Ia segera mengambil tempat duduk di sebelahnya, ketika orang di sebelah perempuan itu dengan tahu diri segera berpindah ke tempat duduk lainnya karena penerbangan malam itu tidak terlalu penuh. Juga karena mereka berbicara sedikit terlalu keras. Ia tidak peduli, dengan segera ia memeluknya.

Ada sesuatu dalam pelukannya. Ada sesuatu yang rapuh, mungkin juga pecah. Ada sisa tangis dalam lekuk wajah perempuan itu. Ia tidak menanyakan. Ia hanya mengerti, walau sedikit menebak. Entah mengapa ia ingin mengusap kepala perempuan di sebelahnya ketika ia menangkap rasa sedih mewarnai suaranya. Di penghujung penerbangan, akhirnya ia memberanikan diri mengusap kepala Tara dan menatap dalam-dalam matanya. Perempuan itu hanya tersipu sedikit, tersenyum sedikit malu.

Mereka berjanji untuk bertemu esok hari di pojokan jalan di tengah alun-alun kota. Perempuan itu berjalan duluan dengan tas punggungnya yang tidak seberapa besar. Ia hanya bisa mengirimkan ciuman yang bersayap dari kejauhan di atas tangga sambil melihatnya pergi untuk sekali lagi.

Sampai esok hari.

Sanur, 10 Agustus 2014

Tara

Ia menemukan kalung yang dibelinya untuk Hans terdampar di atas pasir. Ia membelinya di salah satu toko di Jakarta. Kalung hitam dengan desain perak sederhana bertali hitam. Ia memakai gelang yang sama berwarna merah di pergelangan tangan kanannya. Malam itu setelah selesai upacara bulan purnama, Ranmu menemaninya untuk mencari kalung yang tercecer itu. Mereka menjemurnya di atas pasir sekian jam sebelumnya.

Mereka pertama menemukan cincin daun yang dibelinya di Kathmandu dan diberikannya kepada Belle malam itu. Tara masih ingat detik itu, mata Belle yang berbinar seolah tak percaya. Tara tidak hanya memberinya cincin daun, ia menitipkan sekian harapan atas Ranmu kepada Belle.

Malam itu, Tara hanya memeluk Ranmu dan memijat punggungnya seperti biasa. Menutup luka-luka mereka, membasuhnya dengan harapan. Ia melepaskan Ranmu, sekian kali lagi. Tidak untuk selamanya. Karena keluarga sejiwa akan selalu kembali, seperti ombak tenang yang selalu menyapa kedua telapak kakinya ketika berjalan di atas pantai.

Satu minggu kemudian, Tara tahu ia akan memimpikan Ranmu di Kathmandu.

Kathmandu, 16 Agustus 2014

Tara

Tara menemukan sepasang mata biru Hans menatapnya di balik jeruji besi bermotif bunga ala Newari. Rajutan bambu di belakang Hans entah mengapa menjadi semua latar belakang pembicaraan mereka setelah dua bulan sebelumnya Tara melepasnya di kantor biro narkotika, dengan tangan yang terborgol dan ciuman tak pasti di lehernya, di depan ayah Hans yang emosional dan baru saja bertemu Hans setelah tiga tahun lamanya. Untuk Tara tidak ada kata-kata perpisahan di antara mereka. Hans hanya menatapnya lekat, tak kuasa untuk mendekat karena jarak adalah satu-satunya yang pasti untuk mereka saat ini.

Namun nasib berkata lain. Tara berada di depan Hans saat ini. Walaupun ia harus duduk bersama belasan orang lainnya, tak diperbolehkan untuk menyentuh Hans, hanya saling memandang dan berbicara dalam jarak satu meter. Di tengah-tengah kebisingan belasan pembicaraan dalam bahasa yang belum lagi mereka mengerti. Tara merasa berada di tengah-tengah sarang lebah. Para lebah yang terancam punah, namun tiba-tiba menjelma menjadi kumpulan pembicaraan manusia yang berdengung sama.

Pada latar belakang rajutan bambu yang seadanya, Tara sedikit lega ketika ia menemukan kilatan cahaya telah kembali dalam tatapan Hans. Kilatan-kilatan keajaiban yang ia selalu percaya. Kilatan cahaya yang ditunggunya selama tiga bulan terakhir untuk kembali muncul dalam wujud Hans yang serupa peri dari dimensi dunia yang lain.

Tara tak kuasa untuk tak tertawa bersama Hans, di tengah-tengah semua keabsurdan situasi mereka berdua. Bahwa semesta telah membuat drama yang luar biasa dari kehidupan mereka masing-masing. Bahwa masing-masing lakon mereka adalah lelucon semesta yang luar biasa. Untuk pertama kalinya setelah malam itu, Tara mendengar tawa Hans yang walaupun samar telah mengisi kembali satu relung di hatinya. Telah membuat nyala di hatinya menjadi lebih terang. Ia membalas semuanya dengan senyum sepenuhnya pada Hans. Dan Hans padanya.

Mungkin yang terpenting dalam kehidupan adalah momen-momen dimana manusia merasakan bahwa cinta adalah satu energi yang menggerakkan kehidupan. Bahwa semua peran adalah giliran setiap orang dalam roda kehidupan. Bahwa tak ada yang abadi selain perputaran. Spiral yang keluar dan spiral yang ke dalam. Bahwa cinta di luar sana sepenuhnya bergantung pada cinta yang kita dapatkan di dalam diri kita masing-masing.

Di bumbung hujan yang memenuhi langit Kathmandu hari itu, Tara menemukan Hans kembali. Dan Hans menemukan Tara kembali. Bahwa jiwa-jiwa yang sepenuhnya akan bertemu akan selalu kembali bertemu.

Aksa Stupa

:F.V.

 

Dalam iringan lonceng

dan gerimis hujan

Mata itu menatap

melampaui kibaran angin deretan bendera doa

 

Langit mendung

Anjing-anjing melolong

Para shaman berjoget

dan semua terompet dibunyikan

 

Namun di malam kedua

dentingan gitar menggema dalam sebuah warung kopi

Lalu aku memutar semua doaku padamu

Adakah adakah kau mendengar bisikanku di antara gerimis hujan?

Bahwa aku telah menginjakkan kembali tanah ini

Bahwa aku ingin merengkuhmu ketika kau keluar nanti

Adakah adakah hatimu berdegup kembali

Ketika dua pasang mata kita saling bertatapan kembali

 

Di bawah restu aksa stupa

Aku mendoakanmu

Menjaga nyala lilinmu di hatiku

Menuju Laut, Menuju Gunung

: T.W.

Di pegunungan adalah tempat aku dilahirkan
Di pantai adalah tempat dirimu dilahirkan
Namun pada laut aku selalu menuju
Inginku berpulang pada gunung

Namun tempat di dadamu
Adalah misteri
Lekuk lenganmu adalah keterbukaan
Dan peganganmu kini
Mungkin sekuat pijakanku pada bumi

Aku merindukan genggamanmu
Yang tak lagi menjadi milikku
Dan tidak pernah menjadi milikku
Selain itu adalah milikmu sendiri

Bak pasir yang tak terpegang
Itulah caraku mencintaimu
Bak air yang mengalir
Seluas lautlah cintaku padamu

Namun mungkin inilah titik dimana
Sepenuhnya aku akan melepasmu
Karena tak pernah benar-benar
Kita berdua kehilangan segala sesuatu
Sesungguhnya

Apakah sekian tangisan tahun lalu
Yang mewarnai sekian gunung
Angkasa
Menjadikan pundak kita berdua semakin berat
dan kita berdua memutuskan untuk saling meninggalkan
Rasa berat itu
Pada tanah tempat kita semestinya berpijak bersama

Aku membasuh diriku pada laut
Berkali-kali setelahnya
Berkaca pada aliran sungai
Di Elo Progo
Di Sanamberi
Hanya untuk mengingat segala cara mencintaimu
Dan juga yang lain

Karena cara kita saling mencintai
Adalah sekian cara semesta
Mencintai segala

Dan kita bukanlah milik yang lain
Selain diri kita masing-masing

Dan dalam kedirian kitalah
Kita menyatu
Selalu

Seperti hal lainnya di dunia ini
Dualitas yang memisah
Namun satu

Jakarta, 8 Juli 2014