Ekor Ikan di atas Danau Phewa

Setelah satu bulan perjalanan

Dadanya mendadak sakit di sebelah kiri

Dan semalaman kau diminta memeluknya

Hingga kesedihan pergi

dan air mata menguap

seperti butir-butir es yang menghujam atap di bawah bukit Archagaon

 

Seperti rindu

Pucuk cinta berjatuhan seperti salju

Mencapai tanah dan akhirnya mencair jua

Sekian tembok di dadamu telah runtuh setahun yang lalu

Kau tak perlu menengok tembok Cina untuk tahu

betapa tebalnya itu semua

Jauh sebelum semua ini berlalu

 

Musim dingin akan datang

Dan topan telah membuat segalanya bergeletakan

Mengundang kematian dan ratapan

 

Dadanya bergemuruh di bahwa siraman air panas

Air matanya mengalir seperti arus Sanubheri

yang tak tertahankan

 

Kau ingat betapa dinginnya air sungai di Himalaya

Bagai tusukan duri es yang seolah akan memerangkap isi kulitmu

Yang hanya manusia

 

Namun tusukan di dada

seperti kecupan yang tak kunjung reda

Di antara musim yang berdatangan

 

Sebagaimana tangisanmu

yang mencairkan segala kebekuan

di puncak-puncak gunung salju

 

Dan di sela mentari pagi

Ia selalu membangunkanmu

Untuk selalu melihat ke arah cahaya

Tatopani

Karena musim semi yang lain

telah menembus awan dan menerangi dinginnya salju di pucuk gunung

dan udara pun berubah

Anggur telah kita reguk

Di tengah mata air panas yang memuncar

Karena ini adalah peperangan

di masa yang lain

Di musim ini udara perdamaian menjadi pekat

Dalam gelapnya kicau manusia

Karena peperangan terbesar adalah peperangan di dalam diri

Antara gelap dan terangnya kita sendiri

Antara sekian usaha untuk mempelajari

Ilmu membelah diri dan menyatukannya kembali

Dan di bebatuan yang ikut beterbangan

menuju Muktinath sebelum ini

Dalam dinginnya 108 pancuran

Karma telah kita cuci

Menuju jalan dharma

Lalu para burung melintas di atas kuil

Di Tatopani diri kita diuji

Untuk melempar segala amarah dalam kedalaman Kaligandaki

Seringkali mata kita berbicara

Akan cerita roh-roh masa lalu yang membimbing kita

Untuk mencapai gunung-gunung salju itu kembali

Di musim yang lain

Di Bawah Kepak Burung

Di Patan kau berkata

Seseorang dapat saja baru jatuh cinta pertama kali

Pada usia tiga puluh tahun

Seseorang itu tertawa

 

Kepak burung menggema menggetarkan langit sore itu

Di suatu malam kau pernah membasuh tangis

Dan di bawah hujaman siraman air, kau menangis tersedu-sedu

Seseorang itu bertanya kenapa

 

Jika sebuah pelukan dapat menyembuhkan luka

Itulah yang dilakukannya

Dan dalam satu tetes mata laki-laki itu

Kau tahu bagaimana cinta itu menjadi begitu berharga

Terkadang tanpa alasan

Tanpa musim

 

Hanya angin

Yang mengepakkan sayap-sayapmu

Di kala langit membentang

Dan ruang dalam dadamu terasa meluas

 

Kau tahu di mana kau akan mencari jalan pulang

Di Bawah Tatapan Sang Buddha

Mungkin pada akhirnya

Tak akan ada yang mengerti

Bagaimana cara dirimu mencintai

Bahwa bagimu cinta adalah satu bentuk pengabdian dalam hidup

Dan tidak berada dalam hitungan angka-angka kepala manusia

Bahwa cinta datang dalam sekian bentuk yang tak dapat didefinisikan dalam kerangka apapun

Dan ia datang tak bersyarat

 

Bahwa jalan pada dharma

Adalah satu komitmen

Untuk kehidupan semua mahkluk yang lebih baik

 

Terkadang kau menghela nafas

Menatap pada satu tas di punggungmu

Jika ini adalah beban

Ini adalah beban yang tak terlihat

Kau telah merelakan segalanya di suatu waktu

dan semesta mengujimu sepanjang waktu

 

Di depan Boudanath

Kau mengumankan doa

Di bukit Kopan

Kau telah bersiap

Merelakan dirimu sebagai persembahan

kepada Sang Buddha

 

Dalam sekian hitungan kora

Kau mengucapkan sekian mantra

Demi hati yang lebih terang

Dan semakin bening

 

Bahwa kesakitan di jaman Kaliyuga ini

adalah kesakitan akan hati yang enggan terbuka

 

Menatap sekian mekarnya bunga dimana-mana

Walaupun penuh kesementaraan

Walaupun dalam sekian lumpur dan kegelapan

Kelopak dalam hatimu mulai bergeliat

Membuka

Dalam makna kebijaksanaan dan cinta kasih

 

Om Mune Mune Maha Munaye Soha

Om Tare Tuttare Ture Soha

Kathmandu, 18 Agustus 2014

Tara

Setelah hari jadi sang dewa, Krisna, yang kerapkali meniup serulingnya, seorang gadis kecil memakai gaun pengantin berwarna merah. Lengkap dengan tudungnya. Lengkap dengan sepatu sandal sedikit tingginya berwarna hijau stabilo. Ia berputar-putar berkeliaran bersama anak-anak lainnya. Eyeliner hitam di bawah kelopak matanya telah luntur oleh cuaca panas yang memenuhi hari itu. Seolah ia menangisi dirinya dengan air mata kehitaman. Cemong di mukanya tidak mengurangi tawa kekanakan di wajahnya. Serombongan perempuan Cina muncul di depan antrian, memakai sepatu berhak sungguh tinggi dengan glitter ekstra yang mengalahkan sekian kerlip bintang di langit siang.

Tara sekejap menjadi silau akan pemandangan di penjara itu. Terkadang ia merasa ingin kembali ke kamarnya dan mengambil kamera. Tidak ada seorangpun yang akan percaya dengan pemandangan penuh cahaya yang sedikit menyakitkan itu. Namun ia menghela nafas, menjawab semua pertanyaan petugas dengan santai. Ia tak mengerti bahasa yang mereka bicarakan namun ia mengerti maksud mereka. Akhir-akhir ini ia tidak begitu membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi.

Dan mata Hans seolah semakin nyalang setiap kali ia melihatnya. Bagai macan yang terkurung, setengah mati menyembunyikan taringnya yang sesungguhnya di balik jeruji. Namun segalanya sebenarnya cukup tenang. Hans membawa buku notes kulit yang didapatkannya di Bandung dan ia memakai kalung perak dengan bandul teratai yang hampir hilang di Sanur pada kala purnama yang terakhir. Ranmu membantunya menemukan kalung itu. Membantu Tara menemukan bagian jiwanya yang hilang di suatu waktu.

Malam tiba dan ia tengah membaca surat-surat Hans padanya. Sekian mimpi buruk dan mimpi baik yang dibaginya halaman demi halaman. Juga cinta. Tara kerap kehilangan kata. Namun ia membalasnya. Tak mengindahkan apapun selain kesementaraan dan masa sekarang.

Kathmandu, 9 Juni 2014

Hans

Dia tidak memimpikan akan kembali menemukan perempuan itu di perjalanan di atas langit. Ketika pesawat baru saja lepas landas untuk menuju kota ini. Ia ingat benar setahun yang lalu. Ia memantau gerak geriknya di pojokan sebuah kafe. Rambutnya kala itu masih pendek setelinga, namun senyumnya lebar dan ia langsung menyukainya. Pipinya bersemu merah dan ia mengetahui bahwa itu adalah karena cinta. Caranya menatap laki-laki di sebelahnya. Ia hanya terdiam mengamati mereka. Berkomentar hanya jika ia merasa diminta.

Namun sore itu, perempuan itu menyebutkan namanya dari sebelah kiri lorong tempat duduk pesawat. Ia juga sama tidak percayanya. Ia tidak percaya kebetulan, namun ini sedikit keterlaluan. Astaga, Tara. Ia setengah berguman. Ia segera mengambil tempat duduk di sebelahnya, ketika orang di sebelah perempuan itu dengan tahu diri segera berpindah ke tempat duduk lainnya karena penerbangan malam itu tidak terlalu penuh. Juga karena mereka berbicara sedikit terlalu keras. Ia tidak peduli, dengan segera ia memeluknya.

Ada sesuatu dalam pelukannya. Ada sesuatu yang rapuh, mungkin juga pecah. Ada sisa tangis dalam lekuk wajah perempuan itu. Ia tidak menanyakan. Ia hanya mengerti, walau sedikit menebak. Entah mengapa ia ingin mengusap kepala perempuan di sebelahnya ketika ia menangkap rasa sedih mewarnai suaranya. Di penghujung penerbangan, akhirnya ia memberanikan diri mengusap kepala Tara dan menatap dalam-dalam matanya. Perempuan itu hanya tersipu sedikit, tersenyum sedikit malu.

Mereka berjanji untuk bertemu esok hari di pojokan jalan di tengah alun-alun kota. Perempuan itu berjalan duluan dengan tas punggungnya yang tidak seberapa besar. Ia hanya bisa mengirimkan ciuman yang bersayap dari kejauhan di atas tangga sambil melihatnya pergi untuk sekali lagi.

Sampai esok hari.

Sanur, 10 Agustus 2014

Tara

Ia menemukan kalung yang dibelinya untuk Hans terdampar di atas pasir. Ia membelinya di salah satu toko di Jakarta. Kalung hitam dengan desain perak sederhana bertali hitam. Ia memakai gelang yang sama berwarna merah di pergelangan tangan kanannya. Malam itu setelah selesai upacara bulan purnama, Ranmu menemaninya untuk mencari kalung yang tercecer itu. Mereka menjemurnya di atas pasir sekian jam sebelumnya.

Mereka pertama menemukan cincin daun yang dibelinya di Kathmandu dan diberikannya kepada Belle malam itu. Tara masih ingat detik itu, mata Belle yang berbinar seolah tak percaya. Tara tidak hanya memberinya cincin daun, ia menitipkan sekian harapan atas Ranmu kepada Belle.

Malam itu, Tara hanya memeluk Ranmu dan memijat punggungnya seperti biasa. Menutup luka-luka mereka, membasuhnya dengan harapan. Ia melepaskan Ranmu, sekian kali lagi. Tidak untuk selamanya. Karena keluarga sejiwa akan selalu kembali, seperti ombak tenang yang selalu menyapa kedua telapak kakinya ketika berjalan di atas pantai.

Satu minggu kemudian, Tara tahu ia akan memimpikan Ranmu di Kathmandu.